[CERPEN] Pilihlah Aku – Sheila On 7


Tubuhmu masih berada di sisiku. Duduk manis di samping kananku. Duduk saling menekuk lutut. Menikmati suara debur ombak yang mengisi keheningan yang asing untuk kali pertama di antara kita. Di bibir pantai, ombak bergulungan menyentuh kaki-kaki kita yang tak terjulur ke laut. Dingin udara malam memeluk tubuh kita, sebab tangan kita tidak dapat saling menyentuh. Aku sendiri di sini urung untuk menggapai tubuhmu agar bisa menghalangi dingin udara malam ini di tubuhmu.

Kau memandangi laut di depanmu. Rambutmu yang panjang dan ikal bergoyang ke belakang, tertiup angin pantai yang sepoi-sepoi. Aku masih memandangi wajahmu yang sedih. Ingin sekali tanganku meraihmu untuk secenti saja lebih dekat denganku. Untuk sekali lagi saja.

“Bar, maafkan aku.” Kau menoleh ke arahku. Wajahmu sedih sekali. Aku tahu ini bukan salahmu. Memang aku terluka, tapi aku tahu itu bukan salahmu, Nda. Tenang saja. Aku tersenyum.

“Bukan salahmu, Nda.” aku mencoba menenangkanmu. Sekali lagi, debur ombak memenuhi indra pendengar. Terdengar syahdu sekaligus memerihkan.

Kau yang duduk di sampingku sebenarnya baru saja membanting hatiku dari lantai 73 sampai lantai dasar. Membuat pecah berkeping-keping. Hancur tak berbekas. Jika tubuhku yang dilemparkan, mungkin aku sudah mati. Begitu juga hatiku.


KAU. Perempuan bernama Renda. Aku mengenalmu enam bulan yang lalu. Di sebuah toko buku. Tak disangka, ternyata kita cocok dalam hal lain selain buku. Setelah itu, kita jadi rajin berkomunikasi, jalan bareng, dan sebagainya. Tentu saja hal ini menumbuhkan sesuatu dalam degup jantungku. Sebuah perasaan yang serupa bunga. Terus tumbuh dan mengundang banyak kupu-kupu. Indah.

Aku menyukaimu. Menyukai caramu tersenyum kali pertama. Menyukai alismu yang tebal tanpa digambar seperti kebanyakan perempuan sekarang. Menyukai caramu membaca buku. Menyukai aromamu, yang kutangkap adalah aroma vanilla. Lembut memikat. Aku menyukaimu. Bahkan, kukira lebih dari perasaan suka. Sayang, mungkin. Atau yang lebih agung lagi, cinta. Aku mencintaimu.


Selama enam bulan aku menyimpannya. Menyimpan perasaan ini. Kau tak tahu. Enam bulan kita bersama tanpa terikat apa-apa. Bukan kah itu tidak mengenakan? Aku bukan bermaksud menggantungkanmu, hanya saja, kau telah memiliki kekasih.

Ironis.

Sadarkah kau kusayangi?
Sadarkah untukmu kubernyanyi?
Terbacakan niat tulus ini
Degup jantung kian terbisik…

Dan kau, bukan memberiku harapan palsu, bukan. Aku tidak perduli niat apa di balik sikapmu yang manis padaku. Sebab itu, aku pikir, kau memiliki perasaan yang sama terhadapku. Kupikir begitu. Salah kah aku berpikir begitu?
Bagaimana tidak? Kau rajin sekali menemaniku latihan band, dan menontonku kalau ada manggung di beberapa tempat. Kau selalu memujiku. Kau selalu memuji hasil karyaku. Kau selalu suka suaraku. Lembut dan memikat, katamu.

“Bar, menurutmu, kita harus bagaimana?” tanyamu lagi. Aku menoleh, tanpa berkata apa-apa. Diam seribu bahasa.

“Bar, jangan diam saja.”

Kadang kata tak berarti
Kalau hanya kan sakiti
Diam bukanlah tak ingin
Degup jantung kian terbisik

Nda, kau harus tahu, sebenarnya aku ingin mengatakan ini. menyatakan semua perasaan yang ada dalam dadaku. Aku sesak menyimpan ini sendirian!
Tapi bagaimana? Ingatkah kau sebelum hening ini, kau berkata apa padaku?

