Catatan Harian Orang Jahat

Senin, Januari 2016

Semalam saya memimpikan mantan kekasih saya mati bersimbah darah di kamar kosnya. Berita berita nasional mengangkatnya sebagai headline karena dia mati bersimbah darah, perut terkoyak-koyak, dada rompal, bola matanya hilang sebelah, dan sebelah tangan dan kakinya hampir putus. Pembunuhan macam itu hanya bisa dilakukan oleh hewan buas atau gergaji mesin. Ternyata memang ada hewan buas di kamar kos mantan kekasih saya itu. Seseorang telah mengirimkan harimau kelaparan ke dalam kamarnya. Kemudian polisi menciduk saya karena diduga saya lah pelaku tunggal. Saya lah pemilik harimau kelaparan itu. Tangan saya diikat ke belakang dan saya diborgol. Harimau itu sudah mati pula. Mungkin karena makan makanan busuk. Ya, tubuh mantan kekasih saya itu. Akhirnya harimau saya mati. Dan saya dibawa ke jeruji besi. Saya kemudian terbangun dengan perasaan sedih. Karena mantan kekasih saya mati dan itu hanya mimpi. Tapi ada pula rasa senang kalau itu hanya mimpi. Artinya, saya tidak jadi dipenjara. Kemudian timbul lagi rasa sedih. Karena itu artinya saya tidak pernah memelihara hewan buas.

Selasa, Januari 2016

Saya berdiri di atas peron jalur dua Stasiun Tanah Abang. Keramaian membludak. Banyak sekali orang-orang. Kenapa orang-orang itu banyak sekali? Seperti jumlah laron yang mati terinjak-injak di lantai warung bakso di gang sebelah. Bagaimana bila manusia itu seperti laron di warung bakso itu? Diinjak-injak, mati, dan gepeng begitu saja. Dan dunia ini, hanya warung bakso di sebuah gang.

“Woi awas!” teriak petugas kereta api gara-gara banyak orang nyebrang ketika kereta mau lewat. Kadang saya berpikir beruntungnya bukan saya yang jadi petugas kereta itu. Karena kalau saya, mungkin sudah saya biarkan mereka itu. Saya biarkan dan menunggu tragedi apa yang akan terjadi siang hari ini. Kereta menubruk gerombolan dan gerombolan itu seperti laron di lantai warung bakso. Saya cuma berharap tidak ada sanak keluarga dan kerabat dalam gerombolan yang menyebrang itu.

Rabu, Januari 2016

Hari ini sialnya saya ketemu teman lama saya waktu sekolah dulu. Dia semakin cerewet hingga beruang mati di kutub utara pun dia bicarakan. Sekarang dia sudah mapan. Punya rumah di real estate, mobil fortuner, kolam renang, motor Harley, dan hewan buas di belakang rumahnya. Saya tidak terkejut apalagi iri. Toh, dari dulu sekolah kan bapaknya sudah ketahuan korupsi, nah kalau sekarang beliau itu sudah bebas dan bisa bangun kekayaan lagi. Oh iya, dia cerita juga kalau punya tanah dimana-mana jadi sekarang dia bisa ongkang-ongkang kaki, pakai kolor doang, dan jalan-jalan ke mall sama istri dan anak-anak tercinta. Dia ceritakan itu seakan-akan dia orang paling bahagia di dunia. Lah kok bisa? Terus dia sesumbar begini “Saya amal banyak, ke mana-mana, jadi saya yakin tidak bakal melarat. Nggak mungkin banget deh. Kau tertarik nggak tanam saham di perusahaan saya?” dia nanya begitu. Saya cuma senyum terus pamit pulang. Jabat tangan, tersenyum, sembari berkelakar “Boleh nanti kalau kamu bangkrut!” dia tertawa saja.

Di jalan pulang ke rumah saya membayangkan kalau teman saya yang kaya itu tiba-tiba tersangkut kasus penipuan atau korupsi dan jadi buronan polisi. Anak istri ditelantarkan, diintrogasi polisi. Hidup tidak tenang. Perusahaan kanan kiri bangkrut. Relasi habis dan malah menusuk dari belakang. Dan terakhir jadi melarat. Roda hidup itu berputar, bung! Dan biarkan roda itu melindas kau punya cangkem!

Kamis, Januari 2016

Pulang liputan dari Pelmerah, saya langsung nulis berita. Tengah malam begini baru sempat merenung-renung. Lewat pasar palmerah tadi ada belasan tandan pisang dibungkus-bungkus koran kayak mayat dikafani. Iseng lah saya berpikir, bagaimana kalau di dalam itu ternyata orang? Dan penjual itu merupakan pembunuh bayaran yang berkedok penjual pisang? Dan di salah satu bungkusan itu ternyata ada mayat (bukan) teman saya yang cerewet atau mantan kekasih saya? Atau muka muka koruptor? Atau muka bos saya yang licik? Ah sudah lah, pikiran begini kalau dibiarkan muncul, nanti saya bisa mimpi mantan saya mati berdarah-darah kayak Senin lalu.

Jumat, Januari 2016

Pagi ini saya sudah dibuat kesal oleh ribuan pendemo yang turun ke jalan. Jalanan mampat. Macet di mana-mana. Bangsat! Saya ada liputan pagi-pagi sama orang penting. Akhirnya saya parkir mobil di pinggir jalan dan jalan kaki bareng pendemo itu. Orang-orang banyak kayak gula pasir tumpah di dapur. Lagi jalan itu, saya membayangkan, bagaimana bila salah satu dari mereka ada teroris yang meledakkan diri di tengah kerumunan massa? Mereka akan terpental dan darah di mana-mana. Persis kayak laron mati yang diinjak-injak di lantai warung bakso gang sebelah. Tiba-tiba saya hanya ingin berjalan cepat-cepat. Dan dari kejauhan itu saya ingin dengar suara ledakan. Tapi sampai di lokasi janjian dengan orang penting itu, tidak ada suara apa-apa dan tidak terjadi apa-apa. Saya kecewa. Kekecewaan itu bertambah tatkala saya bertemu teman lama saya. Pekan yang payah.

Dia cerita kalau dia baru menikah tiga bulan lalu. Minta maaf karena tidak mengundang saya. Lupa katanya. Bagus deh, saya tidak perlu melihat dua orang bahagia di atas panggung cengar-cengir. Saya juga tidak perlu mendengar dia bercerita tentang pengalamannya menikah, sebenarnya. Tapi dia ngomong mulu kayak laron. Muka dia merah sambil sungging senyum lebar. Cerita kalau bininya enak, penurut, cantik, semok, bohay, kalau udah di ranjang, ‘beuuuhh…’ Saya mau bilang kalau saya tidak perlu mendengar anda bercerita tetapi tidak enak, kan namanya teman, jadi saya cuma bilang begini, “Wah, gue nggak sabar nunggu cerita lo tiga tahun lagi.”

Saya cuma pengen dia tahu kalau waktu itu bisa mengubah apa pun. Dan pejabat sialan itu baru datang satu jam kemudian. Wajar kalau korupsi duit, waktu aja dibuang-buang!

Sabtu, Januari 2016

Pulang liputan sengaja saya mampir foodcourt di mall. Lagi pengen saja, tiba-tiba kangen sama mbak-mbak yang jual dimsum, entah pertanda apa. Ya sudah saya beli dimsum satu porsi seharga Rp11.000 yang saya bayar pakai uang Rp100.000, dia tanya, “Mas ada duit pas nggak?” katanya ketus. “Wah enggak ada mbak,” “Yah. Yaudah bentar kembaliannya” kata dia lagi dengan muka ketusnya. Terus dia kembali ke kios dan nyari duit buat kembalian duit saya sambil masih masang muka asemnya itu. Saya pingin tertawa kok ya ndak enak. Jadi ini alasan saya kangen mbak-mbak dimsum? Mungkin karena kebanyakan berpikiran jahat, jadi saya kena batunya. Sekeliling saya ramai orang memadu kasih. Saya lupa kalau ini Malam Minggu. Waduh, kampret tenan! Saya buru-buru habiskan dimsum dan pulang. Di sekeliling foodcourt itu sepasang kekasih jumlahnya ngalahin korban bunuh diri di Arab Saudi, kayaknya. Banyak banget. Ada yang gandengan, ada yang rangkulan, ada yang makan sambil diem-dieman, ada yang ngobrol cekakak-cekikik, ada yang mau gumoh. Ya, yang mau gumoh itu saya. Sudah tau enek, saya malah makin jadi melihat sepasang sepasang itu satu per satu. Lihat muka ceweknya, lihat muka cowoknya sambil bergumam, “Halah, paling besok udah nggak gandengan. Halah paling besok putus. Halah itu lihat aja muka ceweknya minta putus gitu. Haduh mbak, nggak ngeliat itu cowoknya bosen? Lho, lho mbak lihat tuh cowoknya matanya kemana-mana! Aduh goblok banget, udah ketahuan itu cewekmu cuma mau morotin doang!”

