Rindu di Penghujung Januari

Rindu di penghujung Januari
Masih berkelebatan puisi-puisi
Pada kepala yang penuh aksara
Kala langit hujan atau cerah di udara

Rinduku masih menjadi puisi
yang tergeletak pada pintu kamarmu
Tanpa pernah kaubaca, tanpa pernah kausentuh
Menumpuk di sana bagai ingatan yang tak segera kulupakan

Sebab rinduku bukanlah tanggal-tanggal
Di tubuh kalender bulan Januari
yang akan habis esok pagi
Dan rinduku, bukan juga pembual

Kasih, pemilik segala puisi di bulan Januari,
Kali ini, aku akan mejawab pertanyaanmu;
Apa yang lebih panjang dari musim hujan? tanyamu dulu
Ialah rinduku. Tak habis sampai di penghujung Januari

Rindu di penghujung Januari
Ialah sebagai judul yang hanya judul
Sebab puisiku tak berhenti sampai di sini
Aksaraku akan terus liar dan saling bergumul

Memuisikan engkau
Memuisikan rindu
Memuisikan kenang
Dan kita yang hilang

gjgh

ilustrasi : weheartit

Depok, 31 Januari 2015
Kepada penghujung Januari, dan pintu kamarmu; aku menitipkan rindu.

Untuk Bulan Januari

Dear Januari,

Begitu banyak kisah aku bagi denganmu. Puisi-puisi jatuh cinta sampai kehilangan tak luput dari tanggal-tanggal di tubuhmu, mengukir bagian titimangsa setelah akhir garis tulisanku.
Aku menyukai namamu. Januari. Terdengar syahdu sekaligus abu-abu, pada setiap hati yang merindukan, dan juga kehilangan. Sebab, hujan selalu turun di tubuhmu, membasahi ingatan-ingatan lalu yang ingin dilupakan. Termasuk aku, si pemilik hati yang merindukan dia. Dia yang sedang bahagia bukan bersamaku. Dia yang sering kupuisikan di bulan Januari.

Januari, aku menggambarkan dirimu sebagai sosok perempuan, yang kerap menangis di pagi hari setelah bangun dari tidur. Dengan gaun warna mendung, kau membagikan gigilmu pada semesta, sebab kau tak mampu menahan sedih itu sendiran. Maka, kau bagi air mata itu lewat hujan yang turun setiap hari. Hujan yang kadang deras, kadang rintik. Geram aku ingin bertanya padamu, siapa yang sedang kau rindukan?
Apa kita sedang merindu dengan jenis yang sama; merindu sesuatu yang takkan kembali?
Kalau ya, aku ingin merengkuhmu. Saling berpeluk di bawah hujan, menangis bersama; kau dengan hujan yang deras, aku dengan ingatan yang menderas di kepalaku.

Januari, aku selalu suka ketika engkau berpuisi di pagi hari lewat hujan rintik-rintik. Bagiku, itu ialah puisi penyampaian rindu termanis sealam semesta. Aku tidak sedang merayumu, ini sungguhan! Sungguh!
Aku menyukainya; hujanmu di pagi hari, sebab aku merasa kesedihanku punya teman.

Hari ini, kau akan pergi. Menyisakan gerimis dan hujan deras di terasku. Pergi meninggalkan aku dan kesedihanku sendiri. Maka, izinkanlah aku mengirim surat ini untukmu, sebagai tulisan di penghujung bulanmu. Sebab aku pasti akan merindukanmu. Rindu bercerita padamu lewat kisah dan puisi, rindu puisi-puisi sendumu lewat hujan. Rindu aroma Januari yang selalu hampir sama setiap harinya; pet-ri-chor. Itu parfum yang kaupakai? Aku menyukai aroma itu.

Nah, ini bagian penutup surat untukmu, Januari.
Terima kasih atas awan mendung, dan kesenduan yang kauciptakan di dadaku.
Terima kasih atas hujan di pagi, siang, sore, malam, sampai dini hari, sebab tanpa hujan, aku tidak akan bisa berpuisi sebiru kesedihan.
Terima kasih telah menderaskan hujan di beberapa malam, membuat beberapa kepala ikut dideraskan kenangan akan angan dan masa lalu.
Terima kasih atas hujan gerimis yang manis, jenis hujan yang mampu membuat beberapa sejoli saling jatuh cinta, dan menciptakan kenang. Meski gerimismu seringkali hanya menyinggahi rindu padaku, bukan jatuh cinta.
Terima kasih atas segala yang telah kaubagi kepada semesta. Terutama padaku. Sebab engkau telah mengajariku bagaimana cara mencintai dengan cara yang lain.