“Dia melamarku, Bar. Aku akan menikah dengannya.” ujarmu sedih. Lalu kau meminta maaf, karena itu pilihanmu.

Aku tidak akan menyuruhmu untuk membayangkan bagaimana perasaanku, Nda. Bagaimana jadi aku. Jangan. Terlalu menyiksa untukmu. Cukup aku saja yang merasakan ini.

Pandangan mataku terus tertuju pada laut. Aku tidak berani memandangimu yang lagi menatapku. Mata sedihmu itu, Nda, membuatku rapuh.

Aku yang kan mencintaimu,
Aku yang kan slalu mendampingimu
Bila bahagia yang akan kau tuju
Bila butuh cahaya tuk menemanimu,

Pilihlah aku.

Dalam hening. Tanpa suara debur ombak yang menerjang, di kepalaku dipenuhi lagu Sheila On 7. Lagu kesukaanmu, Nda. Pilihlah aku.
Terputar di kepalaku bagian reff lagu itu. Aku menarik napas panjang, lalu membuangnya ke udara malam. Aroma asin laut tercium getir. Aku yang kan mencintaimu, aku yang kan slalu mendampingimu, bila bahagia yang akan kautuju, bila butuh cahaya tuk menemanimu, pilihlah aku.

Pilihlah aku. Aku hanya bisa menggumam tanpa bisa menyuarakan. Hening kembali mengisi. Kau juga tak bersuara lagi. Sepertinya, kau memahami diamku.

Nda, kau tahu? Aku sudah terlambat.
Bukan. Aku bukan terlambat menyatakan cinta. Ini lebih fatal.
Aku terlambat datang ke hidupmu. Sehingga kau lebih dulu bertemu laki-laki itu. Laki-laki yang kan mendampingimu. Mengantarkanmu menuju bahagiamu. Laki-laki pilihanmu.

“Bar, aku benci memilih!” kau mengumpat. Aku menoleh, tersenyum. Padahal dalam hati, rasanya sulit sekali untuk tersenyum, Nda.

“Hidup itu selalu tentang pilihan, Nda. Selalu.” ujarku padamu. Lebih tepatnya, pada diriku sendiri.

Bar, ini mungkin saatnya kau menjadi yang bukan pilihan. Terima itu, Bar. Ingat, cinta bukan perihal menang atau kalah. Cinta itu ikhlas merelakan, aku menguatkan batinku sendiri.

“Tapi, Renda. Aku ingin kau mengetahui satu hal, sebelum kau pergi.” ujarku. Lalu hening yang lumayan lama. Debur ombak kembali terdengar.

“Apa itu, Bar?” beberapa saat kemudian, kau bertanya.

Aku berdebar keras di sini. Sebenarnya, tak yakin untuk mengatakan. Tetapi aku tak mau menyimpan ini sendiri lagi. Kau harus tahu, meski tiada gunanya lagi.

“Aku mencintaimu, Nda.” bisikku. Kau tersenyum di sampingku. Menggeser tubuhmu, lalu menghambur memelukku. Menangis.

Nda, biar dekapku sedang meminjam tubuhmu di sini, ada sepenggal potongan lirik lagu Pilihlah Aku yang terputar di kepalaku, untukmu. Sepenggal lirik lagu yang kan terus mendekam di bibirku. Sepenggal lirik yang tak bisa kukatakan kepadamu, padahal sebenarnya ingin,

Jangan sempatkan berlalu
Kalau karyaku yang kautunggu
Jangan hanya aku yang tahu,
Aku cinta padamu (Itu sebabnya aku harus mengatakannya. Jangan hanya aku yang tahu. Meski itu tidak ada gunanya lagi.)

Mohon warnai jiwaku,

Mau kah hidup bersamaku?

Nda, mau kah kau hidup bersamaku? Itulah satu pertanyaanku untukmu yang terpendam, Nda.

Nda, setelah ini, do’a ku cuma satu; Semoga kau selalu bahagia. Meski bukan aku pilihanmu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s