Minggu, Januari 2016

Libur. Libur. Libur. Libur dari berpikiran jahat. Namaste dulu sama kopi, buku, musik. Kopinya kapal api, bukunya Charles Bukowski, musiknya Leonard Cohen lagi putar lagu Bird On The Wire. Nikmat mana lagi yang kau dustai wahai pengeluh ulung? Tiba-tiba saya mulai menyelami hari-hari kemarin. Banyak pikiran-pikiran jahat terlintas begitu saja tanpa dimau ataupun dimau. Tiba-tiba saya kepikiran Ratih, pegawai marketing baru yang punya senyum ayu biyanget! Saat mikirin Ratih itulah, sepenggal lirik ini muncul begitu saja seperti pikiran jahat lainnya:

“If I, if I have been unkind
I hope that you can just let it go by
If I, if I have been untrue
I hope you know it was never to you.”

Sebuah pesan buat jodoh saya kelak.

 

 

Depok, 12 Februari 2017

Sebuah Percakapan Laknat Dua Orang Jomlo di Hari Ulangtahun Salah Satunya

“Hari ini ulangtahun gue. Dan mantan gue yang masih sangat gue cintai lagi makan enak di Richesse bareng pacar barunya. Coba sebutin, ada nggak yang lebih tai daripada ini?”

“Merayakan ulangtahun tanpa punya uang?”

“Yap. Benar. Lo mau gue traktir apaan?”

“Hmm… seafood, maybe. Tapi kopi dan kentang goreng juga boleh.”

“Ide bagus. Ayo, cabut!”


“Bob Dylan pernah bilang, sometimes life must gets lonely. Tapi ini lonely-nya kelamaan anjir….”

“Kan gue udah bilang, lo cari aja yang baru. Nggak usah nungguin dia. Nggak akan balik ke lo.”

“Susah emang kalau curhat sama orang nggak percaya sama takdir.”

“Yes I am. Otak lo aja yang masih lawas!”

“Takdir nggak mengenal usia, fyi aja sih…”

“Alah kuno. Liat aja playlist lo tuh. Semua music taun 60’an masih nyangkut di sana. dan lo betah dengerinnya.”

“Good music always be good. Musik sekarang sampah.”

“Nggak semua sih. Tapi lagu lagu lawas lo tuh, aduh…. Berasa nginep di kuburan gue tiap dengeriinya.”

“Bangsat lo. Berisik.”

[Ketawa]

[Ketawa]


“Menurut lo gue jodoh nggak sih sama dia?”

“Nih ya, lo dengerin. Orang yang udah pergi dari lo itu Cuma punya dua pilihan: satu, bener bener pergi dan bukan buat lo. Dua, dia bakal balik lagi dan nyakitin lo kemudian.”

“Bera. Lo kebanyakan disakitin anjir.”

“Engga. Ini realistis aja gue. Biar lo nggak masuk lumpur buat beberapa kali.”

“Lawas quote lo!”

“Bangsat!”

“Serius gue. Gimana ya, I feel magic with his eyes. Gue nggak bisa ngelupain segala hal yang pernah gue lakuin sama dia meski itu hal sepele.”

“Kebanyakan cangkem. Magic is bullshit, you know. Lo nggak bisa lupain karena lo membiarkan dia tetep hidup di kepala lo.”

“Gitu?”

“Iyalah. Jelas.”

“Terus bikin dia mati dari kepala gue gimana?”

[Ketawa]

“Kenapa ketawa lo anjir?”

“Nggak. Gue baru sadar lo goblok banget aja.”

“Ye bangsat.”

“Ya lo tinggal matiin aja. Anggap dia udah nggak ada. Gampang kan?”

“Monyet, nggak segampang itu ya.”

“Ya, lo kan bisa ngarang. Lo ngarang cerita aja buat diri lo sendiri kalau dia udah mati. Nggak bisa diharapin lagi. Atau anggap aja lo bener-bener nggak pernah ketemu dia.”

“Nggak bisa lah benga.”

“Dia aja bisa anggap lo nggak ada, kenapa lo nggak bisa? Simpel kan?”

“Ya….mungkin dia sibuk.”

“Sibuk sama siapa? Pacar barunya? Sibuk bahagia maksud lo?”

“Yeee mulut nggak ditatur itu!”

“Lo buang-buang waktu lo buat ngeluhin dia. Lo buang-buang waktu lo buat memandang punggung dia. Bahkan lo kayak orang bego, nggak sadar kalo dia nggak bakal noleh lagi ke lo.”

“Anjir. Sakit ya.”

“Sakit emang, but your life isn’t disaster yet.”

“Ya terus apaan dong?”

“Yaaa apa ya. Sampah kali. Apa drama sedih.”

“Alah bera lo punya cangkem!”

[Ketawa]

“Jadi gue sama dia nggak jodoh nih?”

“NGA!”

“Hm. Okay. Yaudah, kita omongin yang lain aja.”

“Apaan?”

“Tentang gebetan lo aja yang sipit cakep itu dan tidak bakal tergapai.”

“Bangsat lo punya cangkem!”

[Ketawa]

[Ketawa]

“Yaudah. Ngomongin pacar mantan gue yang…yah… ayo kita lihat foto terbarunya. Jangan ngakak ya. Jangan. Pokoknya jangan.”

“Bangsat ini apaan dah?”

[Ngakak] “Anjirr…”

[Ngakak]

“Laper nih gue.”

“Makanya jangan ngetawain orang mulu. Pesen dimsum aja ayo.”

“Ayo.”

“Anjir ngantri panjang banget kayak ngantri sembako pas mao lebaran.”

“Life. If you want something, go for it till it hurts.”

“Alah quote tai!”

 

Tamat

Lelaki Penjaga Pintu

Sabtu adalah hari yang sibuk, begitu juga dengan Minggu. Ya, Minggu, hari ini. Bagi Roni semua hari sama saja. Sama-sama sibuk dan macet. Kecuali saat dia libur. Entah itu hari Kamis, Rabu, atau Jumat? Dan dia lebih senang kalau hari liburnya itu hari Senin. Ya, karena dengan libur di hari Senin dia bisa berpergian pukul sepuluh pagi tanpa kena macet. Pergi ke mall, ke toko buku, gerai musik atau film, atau sekadar ngopi ganteng di kafe tanpa keramaian yang tidak berarti.

Namun sayangnya, hari ini bukan Senin. Hari ini Minggu dan dia harus segera berangkat. Segera bertugas. Bukan jalan-jalan. Dan sayangnya lagi, Senin besok bukan hari liburnya. Jadi, pagi itu dia berangkat bertugas. Seperti biasa, masuk ke ruangannya dan duduk di kursi. Kursi yang juga diduduki orang lain ketika dia tidak dalam masa tugas atau ketika dia libur.

Roni bekerja sebagai penjaga pintu tol. Menerima kartu tol atau uang, memberikan kembalian (bila ada), dan membuka pintu tol. Jangan lupa tersenyum dan terima kasih. Bila perlu dan bila ada yang menanyakan kondisi lalu lintas di dalam tol, dia akan segera menginfokannya.

“Lancar, Pak. Silakan.”

Atau

“Macet, Pak. Tadi pagi ada truk terguling.”

Walaupun terdengar sederhana, pekerjaan Roni sebenarnya rumit juga. Bayangkan saja, bila dia tidak tangkas, kendaraan akan mengular lebih panjang, dan tak jarang telinganya merah karena keluhan-keluhan pengguna yang kadang lupa beretika. Dan yang lebih rumit dari itu sebenarnya adalah keinginan Roni sendiri.