Januari, terima kasih engkau telah hadir di awal tahunku yang cappuccino; pahit sekaligus manis.
Semoga, tahun depan kita berjumpa lagi, dengan cerita dan bahagia yang lain.
Selamat tinggal, dan sampai jumpa!

Depok, 31 Januari 2015
Hujanlah, sebagai balasan surat ini.

102 Hari

102, satu kosong dua
Seratus Dua Hari

Separuh bulan Oktober
Sepenuh November
Seluruh Desember
Separuhnya lagi Januari

102 hari yang lalu,
Negeri menahtakan pemimpin baru
Maraknya euforia dari pagi hingga malam menggantung di ujung
Memestakan sebuah pergerakan revolusi mental yang dijunjung

Namun bukan itu yang ingin kupuisikan
Di sini
Bukan itu
Anggap saja itu hanya sebuah bagian dari prolog

Monolog; puisiku ialah hasil aku bermonolog dengan pola pikirku
Bersenandika dengan bibir sendiri,

Aku ingin menamai bulan-bulan dengan nama warna
Oktober berganti jadi merah muda
November berganti jadi shocking pink
Desember berganti biru
Dan, Januari ialah abu-abu

Setiap warna memiliki makna, sama halnya sebuah nama
Oktober, bagiku ialah bulan jatuh cinta. Sebab tanggal-tanggal di kalenderku tak pernah libur dari senyum.
November, ialah bulan yang mengejutkan. Sebab, hadirmu kadangkala tanpa aba-aba. Seperti kado dari Santa. Surprisingly!
Kemudian Desember, ialah bulan berwarna biru. Sebab hujan turun tiada henti di hari kepergianmu yang tiba-tiba, lagi-lagi, tanpa aba-aba.
Dan Januari, ialah bulan berwarna buram. Pasi seperti puisi-puisi. Seperti sajak-sajak.

yang bercerita tentang kepergian, dan kehilangan.

1 0 2  h a r i
Beragam rasa berjejal dalam dada
Senang, gembira, sesak, sedih, sendu, nyeri, kosong
Bulan berganti, kalender membalik tubuhnya sendiri

Entah bagaimana empat bulan mampu menjungkirbalikkan hidupku
Menghapus lembut benci-benci yang tlah lama rapi tersimpan
Menabung rasa sukur banyak-banyak dalam dada
Dan melapangkan sabar luas-luas

Entah bagaimana empat nama bulan itu begitu berarti
Sebab tiap helai lembar kalender ialah langkah kaki yang baru
Meninggalkan yang usang, berani melangkah maju tanpa ragu
Mengabaikan resah yang selama bertahun-tahun hinggap

Bagiku, Oktober memiliki peran yang penting
Sebab tanpanya, tidak akan ada November
Tidak akan ada Desember dan Januari
Sebab di waktu-waktu itulah aku belajar banyak hal mengenai sisi-sisi lain hidup

Oktober mengajariku bahagia yang sederhana
November mengajariku bagaimana hidup selalu punya kejutan
Desember mengajariku cara melepaskan dengan rela penuh keikhlasan
Dan Januari mengajariku cara bersyukur dan melapangkan sabar

1 0 2  H a r i
Ialah andil dari Tuhan untuk hidupku
yang kerap bertanya-tanya, mana keadilan, mana kebahagiaan
yang kerap mencari rasa syukur dan keikhlasan

1 0 2  H a ri
Sebenarnya, ini bukanlah sebuah puisi
Melainkan sebuah kisah bagaimana nama empat bulan itu memporak-porandakan hidupku
Bagaimana seratus dua hari mengubahku, menjadi siska yang baru.

Hai, siska!
Salam kenal, dari diriku yang baru.

PS : Ini bukan soal revolusi mental Jokowi, ini soal revolusi siska!

Depok, 30 Januari 2015

Pahlawan Terlupakan

Dulu kedua matanya tegas
Kini kedua matanya sayu kriput
Dulu bibirnya keras berteriak merdeka
Kini bibirnya kelu kurang makan

Dulu berjuang mati-matian demi negara
Kini jangankan nama, nasibnya pun dilupakan negara
Hidup susah terombang-ambing
Masih mati-matian mengais uang

Masa mudanya untuk Indonesia
Masa tuanya ditelantarkan Indonesia
Wahai Bunda Pertiwi,
Ini kah bangsa yang tahu balas budi?