Ya. Selama bekerja hampir dua tahun, Roni hanya ingin satu. Satu yang paling rumit dan yang paling jarang. Dia hanya ingin menemui seorang pengendara yang menyetel lagu favoritnya. Tentu saja mudah apabila Roni menyukai lagu dangdut yang sedang hits atau lagu-lagu pop kekinian. Tetapi sayangnya Roni hanya suka satu jenis musik. Dari sebuah band yang sepertinya sudah bubar. Dan satu lagu. Satu lagu yang jarang sekali didengarkan orang di kota tempat dia bekerja.

Perbandingannya, bila anda bicara soal statistik adalah 3:100, atau kalu di persentasikan menjadi 3% dari 100%. Tapi lupakan persentasi. Masalah Roni sebenarnya adalah mimpinya tiga bulan lalu. Mimpi aneh yang tidak perlu diomongkan tetapi membuat dia begitu terobsesi dan tambah sedikit bersemangat untuk memulai kerjanya. Masalahnya adalah, akan nyata kah mimpinya?

Kita semua tahu, kadang mimpi hanya bualan. Impian tak sampai. Atau omong kosong orang mengantuk. Tetapi dari dulu, Roni selalu percaya mimpi. Berkat buku-buku teenlit yang diabaca. Berkat quote-quote cinta yang ditulis para pengarang. Berkat lirik-lirik sendu musik kesukaannya. Berkat film-film romantis yang pernah diatonton bersama mantan kekasihnya.

Mantan kekasihnya bernama Amalia. Amalia yang kulitnya sawo matang cemerlang, Amalia yang matanya seperti kelereng, Amalia yang hidungnya mancung seperti orang Arab, Amalia yang bibirnya merah kehitam-hitaman karena dia merokok, Amalia yang giginya agak kuning karena sering minum kopi, Amalia yang tubuhnya tinggi semampai seperti model victoria, Amalia yang kalau makan apa pun tidak akan pernah gendut, Amalia yang tertawa menyerupai biskuit pagi Roma Kelapa. Renyah.

Amalia bekerja di toko kue sekarang. Dulu, selama hampir dua tahun berpacaran dengan Roni, Amalia bekerja sebagai pegawai di gerai musik dan toko buku paling besar di kotanya. Karena Amalia, Roni menyukai musik barat seperti The Script, Yellow Card, My Chemical Romance, atau Creed. Karena Amalia dia menyukai buku-buku romantis macam buku terbitan Gagas Media, atau buku-buku konyol seperti buku Raditya Dika. Dia senang yang romatis-romantis seperti di film, di buku, atau di lirik lagu. Bukan hanya Roni, tetapi Amalia pun begitu.

Mereka berdua menciptakan sinopsis sendiri. Mereka berdua menciptakan alurnya sendiri. Menciptakan soundtrack-soundtrack yang diambil dari lagu-lagu favorit mereka berdua. Menciptakan konflik cerita sendiri. Dan menciptakan akhir, yang juga sendiri. Akhir yang tidak seperti di film. Akhir yang tidak seperti di buku-buku cinta. Akhir yang tidak bermelodi seperti musik-musik favorit mereka.

Roni dan Amalia berpisah. Tragis. Roni menemukan Amalia chatting dengan pria lain. Dengan nada mesra dan emotikon senyum. Roni tidak terima, Amalia juga tidak terima kalau Roni mengganggu ruang pribadinya. Roni minta putus. Amalia menyetujui. Begitulah perjanjian tidak tertulisnya. Diam-diam Roni menginginkan Amalia tetap mempertahankan hubungan. Diam-diam Amalia menginginkan Roni mengejarnya lagi.

I wish you could stay, bisik Roni dalam hati.

You said you love me, and then why’d you go away? Bisik Amalia.

I want you to stay, bisik Roni dalam hati.

I want you to run for me, bisik Amalia dalam hati.

She’s gone, she’s really gone, bisik Roni.

He never loves me. He lies, bisik Amalia.

Mereka berdua kembali tenggelam. Dalam buku cinta, dalam film romantis, dalam lagu-lagu sendu. Tetapi tidak lagi berdua. Mereka tenggelam dalam lautnya masing-masing. Menatap jendela kamar, jendela dekat ruang tamu, dan sering melamun bila hujan datang.

Roni sering menatap jendela bila hujan, dan membayangkan Amalia sedang bersamanya sekarang. Atau membayangkan Amalia merindukannya. Atau membayangkan Amalia memulai chat duluan di BBM. Ah, tetapi tidak mungkin, pikir Roni. Dia kini pasti sedang sibuk chatting sama teman lelakinya yang kemarin kupergoki, sangka Roni. Dan dia akan tetap menatap jendela dan hujan. Sampai benar-benar reda atau sampai dia mengantuk.

Beda lagi dengan Amalia. Amalia lebih sering menatap pintu. Menatap pagar rumahnya. Akan segera bangkit dari duduk ketika ada suara motor bebek dan kemudian kecewa karena motor itu bukan suara motor Roni, melainkan motor baru tetangganya. Amalia sering membayangkan apabila Roni akan datang ke rumahnya, membawa seikat bunga, cokelat, atau es doger kesukaannya, meminta maaf, dan mengajaknya kembali. Kembali ke pelukan Roni. Amalia sering melihat layar smartphone, sering membuka BBM tanpa sebab dan tanpa ada satu pesan pun dari Roni.

Tetapi tidak ada yang terjadi di antara keduanya. Tidak ada lagi.

Amalia sudah move on dan berpacaran dengan teman di tempat kerja barunya di toko kue. Sedangkan Roni masih mengingat jejak Amalia dengan baik. Masih suka menonton film romantis kesukaan mereka berdua sendirian. Masih suka mendengar soundtrack lagu mereka berdua sendirian saat pulang kerja. Tapi berbeda dengan selera bukunya. Kini Roni lebih senang membaca buku Robohnya Surau Kami, A.A Navis, Siti Nurbaya, buku-buku Ayu Utami, buku-buku Okky Madasari, buku-buku Pramoedya Ananta Toer, buku terbitan mojok, buku Yusi Avianto, atau bukunya Martin Suryajaya.

Lama kelamaan selera film dan musik Roni juga berubah. Roni lebih suka film romantis berakhir tragis seperti 500 Days Of Summer. Dia juga lebih menyukai lagu-lagu di dalam film itu seperti The Smiths. Tragis tapi happy. Happy tapi tragis. Ya, kan begitu hidup. Tidak selalu bahagia, tidak selalu tertawa. Kadang harus juga sedih. Kadang harus juga menangis. Nikmati kesedihan itu selagi bisa merasa.

Tidak ada lagi Amalia dalam hidupnya. Tidak ada lagi romantis-romantisan macam di film roman kacangan.

“I’m a rock, I’m an island!”

Karena batu tidak merasakan sakit terluka, karena pulau tidak pernah menangis. Lagu dari Simon and Garfunkel. Lagu yang menggambarkan kondisi dirinya akhir-akhir ini.

***

Minggu itu Roni bekerja seperti biasa. Melayani pengguna tol. Mengambil kartu tol/uang – memberi kembalian (bila ada) – membukakan pintu tol. Sejauh ini belum ada yang menanyakan kondisi lalu lintas di dalam tol.

Seperti biasa pula, pengendara yang lewat hampir tidak ada yang menyetel musik. Paling banter radio dari Gen FM atau Prambors. Atau kadang ada yang nyetel dangdut koplo atau tembang jawa. Itu pun kurang terdengar karena volumenya diset pelan.

Pukul sebelas malam. Tol hampir lengang karena besok Senin dan orang-orang harus bangun lebih pagi. Seorang perempuan membuka kaca mobil dan menyerahkan kartu tol. Roni mendengar suara yang familiar.

“Mas, arah Cawang macet nggak?” tanyanya. Tapi Roni terbengong.

Didengarnya lagi. Dipertajam lagi pendengarannya. Benarkah?

Take me out tonight.

“Mas?”

“Eh. Nggak macet, Mbak. Lengang.”

“Oh. Kirain ada truk terguling lagi. Atau bis tabrakan. Seperti…” kemudian perempuan itu menggumam: ‘if the double decker bus crashes into us’.

Roni membuka pintu tol. Dan mobil merah perempuan itu melaju kencang begitu saja.

To die by your side is such a heavenly way to die.”

Roni melanjutkan dalam hati. Ketika perempuan itu sudah pergi. Jauh. Bahkan dia tidak tahu nopol kendaraannya. Atau bahkan nama. Atau bahkan menanyakan dia,

Are you Summer? I dreamt of you three months ago.”

Kemudian kelengangan itu pecah,
Oleh bunyi-bunyi klakson yang tidak pernah tahu cara bersabar.


 

Depok, 21 Desember 2016
2:53 PM

Mimpi Buruk Raja Zein

Hari itu Raja Zein tidak bisa tidur siang seperti biasanya. Semalam dia mimpi buruk. Dia mimpi kepalanya dipenggal orang tak dikenal. Tangan dan kakinya diikat pakai tali plastik murahan. Kepala yang dipenggal itu kemudian dibawa pulang si pemenggal dan badannya dimasukkan karung dan dilarungkan ke sungai di belakang istananya.

Raja Zein tiba-tiba teringat sesuatu. Sesuatu yang mengerikan. Sesuatu yang meremangkan bulu kuduknya. Sesuatu yang, ah, sudahlah. Dia terlalu lelah membaca berita-berita di gawai, dia terlalu lelah memikirkan rakyat-rakyatnya selama hampir enam jam lamanya. Dia mengantuk. Tapi badannya selalu grasak-gurusuk. Muter-muter. Dia takut mimpi buruknya berlanjut lagi. Dia takut melihat kematian dirinya sendiri, meski itu dalam mimpi.

Rakyat Gole-gole hari itu sama saja dengan hari biasanya. Adem-ayem. Tentram. Tidak ada yang mengganggu ketentraman Rakyat Golegole meski di dalam istana, Rajanya tidak bisa tidur siang. Rakyat Golegole sesiang ini masih wajar. Ada yang memasak makan siang, ada yang bekerja, ada yang menumbuk padi, ada yang menanam padi, ada yang menonton tv, ada yang menyetel musik, ada yang menyeduh kopi, dan ada yang tidur siang dengan nyenyaknya. Sayangnya itu bukan Raja Zein. Raja Zein sedang gelisah.

Akhirnya Raja Zein terlelap juga. Terlelap pada saat pukul dua siang. Jadwal tidur siang yang telat. Raja  Zein biasanya tidur tepat tengah hari bolong. Setelah makan dua porsi lidah sapi panggang dan satu porsi kepala babi Zimbabwe. Babi paling enak di seluruh negeri Golegole yang hanya bisa dinikmati Raja Zein seorang. Dan istri yang setelah itu nguik-nguik di kamar mandi demi mengeluarkan seluruh isi perutnya. Dan anak-anak Raja Zein yang gemuk-gemuk bagai sapi impor.

Tidur siang Raja Zein ternyata tidak nyenyak-nyenyak amat. Pukul setengah empat sore dia mendadak terbangun dengan badan basah kuyup kemringet dan wajah pucat pasi. Istrinya yang sedang tidur di sebelahnya juga mau tak mau ikut terbangun. Dan menanyakan, apakah ada sesuatu yang buruk? Apakah kau mimpi buruk, sayang? Tetapi Raja Zein diam saja. Dia bangun dari kasurnya yang empuk dan mewah yang di pinggir-pinggir kasurnya terdapat besi berlapis emas 23 karat. Raja Zein langsung menuang segelas anggur putih 200 tahun lalu dari Swedia. Glek, glek, glek… tetapi bayangan di mimpi itu belum hilang.

“Aku merasa aku akan digulingkan, istriku. Aku merasa saya akan dibunuh. Dan kau dan anak-anak kita akan dibakar,” kata Raja Zein.

Istrinya melotot. Antara bertanya-tanya dan ngeri.

“Apa yang sedang kau bicarakan, suamiku? Sejak kapan Raja bisa merasa? Ada-ada saja. Hal buruk semacam itu tidak akan terjadi. Kau memegang tampuk kekuasaan. Kalau ada hal yang akan mengancam jiwa kita, kau tinggal kerahkan prajurit Golegole yang perkasa itu. Tidak mungkin itu terjadi.”

“Istriku, hal buruk adalah suatu kemungkinan yang mungkin terjadi. Apapun itu. Bukan tidak mungkin kalau kepalaku, kepala raja, dipenggal dan jadi pajangan di rumah orang miskin. Rumah rakyat!”

“Kau itu ngomong apa? Rakyat Golegole mana yang akan berani memenggal kepala? Kau hanya mimpi buruk.”

“Tidak…tidak. Ini nyata, istriku. Dan rakyat yang memenggalku adalah rakyat yang memberontak. Ya, rakyat yang memberontak.”

“Tidak usah macam-macam. Sekarang mandi saja. Sudah sedia sarsaparilla hangat untuk kau mandi. Aku akan minta pelayan membuatkanmu daging cendrawasih dan darah buaya supaya kau bisa tenang.”

“Baiklah. Terima kasih, istriku.”

Raja Zein kemudian mengangkat tubuhnya dari kasur dan meninggalkan istrinya. Dia pergi ke kamar mandi dan merendam tubuhnya dalam bath tub berisi sarsaparilla hangat. Lumayan. Tetapi tidak melupakan bayang-bayang hitam di dalam mimpinya. Bayang-bayang hitam yang menyelundup ke istana dan memenggal kepalanya dengan mudah. Semudah dia mengangkat bokongnya.

Masih terbayang kilatan samurai itu di matanya ketika dia sedang memotong-motong daging cendrawasih dengan pisaunya. Kilatan samurai yang dengan gampang memutus leher dan kepalanya. Kilatan samurai yang kelihatannya sangat ringan untuk menebas lehernya. Dia memotong kepala cendrawasih itu dan tiba-tiba tangannya berhenti. Ia membayangkan apabila kepala cendrwasih itu adalah kepalanya. Dan pisau makan itu adalah samurai. Dan dirinya itu adalah si bayang-bayang hitam. Si pemenggal.

“Ada apa, Tuan? Apa kepala cendrawasihnya terlalu alot?” tanya pelayannya. Dia tidak menggubris. Dia malah memerintahkan untuk membuang kepala cendrawasih itu. Ke mana pun.

“Di mana kau buang itu kepala cendrawasih, hah?” tanyanya ketika pelayan itu kembali berdiri di samping meja perjamuannya.

“Ke sungai, Tuan.” Glek. Bulu roma Raja Zein meremang.

Apakah mimpi itu? Apakah….

Apakah pelayan ini nanti yang akan memenggal kepalanya dan membuangnya ke sungai di belakang istana? Apakah ini wangsit? Apa….

Hari itu juga pelayan yang membuang kepala cendrawasih ke sungai dipecat. Pelayan itu tidak tahu apa-apa. Tidak tahu alasan mengapa ia dipecat dan diusir dari istana. Pelayan itu tidak tahu mengapa ia dicampakkan setelah selama hampir separuh hidupnya ia mengabdi di sana. Selama hampir separuh hidupnya ia memasak daging-daging kesukaan raja-raja. Bahkan, sebelum Raja Zein ada.

Bukan hanya dipecat, pelayan itu juga tidak diperkenankan mendekati istana. Prajurit-prajurit di garda depan sudah mencatat dan menghapal wajah, suara, dan lekak-lekuk tubuhnya agar tidak sampai mendekat dan memasuki istana. Pelayan itu tidak tahu mengapa.

Prajurit itu juga tidak tahu mengapa dia harus melarang pelayan itu mendekati istana. Padahal tadinya pelayan itu begitu dihormati prajurit karena dianggap sepuh oleh prajurit-prajurit baru. Pelayan itu juga dikenal baik hati karena suka menyisakan daging-daging yang dia masak ke prajurit-prajurit garda depan.

Tetapi tiga hari setelah pengusiran itu, beredar cerita dari Raja bahwa pelayan itu akan membunuhnya, memenggal kepalanya, dan membuangnya ke sungai. Para prajurit itu bertanya-tanya, saling berpandangan, dan bilang bahwa hal itu tidak mungkin, si pelayan sangat baik. Tetapi apakah di balik kebaikannya ada sesuatu? Apakah diam-diam ia akan meracuni Raja dan memenggal kepalanya? Lama-lama cerita Raja itu dipercaya meski para prajurit itu tidak tahu kebenarannya. Karena Raja yang bicara, maka itulah kebenaran yang sesungguhnya.

Jauh dari istana, pelayan itu kini hanya jadi rakyat Golegole biasa. Hidup di pinggir kota dan bekerja sebagai buruh pabrik. Tetapi tak lama setelah dia diterima jadi buruh pabrik, empunya pabrik ternyata mendengar cerita raja tentang pelayan itu. Maka dipecat lagi lah pelayan itu. Dan pelayan itu tidak pernah tahu mengapa.

Kemudian pelayan itu, sebut saja namanya Dowo, kini bekerja sebagai petani di sawah milik orang lain. Serabutan. Dowo hanya bisa membawa pulang sedikit beras untuk makannya sendiri dan singkong cacat yang tidak laku dijual. Atau kadang-kadang kalau tidak menggarap sawah, dia jadi tukang ojek dari meminjam motor ke tetangganya. Lumayan, dari itu Dowo bisa hidup tentram dan makan meski hanya dengan beras, tok.

Di istana, Raja Zein sakit keras. Dia tidak bisa tidur selama dua bulan belakangan sehingga kantung matanya sudah sebesar bakso rudal. Dia tampak lelah dan kurus karena tidak makan daging selama tiga minggu. Dia hanya mau makan soup ayam, bayam, dan tahu. Seperti rakyat. Kadang, kalau ada, dan kalau dibolehkan, dia makan mie instan. Seperti rakyat kecil.

Mimpi-mimpi Raja Zein semakin jelas. Wajah di mimpinya itu semakin kentara. Dia sudah bisa melihat kepalanya tergantung di pintu rumah seorang rakyat Golegole. Dia sudah bisa melihat tubuhnya hanyut hampir ke muara. Dan wajah itu….wajah si pemenggal…

Dia bukan Dowo. Bukan pelayan itu.

Raja Zein merasa familier dengan pemenggal itu.

Dia merasa de ja vu.

Wajah itu…

Wajah itu…

Wajah itu… Ah, dia ingat.

Itu adalah wajah Woro Geni.

Dia Woro Geni, laki-laki yang tangan dan kakinya ia ikat dengan tali tambang. Laki-laki yang kepalanya dia penggal. Dan tubunya dia larungkan ke sungai.

Woro Geni yang seharusnya menjadi Raja Geni. Bukan Raja Zein.


 

Depok, 19 Desember 2016

Suatu Hari di Rumah Tangga-ku

Dia tidak ingin menyentuhku lagi. Entah mengapa, kini aku menjadi santapan basi untuknya. Berita dua minggu lalu. Atau susu kadaluwarsa. Sebagai perempuan tulen, masih muda, dan cerdas, diperlakukan seperti itu membuatku merasa dilecehkan.

Dia tidak ingin menyentuhku sama sekali. Seakan-akan aku sisik ular yang menjijikkan atau tahi sapi yang tak sengaja dia injak lalu dia limpahkan tahi itu ke atas aspal dengan cara menggesek-gesekkan sepatu ke jalan sampai tahi itu hilang dari sepatunya. Aku seperti tahi sapi. Aku seperti liur anjing.

Dia tidak ingin menyentuhku sama sekali. Hal itu terjadi semenjak dia pulang dari pondokan di sebuah kota di Jawa bagian tengah. Sebulan yang lalu, dia pamit kepadaku ingin pergi mencari tuhan supaya dia bisa mengajariku menjadi hamba Tuhan dan Mbah Wonokromoko, gurunya.

“Aku hendak ke Jawa, dik. Ke pondok Mbah Romo, aku mau dekatkan diri ke Tuhan, dik. Bagaimana?” tanyanya waktu itu sambil memeluk diriku dari belakang ketika lagi masak sayur asem kesukaannya.

“Mau dekatkan diri ke Tuhan mengapa jauh-jauh sih, mas? Kan bisa di rumah?” tanyaku balik.

Ndak bisa, dik. Aduh, kamu ndak paham kayaknya..”

Lho? Kok ndak paham?”

“Ya, Mbah Romo itu kan adanya di Jawa, dik.”

“Lha, kamu mau dekatkan diri ke Tuhan apa ke Mbah Romo?”

“Ilmu Mbah Romo itu tinggi, dik. Seperti langit. Ilmunya itu ibarat tangga yang mengantar murid-muridnya agar lebih dekat dengan Tuhan. Gitu, dik.”

“Apa tidak musyrik, mas?”

“Lho, kok musyrik? Ya tentu ndak dong. Wong mau dekatkan diri ke Tuhan masak musyrik sih…” dia langsung sewot. Padahal kan aku hanya bertanya baik-baik.

“Yha kan aku bertanya, mas.”

“Belajar agama itu ndak bisa seorang diri, dik. Harus belajar ke orang yang ilmunya lebih tinggi. Kalau sendiri bisa keblinger. Kayak kamu!”

“Lho? Kok kayak aku?”

“Lha iya. Ibadah aja jarang apalagi mendekatkan diri pada Tuhan. Doa saja ndak pernah apalagi dekat dengan Tuhan!”

“Lho?!”

“Jadi boleh ndak?”

“Ya boleh. Masak niat baik mau dilarang-larang.”

“Nah begitu dong daritadi. Jadi ndak usah ada perdebatan.”

“Lha….”

Besoknya dia berangkat ke pondokan. Aku siapkan baju-bajunya, alat-alat mandi, perlengkapan ibadah, cemilan-cemilan buat di perjalanan, dan bekal buat makan siang jadi dia tidak usah beli di kereta. Pagi itu, aku mengantarnya ke stasiun Senen sampai dia naik kereta. Saat dia mau naik kereta, dia sempatkan dulu mencium keningku pelan dan kubalas dengan mencium tangannya.

Aku tidak menyangka itu terakhir kalinya dia menyentuhku.

Sebulan kemudian dia pulang. Tidak mengabariku lewat sms atau aplikasi chatting mana pun. Tidak menelpon juga. Dia tiba-tiba datang ke rumah, mengucapkan salam. Aku menyambutnya dengan salam dan hendak mencium tangannya dan memeluknya. Tapi dia berkilah. Membuat gerakan menghindar. Kemudian aku tawari makan, dia hanya menggeleng pelan dan bilang, “saya sedang puasa sampai jam delapan malam nanti,” katanya.

Saya? Saya? Dia bilang saya?

Puasa? Dia bilang puasa? Puasa sampai jam delapan? Puasa jenis apa?

Pukul delapan itu, kuhidangi segelas teh panas, nasi hangat, sayur asem, tahu-tempe, apel, pisang, jeruk, dan anggur. Dia hanya meminum teh panas dan dua butir anggur. Lalu dia pamit tidur. Aku ikuti ke kamar. Aku kangen juga. Tapi dia tidur memunggungiku. Dia tidak pernah tidur memunggungiku.

Entah mengapa dia tidur memunggungiku. Apakah dia menemukan perempuan lain di pondokan? Ah, tapi tidak mungkin. Dia tidak mungkin begitu. Dia tidak gila perempuan, setahuku. Aku mencoba mencari kemungkinan-kemungkinan baik. Prasangka-prasangka buruk ku singkirkan.

Aku masih belum tahu mengapa dia tidur memunggungiku. Jadi, kucopot saja semua pakaianku kecuali pakaian dalamku dan tidur di sampingnya. Berharap dengan ini, dia jadi kangen. Bayangkan, satu bulan lebih kau tidak tidur dengan istrimu. Apakah bisa kamu menghindari rasa kangen? Tentu tidak. Tapi sepertinya masih ada pengecualian yang aku belum tahu.

Aku mencoba memeluk punggungnya. Kurasa dia pulas sekali. Mungkin dia kelelahan, jadi kubiarkan saja dia tidur tenang selama aku masih bisa melepas kangen dengan memeluknya.

Subuh-subuh ketika aku bangun, dia sudah tidak ada di ranjang. Dia menutupi tubuhku dengan selimut hingga semuka-muka. Untungnya tidak sampai hidungku, kalau tidak, aku bisa kehabisan napas. Aku penasaran, akhirnya aku ke luar kamar tanpa memakai baju yang semalam kucopot. Ternyata dia sedang membaca-baca buku, entah buku apa.

Melihat aku membuka pintu kamar, dia melirik sekilas, lalu memejamkan mata. Lha, kenapa? Ada yang salah dengan tubuhku?

“Pakai bajumu,” katanya singkat. Ini aneh, karena biasanya dia langsung menerkamku sesubuh ini dan bercinta pagi-pagi. Ini tumben-tumbenan.

Aku mencoba maklum, mungkin dia masih lelah, mungkin dia sedang puasa, mungkin dia… ah, sudahlah. Aku mandi dan mengganti pakaian dan masak. Sedangkan dia duduk anteng di kursi tamu sambil baca buku, baca koran, menyetel radio siraman rohani. Aku masak sayur sop, tumis tahu, ayam goreng, dan sambal. Di dapur. Sendiri. Dia tidak datang menguyel-uyel rambutku, tidak datang menyergapku dari belakang, tidak datang untuk sekadar rebah di tengkuk, atau memeluk pinggangku erat-erat. Atau, dia tidak datang sekadar melihat dan bertanya, “masak apa kamu hari ini, sayang?” tidak ada.

Satu minggu. Dua minggu. Sebulan. Dua bulan. Tiga bulan. Aku diperlakukan begitu. Tidak disentuh sama sekali. Dia sering meninggalkanku di rumah dengan alasan rapat ini-itu. Pertemuan murid Mbah Romo, dan bla-bla-bla lain yang kuanggap hanya alasan semata. Jelasnya, sudah hampir tiga bulan kami tidur saling memunggungi atau kalau aku sedang kegerahan dan melepas semua baju, dia malah pindah tidur di kamar tamu. Aku tidak mengerti. Padahal kita baru dua tahun menikah. Apa ini karena kita belum memiliki momongan?

Apakah dia ingin momongan? Mau anak? Tetapi kalau iya kenapa dia menolak bercinta denganku? Bagaimana mau punya anak kalau begini? Aku bingung. Aku dilema. Aku tidak tahu apakah ada kesalahanku yang membuat dia seperti ini? Atau, atau, atau, ini efek dia mondok empat bulan lalu?

Aku tanyai dia baik-baik. Ada apa, mengapa kamu begini, ada masalah, dan beban-beban lain semua kuungkapkan sampai keinginan untuk punya anak. Dia menjawab baik-baik tanpa memandang mataku barang sekejap saja. Ketika aku menanyai apakah ini ada hubungannya dengan ajaran Mbah Romo? Dia malah marah-marah. Menggebrak meja. Dan menuding-nuding telunjuknya ke mukaku. Gusti, aing salah apa?

“Kamu nggak usah bawa-bawa Mbah Romo ya! Kamu ndak tahu apa-apa! Kamu tahu apa tentang ajaran guru saya? Ibadah saja ndak pernah!”

Astaga.

Kemudian dia membanting pintu dan ke luar rumah.

Satu minggu tidak pulang. Dua minggu. Tiga minggu.

Tiga minggu kemudian, tetanggaku mengaku lihat suamiku di kanal youtube. Kanal youtube yang menunjukkan kekerasan dan radikalisme kelas berat.

Suamiku itu, ya memang benar itu suamiku. Dia sedang menyumpah serapah di hadapan kamera. Dia menenteng senjata. Berteriak. Mengajak. Memaki. Berseru. Kemudian dia berlari ke tengah kerumunan. Dan meledakkan diri. Ya. Meledakkan diri.

Meledakkan diri dengan arti sebenarnya. Aku ternganga. Tetanggaku yang sudah pernah melihat video itu hanya memegangi pundakku yang bergetar. Bergetar hebat.

 

-Tamat-

Catatan: Baru menulis lagi setelah lama tidak menulis. Jadi kalau tulisannya kurang bagus, harap maklum. Cerita di atas hanya fiksi belaka, tidak menuding atau menyinyiri kaum mana pun. Saya hanya mencoba menjadi jenaka di tengah-tengah kisruh sana-sini oke. hhe.

Kisah Para Pengikut

Alkisah di suatu peradaban yang modern, gedung-gedung perak, jalanan tol berlapis emas satu karat, rumah-rumah baja, gubuk-gubuk besi, dan pohon-pohon plastik, hiduplah para nabi, dengan garis miring, beserta pengikutnya masing-masing.

Peradaban ini bukanlah peradaban zaman nabi yang dikisahkan kitab suci agama mana pun. Ini adalah sebuah peradaban baru yang siapa saja bisa menjadi nabi dan mempunyai ribuan pengikut. Pengikut ini lah yang nanti jadi pohon cerita di kisah ini.

Pengikut, sebagaimana kata dasarnya, ikut, yang artinya gemar mengikuti yang diaikuti. Para pengikut sebagaimana laiknya hamba yang setia. Mereka perpaduan antara hamba yang setia dan juga si dungu yang lahir tanpa karakter. Mereka lahir begitu saja dan diciptakan untuk berjalan di belakang ‘nabi garis miring’, dan tidak ada inisiatif berjalan di depan atau menjadi ‘nabi garis miring’ yang baru.

Mereka sebenarnya hamba setia. Andai saja tidak tolol, mereka akan mendapatkan ‘surga garis miring’ pula atau bahkan menjadi ‘nabi garis miring’ baru. Pada kisah ini, kawan-kawan semua, ahli cerita ini akan menceritakan kisah kematian para pengikut. Hamba-hamba setia sekaligus orang-orang tolol.

Berikut nama-namanya. Nama-nama ini mungkin pernah anda sekalian baca di koran-koran besar di halaman-halaman terakhir. Atau juga di televise yang memberitakan hal-hal yang kurang penting. Atau di radio yang orang jarang mendengarnya. Atau di kisah ini. Ahli cerita ini, berinisiatif membuatkan sebuah memoriam agar mereka, biarpun hanya pengikut, bisa hidup abadi laiknya si ahli cerita yang namanya sampai mati pun tidak akan pernah dilupakan orang.

Dimulai dari kisah seorang perempuan bernama Archassy Ruvina Argaroba, ya, nama manusia manusia modern ini memang agak nyentrik dan panjang. Dia cukup dipanggil Has. Dia seorang pengikut alias hamba setia dari Venddyat Jazqualine Febrigarda. Dia cukup dipanggil Ven. Ven seorang ‘nabi garis miring’ perempuan yang mempunyai duaribu pengikut. Dia gemar berbelanja barang-barang nyentrik antik dan mahal untuk dipamerkan di akun pribadinya dan membuat hamba-hamba setianya keblinger untuk mengikutinya. Tetapi Has yang bernasib paling sial, atau mungkin mujur? Has mati. Di usia yang sangat muda, 20 tahun, dengan cara konyol, kelaparan.

Mati kelaparan bukan suatu yang patut ditertawakan dan konyol. Tapi itu patut ditertawakan dan menjadi konyol ketika Has lebih memilih membeli anting berlian seperti Ven dari seluruh uang gajinya bulan itu. Dan, Has, lupa tidak menyisakannya untuk makan, minum, bayar sewa kamar, dan ongkos bekerja. Bagaimana pun, Has seorang pegawai di sebuah restoran, sebagai tukang cuci piring, dan membersihkan meja. Gajinya tidak seberapa, hanya cukup makan dan bayar sewa. Untungnya kamar sewa Has dekat dengan tempat kerjanya, biasanya kalau tidak ada uang naik bus, dia bisa menyewa sepeda. Tetapi naas, Has kali itu kalap, dan dia tidak makan selama seminggu. Lalu jatuh sakit dan mati kesepian di kamar sewanya. Ven tidak pernah tahu dan tidak pernah mau tahu.

Setelah kematian Has April lalu, disusul dengan Thomas Librandate Aleganza, dipanggil Tom, yang mati pada Juni. Tom adalah seorang pengikut dari seorang provokator bernama Ragaza Arzendra Irgha. Tom seorang mahasiswa yang tidak kritis. Sepanjang hidupnya di kampus, Tom hanya menopang dagu dan melihat-lihat dosen berganti-gantian memasuki kelas-menulis di papan tulis-bicara blablabla-keluar ruangan, dan Tom segera keluar dari kelas dengan tatapan muram dan kosong dan mengantuk.