Depok, Hari Pahlawan 2014

Sajak Tahi Kucing

sajak ini ditulis atas nama kebencian
kepadamu sang perampok
pemeras darah, pencuri tulang
si tanpa hati dengan senyum terkembang

penari di atas remah api
penjilat tahi kucing paling ulung
terusik hati ingin memaki anjing
atau melempari tahi kucing

duhai engkau
jari-jemari iblis
nikmatilah dosamu selagi mampu
selagi uang rakyat dapat kaukantongi

selagi rupiah bisa membuat harga
dirimu murah

sajak ini ditulis atas nama kebencian
sajak penuh makian
dibuat khusus untukmu
duhai maling dengan senyum tersungging

Jakarta Selatan, 27 November 2014

Demokrasi Kebablasan!

Blas! Blas! Blas!

brengsek, anjing, bajingan!
itu kritik bung, bukan makian!
kritik terus pemerintahan!

Blas! Blas! Blas!
tulis berita menikam!
sebar kambing hitam!
presiden takkan naik pitam!

Blas! Blas! Blas!
fitnah, maki, sampai mati!
sampai naik gaji!
demi mendapat sesuap nasi!

Blas! Blas! Blas!
fitnah terus, pantang mundur!
kita takkan dibredel lagi!
tenang, era kita, era demokrasi kebablasan!
(Untuk media-media massa dan penulis-penulis yang mengenakan topeng demi tujuan politik, terutama untuk Jonru.)

Depok, Pasca Pilpres 2014

Surat Untuk Si Pelaut

Hai, Pelaut!
Selamat hari Jum’at.

Hai pelaut samudera aksara di pikiranku, yang namanya enggan kutera di badan surat,
semoga lautku tak membuatmu ingin segera menepi sebab aksaraku bergelombang menghantam perahumu berkali-kali.
Tahukah engkau, pikiranku ialah samudera aksara, ratusan puisi bagai ikan-ikan di dalam laut yang memujamu.
Di kala malam, dikabut gelisah, dan badai beliung, semesta pikirku menjelma lautan; biru dan bergelombang. Kau ialah satu-satunya pelaut yang berani berlayar. Memancing ingatan-ingatan yang pernah kita lalui.
Di kala pagi, kau masih fasih mengarungi laut tanpa peta dan kompas. Aku ialah laut yang kelelahan menahan beban perahumu. Kemudian ratusan puisi bagai ikan-ikan yang menyerukan kerinduan.

Hai, Pelaut,
kini ragamu telah sampai di pelabuhan entah-di mana- aku tidak begitu hapal namanya.
Lautku merindukan ragamu yang berlayar, bukan hanya bayanganmu.
Meski begitu, bayanganmu tiada henti mengarungi samudera semesta pikirku. Melewati rute-rute perjalanan yang pernah kita lewati dengan suara tawa, percakapan, dan nyanyian-nyanyian konyol sang nahkoda kapal. Hal yang tidak dapat kuraih kembali. Hal yang hanya berupa kenangan.
Lautku, laut mati. Tiada lagi yang berlayar kecuali bayanganmu. Sepi. Ratusan puisi bagai ikan-ikan yang memuisikan kesedihan dan kehilangan secara bergantian. Tiada nyanyian. Tiada puisi jatuh cinta.

Pelaut,
aku ialah laut yang menunggu ragamu kembali berlayar di tubuhku.
Bila suatu hari nanti kau kembali, aku hanya punya dua pilihan, yakni;

  1. menenggelamkanmu dalam lautku, agar kau tak pernah pergi lagi dan akan tetap tinggal selamanya di sini, atau

  2. mengubah diriku menjadi dermaga, agar suatu hari kau akan berlabuh tuk terakhir kali.

Dua pilihan itu akan terus menjadi misteri, sampai kau kembali berlayar.
Pelaut, aku merindukanmu.

Dari aku,
Lautmu.