Suatu hari, Ragaza Arzendra Irgha, menghina presiden, ulama, dan guru. Sebagai hamba setia, orang tolol, dan mahasiswa tidak kritis, Tom menyetujui ucapan Ragaza Arzendra Irgha dan ikut mengkompori kata-kata Ragaza Arzendra Irgha dan menambah-nambahi kata-kata cacian dan hinaan kasar kepada presiden, ulama, dan guru. Aparat keamanan langsung bertindak dan menangkap Tom. Sialnya, di tahanan, Tom satu sel dengan seorang fanatik presiden dan ulama-ulama, dan Tom dihajar habis-habisan hingga giginya tanggal tiga, hidungnya berdarah, bibirnya jontor, pelipisnya robek, dan kakinya patah. Darah mengucur deras dari kepala Tom hingga ia mati di sel. Dan Ragaza Arzendra Irgha tidak pernah tahu dan tidak pernah mau tahu. Toh, Ragaza Arzendra Irgha juga rupanya ditangkap dan seminggu kemudian bebas setelah menulis permintaan maaf.

Peristiwa mengejutkan juga datang dari seorang perempuan (lagi) bernama Sadlinda Hereafro Daravatvrostki, dipanggil Sad. Seorang pengikut dari Hanniana Urichiru Uragama, dipanggil Uri. Sebenarnya Sad tidak menyukai gaya jepang Uri yang begitu modern dan kekomik-komikan. Tetapi sayangnya, Sad jatuh cinta kepada laki-laki yang sangat menyukai Uri. Laki-laki ini bernama Zabriandanath Karuichima Arichavotski, dipanggil Zab. Zab ini juga seorang hamba setia Uri, tetapi Zab bukan hanya hamba, tetapi seorang pecinta.

Dilansir dari New York Times, gadis bernama Sad ini berupaya untuk mengesankan Zab dengan menjadi Uri. Sad membeli semua perlengkapan yang dipakai Uri mengomikan-diri. Ditemukan di Tempat Kejadian Perkara (TKP) juga ditemui satu setel kostum sailor moon di lemari Sad. Belakangan diketahui bahwa Uri pernah mengenakan kostum itu di pesta Halloween tahun lalu. Tetapi naas bagi Sad. Zab tidak pernah melihat cinta Sad. Sad ditolak saat mengenakan kostum Uri; seragam jepang yang ada pita merah besar, wig rambut kepang warna pink, topi pelayan putih yang dihiasi motif jangkar, dan kacamata bulat oversize. Lalu  Zab dengan teganya bilang, “kau tidak bisa menjadi Uri, Sad. Kau menggelikan dengan kostum itu,” katanya. Kata terakhir yang Zab ucapkan sebelum Sad bunuh diri di kamar apartemennya. Sad loncat dari lantai 14, dan mati begitu saja di atas mobil tamu yang hendak menuju basement. Dan Uri tidak pernah tahu dan tidak pernah mau tahu perihal Sad atau Zab.

Masih banyak kasus semacam itu sepanjang tahun ini. Data statistik mencoba membeberkan datanya ke publik semalam. Tahun ini ada 25 kejadian serupa. Mereka itu orang-orang seperti Has, Tom, dan Sad. Ahli kisah tentu akan meneruskan memoriam ini. Tapi hari ini cukup Has, Tom, dan Sad saja dulu. Di samping karena kematian mereka begitu unik dan kontroversial, mereka juga lah yang diliput besar-besaran oleh beberapa media walaupun ujungnya ditaruh di halaman-halaman terakhir.

Namun zaman akan terus berganti-ganti-dan-ganti. Nabi garis miring baru pun banyak bermunculan dengan ribuan pengikut yang kemudian menyusul Has, Tom, dan Sad. Ahli cerita mulai tua dan sakit-sakitan. Pengikut ahli cerita pun banyak. Dan si ahli cerita tidak tahu bahwa minggu lalu seorang pengikutnya bernama Gregori Alexandrovich Vagara, tewas ditembak seorang tak dikenal di depan perpustakaan ketika Gre membawa buku karangan si ahli cerita. Seorang tak dikenal itu kemudian mengaku kalau dia membenci ahli cerita karena dia mengarang yang bukan-bukan tentang pengikut Ven, Ragaza, dan Uri. Orang itu mengaku kesal dibilang hanya seorang hamba setia dan orang tolol. Orang itu tidak terima dan langsung spontan menembak Gre yang membawa buku dengan sampul si ahli cerita itu di tangannya. Dan si ahli cerita pun tidak pernah tahu tentang Gregori Alexandrovich Vagara dan tidak pernah mau tahu. Si ahli cerita keburu lewat.

Tamat


Jakarta, 11 November 2016

 

Gadis dari Selatan Jakarta

Kau tahu, aku tahu, kita semua tahu, cuma seperlima saja orang yang beruntung di dunia ini. Kau tahu, aku tahu, kita semua tahu, malaikat cinta hanya berpihak pada seperlima manusia saja di dunia ini. Kau tahu, aku tahu, kita semua tahu, cuma seperlima pasangan saja di dunia ini yang beruntung. Yang dari awal bersama, yang sampai akhir bersama. Kau tahu dan aku tahu, kita bukan bagian dari mereka; yang dari awal bersama, yang sampai akhir bersama.

Sabtu pagi ini, kau tahu, aku sedang membuka-buka buku lama-ku. Masih tersimpan Poems-nya Emily Dickinson pemberianmu itu. Buku itu di tanganku sekarang. Kalau seandainya kau bertanya bagaimana kabar buku itu, buku itu sudah kumal, bagian-bagian sampul terlipat dan terkelupas, bagian dalamnya jangan ditanya, tapi jangan khawatir aku masih bisa membacanya ulang. Membaca ulang buku ini, sama saja mengenang ulang kita.

Bukan kah kau ingat di suatu sore, di halte bis dekat rumahmu, saat kau hendak menemaniku menunggu bis? Saat itu hujan agak deras dan tak ada bis menuju rumahku yang lewat. Kau membawa Poems Emily Dickinson dan kita membacanya bersama-sama hingga bisku datang, dan kau pulang berjalan kaki dengan payung merah delima. Aku menatapmu dari bis dan pandanganmu berpaling ke arahku. Kita bertatapan lewat kaca bis yang ditetesi air hujan dan rintik hujan di luar yang mulai reda. Setelah bis-ku menjauh dan kau sudah tak kelihatan lagi, aku baru saja ingat bahwa bukumu itu berada di tanganku. Sejak empatpuluh tahun berlalu. Hingga sekarang, hari ini.

Di hari naas itu, aku bilang padamu, “Poems. Emily Dickinson-mu, masih ada padaku,” tentu saja aku berharap kau memintaku mengembalikannya padamu dan kita membuat jadwal pertemuan lagi di kedai, taman, atau halte bus. Tetapi kau bilang, “Ambil saja, aku punya dua,” lalu aku angkat bahu dan pergi. Sekali itu, aku benar-benar pergi dari pintu rumahmu, atau dari kehidupanmu. Di hari naas itu, kau tak lagi mengantarku menuju halte bus dan mengatakan selamat tinggal, aku akan merindukanmu dan menunggumu lagi, atau hal-hal semacam itu.

Kopi telah diantar ke mejaku saat aku sampai di halaman ke-31, Rani melirikku dan berdeham pendek. Aku meliriknya sekilas dan kembali ke buku itu. Aku tidak pernah tertarik dengan mata perempuan mana pun selain matamu. Sejak empatpuluh tahun berlalu hingga sekarang, hari ini.

Kau ingat Anggi? Pernahkah dia bercerita padamu? Bahwa kau adalah satu-satunya perempuan yang benar-benar ada di hidupku, perempuan lainnya hanya teman tidurku, teman nonton film-ku, teman minum kopi, teman mabuk-mabukan—yang dilanjutkan menjadi teman tidur. Tapi kau….

Kau tahu tidak, di antara semua jenis ‘pertemanan’, teman bercerita adalah satu yang paling istimewa; dan kau satu-satunya. Kau satu-satunya teman membaca, teman menulis, teman diskusi, dan yang paling penting, teman bercerita. Kita bisa bercerita apa saja dan di mana saja. Di kontrakanku yang sempit dan gerah, di teras warung jamu yang tidak buka 24 jam di Cikini, di halte bus yang sudah gelap dan tiada berlampu di Tanjung Barat, di depan toko listrik di Lenteng, di antara rak-rak buku di daerah Kalibata, di kolam renang dekat Pasar Minggu, di angkutan umum, atau di dalam mobil sedan tuamu yang kau bawa diam-diam untuk jalan-jalan denganku.

Kau masih ingat, di kolam renang itu? Kolam renang satu-satunya di kota itu. Pertama kali aku melihat hampir sekujur tubuhmu telanjang. Kau mengenakan bikini bekas kakak perempuanmu. Bikini itu sangat pas di tubuhmu yang memiliki lekuk pinggul paling seksi. Aku masih ingat warnanya, putih dengan garis-garis vertical yang lurus warna biru. Rambutmu yang panjang kau gerai saja hingga rambut-hitam-bergelombang-itu-menyentuh payudaramu. Aku masih mengingatnya-dengan-sangat-baik.

Barangkali kau akan mengingat kecupan kita di kolong air kaporit dan langit mendung waktu itu. Tapi bukan bagian itu yang membuat aku mengingatmu. Kau barangkali lupa atau bahkan kita sama-sama mengingat momen itu. Momen saat kita berdansa di air. Aku bersumpah, tidak akan ada pasangan seperti kita. Tidak akan ada pasangan yang berdansa di dalam air. Berdansa dengan gerak-gerak lamban karena air kaporit di antara kita. Flying and dancing, kau bilang. Dan kau bersumpah, kau tidak akan melupakan kolam renang ini.

“Aku tidak akan melupakan kolam renang ini,” katamu sambil mencelupkan kakimu ke dalam air dan menendang-nendang air seakan-akan air telah mengambilku darimu. Kau kemudian memandangku, “Dan tentunya, kamu.” Kau mengerling sedikit dan aku menciummu lama sekali. Di pinggir kolam renang yang lengang. Di bawah langit mahamendung. Dan ditetesi rintik-rintik tipis hujan Desember.

Sejak awal takdir tidak pernah mencintaiku. Dan itulah mengapa dia menceraikan kedua orangtua-ku, membuat gila ibuku, memorat-maritkan hampir seluruh masa kecilku dan masa remajaku, membikinku jadi tulang punggung keluarga, membuatku jadi tukang minum dan pemabuk, berganti-ganti perempuan dari tempat pelacuran satu-ke-satu lainnya. Dan ketika dia mempertemukanku denganmu, barulah aku katakan pada langit, “Aku mencintaimu, takdir!” lawan kalimat yang selalu kukatakan pada langit dan Tuhan, di mana pun Ia berada.

“Aku tidak pernah mencintai hidupku sebelum kamu datang,” kataku.

“Kenapa? Hidupmu terlalu berharga untuk tidak kamu cintai,” katamu.

“Takdir tidak pernah mencintaiku.”

“Aku tidak ingin mengatakan kalau itu tidak benar. Tuhan selalu punya rencana untuk hidup kita.”

“Dengan cara menghancurkan hidupku?” tanyaku polos. Kau tertawa, tetapi bukan jenis tawa meledek.

“Barangkali begitu, tetapi Dia memperbaiki lagi, bukan? Dan membuat kau lebih baik. Dan lagi, bagaimana bisa kau bilang kau mencintaiku kalau kau tidak bisa mencintai dirimu sendiri?”

“Aku mencintai diriku sekarang, karena kamu telah datang.”

“Kalau begitu, jangan jadikan aku sebagai alasan kau membenci hidupmu, kelak,” kau tersenyum. Menatapku lurus-lurus. Kalau sudah begitu, aku tidak bisa tidak menciummu sambil mengaitkan lenganku ke pinggulmu.

“Kau berjanji?” tanyamu.

“Janji apa?”

“Yang tadi…”

Aku tersenyum. Menyiumnya lagi.

“Janji.”

Kau mencintai Tuhan seperti kau mencintai hidupmu sendiri. Dan aku terbawa arusmu. Arus surga, kalau kataku, ketika teman-temanku dengan resek-nya meledekku karena belakangan rajin ikut kebaktian.

Aku tidak bisa memenuhi janjiku. Aku membenci hidupku sebagaimana aku dulu yang tanpamu. Setelah kau menutup pintu rumahmu dan kehidupanmu untukku. Setelah aku meninggalkan pintu rumahmu dan pergi dari kehidupanmu. Aku kembali membenci takdir. Ya, karena sejak awal takdir tidak pernah mencintaiku. Setelah dia menceraikan kedua orangtua-ku, membuat gila ibuku, memorat-maritkan hampir seluruh hidupku, membikinku jadi tukang minum dan pemabuk, membuatku ke tempat-tempat pelacuran, mempertemukan denganmu—bagian ini tidak pernah aku sesalkan,—- menghadirkan pertengkaran di antara kita, membuatku mabuk lagi, membuatku ke tempat pelacuran, membuatku meniduri Rani, dan membiarkan Rani hamil dan menuntutku untuk menikahinya, dan memisahkan kau dan aku. Sudah kah kau sepakat bahwa takdir tidak pernah mencintaiku?

Kau pasti mengelak dan mengatakan, “Itu artinya takdir tidak menulis namaku di hidupmu. Itu artinya Rani lah perempuan yang Dia tuliskan,” dan kau akan melanjutkan, “Dan karena itu ibu dan kakak perempuanku melindungiku darimu,” dan kau akan melanjutkan, “Dan di hidupku, nama laki-laki yang dituliskan takdir adalah, Wijaya. Bukan namamu.”

Hidupku lesak-se-lesak-lesaknya ketika kau memutuskan untuk menikahi Wijaya di sebuah gereja dengan aksen lama di daerah Pasar Minggu. Gereja yang sering kita tunjuk-tunjuk untuk tempat kita nanti menikah, dan aku selalu menyetujuinya.

Aku menyesap kopi ketika ia sudah hampir dingin dan tidak enak. Rani tidak pernah becus membuat kopi. Dan aku telah sampai di halaman 41, aku terlalu banyak merenung.

Sabtu-masih-pagi- di luar hujan gerimis sudah turun. Beginilah Desember. Tanahmu basah, dan wangi bunga kenanga dan mawar menguar dari persemayamanmu. Aku belum sanggup menemuimu. Melayat ke pekuburanmu, dan meletakkan bunga-bunga kesukaanmu di sana. Aku tidak sanggup untuk tidak menangis dan mengakui bahwa aku masih sangat mencintaimu.

Semoga, Tuhan memberimu Poems-nya Emily Dickinson sekarang ini, dan membiarkan kita, sekali ini saja, untuk membaca buku yang sama, di alam yang beda.

Aku selalu mendoakanmu, di malam tergelapku,
Aku selalu mendoakanmu, di pagi tercerahku,
Aku selalu mendoakanmu, dan mencintaimu,
Di segala waktuku.


Jakarta, 10 November 2016

Catatan: Lagu ini terinspirasi dari lagu Bob Dylan di album The Freewheelin’ Bob Dylan, yang memakai foto Bob Dylan dan Suze Rotolo jadi sampul albumnya. Lagunya berjudul Girl from the North Country. Liriknya kutaruh di bawah catatan ini, ya!


Girl From The North Country
WRITTEN BY: BOB DYLAN

Well, if you’re travelin’ in the north country fair
Where the winds hit heavy on the borderline
Remember me to one who lives there
She once was a true love of mine

Well, if you go when the snowflakes storm
When the rivers freeze and summer ends
Please see if she’s wearing a coat so warm
To keep her from the howlin’ winds

Please see for me if her hair hangs long,
If it rolls and flows all down her breast.
Please see for me if her hair hangs long,
That’s the way I remember her best.

I’m a-wonderin’ if she remembers me at all
Many times I’ve often prayed
In the darkness of my night
In the brightness of my day

So if you’re travelin’ in the north country fair
Where the winds hit heavy on the borderline
Remember me to one who lives there
She once was a true love of mine

7fc02755b33af86a735744867f0e0249tumblr_l3x3k4k9rv1qc0beio1_500tumblr_nupoypmtjc1s82tn3o1_400