Depok, 30 Januari 2015

Puisi Tengah Malam

Gelap meminjamiku waktu tuk mengingatmu
Sepi sekaligus hening sedang meramu kenangan
Menyatukan unsur-unsur bayangmu jadi satu
Agar utuh dalam kepala bagaimana kita pernah saling berpelukan

Tak ada yang lebih sakral dari gelap
Ketika ciumanmu menjadi lebih liar dari seekor srigala
Sebab hening membawa kita saling melengkapi sebelum datang lelap
Dan kita ialah dua yang akrab dengan dosa

Dulu, gelap ialah sebuah cerita
yang diracik malam dengan sedemikian rupa
Sebelum matahari merenggut hitam
Dan waktu membakar engkau hingga legam

Kini, gelap hanyalah legenda
Lenyap dimakan terang benderang
Di mana ramai mulai merayap menuju ruang masa
Mematikan kesakralan dari hitam yang meremang

Gelap memang tinggal legenda
Seperti kita yang tinggal cerita
Namun tiada mati aku mencintai
Demi merasakan ciumanmu kembali

Malam sedang di ujung langit
Sebentar lagi jatuh ditangkap pagi
Tapi puisiku akan terus berbait
Tak peduli pukul berapa engkau kan kembali (lagi)

Depok, 29 Januari 2015

Aku Rindu Kota Kita


Rena, apa kabarmu di sana? Adakah kau merindukan aku?
Kau tahu, aku mulai merindukan kotaku. Kota kita.

Masih setia kah kau menungguku di sana? Aku rindu suara deru kendaraan yang setiap pagi memekakan telinga, suara klakson mobil yang tak sabar dengan antrian yang panjang. Aku rindu aroma hujan di kota kita. Hujan rasa hangat, di mana pelukan saling berlabuh di tubuh kita. Gigil pun sampai iri.

Rena, di sini hujan sedingin es di dalam kulkas kita. Warnanya putih, bersih mengingatkan aku pada kedua sisi pipimu yang gembil dan menggemaskan. Hujan di sini membuatku gigil, sebab tak ada pelukmu yang senantiasa menghangatkan. Tiada wangi kopi yang setiap pagi kausajikan di meja kerjaku. Tidak ada Rena.

Di kotaku yang sekarang, hanya berisi kenangan-kenangan kita yang lalu. Musim semi, ataupun badai salju, hawanya tetap sama. Sama-sama merindukanmu. Dan kehilanganmu. Aku sepi sendirian. Menelan kenangan-demi kenangan sampai lelah. Sekarang, aku sudah lelah, Rena.

Kupikir, aku telah berlari jauh, sejauh pesawat membawaku terbang. Tapi nyatanya, kau masih merantaiku meskipun aku pergi sampai ke kota terjauh.

Suara roda koper yang digeret terdengar pelan di telingaku. Koperku. Pesawat siap untuk membawaku terbang ke rumah. Ke kota kita. Aku pulang, Rena. Aku pulang.
Nanti, sesampai di kota kita, aku akan mengunjungi pemakamanmu.

I’ll be home tonight
I’m coming back home

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Depok, 28 Januari 2015

Dear, Namira


Segalanya telah berakhir, Namira. Duniaku seakan runtuh setelah kau ucapkan kata itu dengan tangis yang membanjir di sekujur wajahmu yang jelita.

“Aku tidak bisa meneruskan ini, Dean.” ujarmu. Bahumu terguncang menahan tangis, duniaku ikut berguncang. Mengapa? Tanyaku dalam hati. Kata tanya itu tidak sempat terucap dari bibirku. Egoku lebih tinggi dari akalku. Kubiarkan engkau pergi dengan ucapan perpisahan itu, dan tangisan terakhirmu yang lirih. Derap high-heelsmu masih teringat benar di kepalaku bagai melodi patah hati yang mengendap di kepala. Langkah kakimu yang pergi, membanting pintu kamarku dengan koper yang penuh oleh baju-bajumu, menyisakan jejak-jejak kehilangan yang direkam oleh dinding kamar.

“Jaga dirimu baik-baik, Dean. Aku mencintaimu.” ialah kata-kata terakhirmu sebelum membanting pintu kamarku keras-keras. Kau mencintaiku, Namira? Lalu untuk apa kau pergi?

Aku seharusnya tahu ini akan terjadi. Aku juga tahu ini berat untuknya dan untukku. Bukan salahmu, Namira. Bukan salahmu. Seharusnya ini tidak dimulai Namira. Seharusnya kisah ini tidak usah ada.
Sebab aku tahu, di ujung kisah, kau pasti pergi dari hidupku. Dan memilih suami dan kedua anakmu dari pada aku.

Namira, there’s one thing that’s still the same, in my heart you have remained.

Depok, 28 Januari 2015

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku