Mabuk

kau duduk di depanku lagi. kali ini bukan dengan kopi. bau alkohol menyengat di mana-mana. alunan musik jazz diputar mendayu-dayu. ini adalah tempat mabuk yang tenang, pikirku. kursi dan meja kayu ditata rapih, beberapa orang pesta bir di ujung sana, semacam reuni barangkali. dua pasang kekasih tampak tenang menikmati makan malamnya dengan dua botol berleher panjang di masing-masing mejanya. sedangkan kita seperti sepasang kekasih yang asing. walaupun sebenarnya bukan sepasang kekasih.

kau belum mengucap sepatah kata pun setelah aku datang. mungkin kau jenuh dan kesal setelah menunggu kedatanganku yang ngaret seperti biasa. aku sudah mengatakan maaf, jalan kalimalang yang biasa aku lalui untuk ke sini macet parah, seperti biasa. kita sudah sama-sama tau kalau macet adalah teman sehidup-sematinya jalanan itu. namun kau tetap diam. tak lama seorang pramusaji perempuan datang membawakan dua gelas anggur dan satu botol san miguel.

“kita akan mabuk, Al?” tanyaku bingung.

kau menatapku dengan tatapan yang aku sama sekali tidak mengerti, apa artinya. tatapan mata yang dingin. sejuk namun menusuk.

“aku butuh keberanian, dan kau butuh kejujuran, Na.” katamu sambil menuangkan cairan alkohol itu ke gelasmu sampai setengah penuh.

aku terdiam mendengar jawabanmu yang tak ayal menciptakan tanya-tanya di kepalaku. keberanian untuk apa? kejujuran apa? dalam hati, ingin sekali malam ini melayang bersamanya. mabuk oleh san miguel dan omongan tentang cinta yang membuat kita bahagia. aku tersenyum samar, membayangkan apa yang kan terjadi nanti. membayangkan sebuah harapan.

kau diam, menunggu aku bertanya, barangkali. gelas itu sudah berada di tanganmu dan kau menenggaknya perlahan. kesadaran dalam kepalamu memudar, Al. agar apa?

“minumlah dulu.” tawarmu dengan suara yang lemah.

aku tergugu diam. menatap gelas dan botol bir itu bergantian. ada apa dengan kita? apa yang ingin kau katakan? katakanlah. aku ingin mendengar dengan kesadaranku yang penuh.

aku menggeleng. “katakanlah dulu Al. aku ingin mendengarmu dalam kesadaran penuh.”

“kau yakin?” tanyamu sambil menenggak alkohol di gelasmu lagi.

aku mengangguk yakin.

“baiklah, kau yang memaksa.” kau menenggak habis bir di gelasmu. kemudian, kau menuangnya lagi. aroma alkohol itu kini menyengat di depanku, berbaur dengan udara segar.

Na, aku tidak tau bagaimana memulainya. aku bingung.” pipimu memerah di kulit wajahmu yang kuning gelap. wajah asia yang lagi mabuk, atau malu-malu.

“katakan saja, Al.” dadaku berdegup kencang. ulu hatiku nyeri. ingin mendengar pernyataannya dengan tergesa. katakan, al! cepat katakan! dag-dig-dug dadaku berdebar-debar, berdebum, rasanya tak keruan. ingin cepat-cepat tau akhir bahagia kisah ini. ingin cepat-cepat satu.

Na, aku ingin bertanya padamu.” katamu. jantungku makin berdegup.

“tanya saja.” kataku berusaha tenang. aku akan jawab, ‘ya’ secepat kilat.

kau terdiam lama. menatapku lekat-lekat. lagi-lagi dengan tatapan yang tak aku mengerti. degup jantungku semakin keras. berharap-harap cemas.

“apa kau mencintaiku, Na?” DOR! pertanyaan itu begitu saja menembakku tepat sasaran. aku tergugu gugup akan menjawab apa.

Al, kenapa kau harus bertanya, padahal seharusnya kau sudah tau jawabannya. mengapa baru sekarang kautanyakan itu, Al? setelah tatapan-tatapan yang kita bagi, setelah segala kisah dan apa-apa yang kita bagi berdua. mengapa baru sekarang kau tanyakan? seharusnya kau sudah tau.

aku mengangguk pelan. aku rasa, hari ini kau harus tau segala perasaanku, Al. biar kau tak semena-mena pergi. biar tanya-tanyamu diam, dan kemudian tanya-tanyaku yang diam.

“kau mencintaiku, Na?” kauulangi lagi pertanyaanmu. seperti tak yakin dengan jawabanku. ah, Al, masuklah ke dalam bola mataku dan rasakan, ada cinta di sana. lama. untukmu. kau harus percaya.

“i..ya, Al. aku gugup. a..aku, sudah melakukannya sejak lama. me..mencintaimu.” kataku berani. ini seharusnya tabu diucapkan seorang perempuan sepertiku. dadaku berdegup kencang. bibirmu tak naik sama sekali. geming. pipiku terasa panas. kau masih geming. pandanganmu tertuju pada gelasmu yang kauisi kembali.

‘kau itu sebotol anggur, Na. perempuan bertubuh indah, cantik, dan bisa membuat mabuk siapa saja yang rapuh. tetapi isi botol anggur itu, Na adalah perasaanmu yang malu-malu.’ aku teringat puisi yang kaubacakan untukku. apa aku sudah cukup malu untuk membuatmu mabuk, Al? sudah cukup? apa aku bisa membuatmu mabuk, Al? aku bertanya-tanya dalam hati.

kau memutar-mutar gelas anggur itu, cairan san miguel bergerak-gerak ke kanan-kiri mencari arah. menunggu tenang. kau bahkan tak tersenyum sama sekali ketika aku menyatakan cinta. dingin. perasaan malu itu kini sudah keluar dari tempatnya, menjalari setiap tempat yang menjadi wadahnya. botol itu kosong. aku tak bisa membuatmu mabuk lagi.

Na…” kau menenggak birmu lagi. kini bukan dengan gelas, tetapi langsung dari botol san miguel yang seksi itu. kau sudah kepalang mabuk.

“aku mencintai orang lain.” katamu dengan suara parau. kau sudah mabuk. kata-kata itu keluar dengan jujur. aku tercekat. si-a-pa? orang lain? bukan aku? hati yang berdegup barusan melemah. rontok sebelah.

aku diam. tak dapat mengatakan apa-apa lagi. terpaku pada kalimatmu yang terakhir. kau terus minum alkohol itu dari botolnya. lalu tertunduk di lenganmu sendiri. meracau.

“aku mencintainya sudah lama. dia perempuan terindah dalam hidupku.” hatiku pecah seketika.

“saking keindahannya yang keterlaluan, aku dibuatnya gagu. di hadapannya aku hanya patung. tak bisa mengatakan apa-apa. padahal, aku cinta. cinta, Na!” kau terus meracau. botol yang isinya tinggal seperempat itu kau ketuk-ketuk ke meja kayu. menciptakan bunyi yang memilukan.

aku melongok, melihat keadaan hatiku yang kini hujan. bukan dengan air, tetapi dengan luka. lagi-lagi cinta, lagi-lagi luka.

“tapi persetan, Na! persetan dengan rasa pecundangku. aku akan mengatakannya besok. kau harus tau.” mengapa aku harus tau? kau makin tenggelam pada lenganmu. masih mengetuk-ngetuk botol itu pada meja. matamu pejam di balik lenganmu. aku menangis. dan kau tak perlu tau.

“aku ingin melupakannya dengan mencintaimu, Na. tetapi ternyata tidak bisa. perasaanku padanya terlalu tebal. bahkan kau, tak mampu menembusnya. tak ada yang bisa.” aku menangis semakin keras dalam diam. dalam hening yang sakit. dalam sepi yang menyiksa. Al, tidak cukup kah aku untukmu? aku bertanya pilu dalam hati.

kau mencengkram leher botol itu kuat-kuat. menghentaknya ke meja, lalu kau terbangun dari lenganmu. duduk setengah tegak. menatapku dengan mata yang setengah redup. cahaya mata itu pudar oleh alkohol yang masuk ke dalam tenggorokanmu. tetapi, kau masih sama. masih Al milikku. bukan. bukan milikku.

kau menarik napas yang panjang. bersiap pergi (lagi) tanpa peduli airmataku yang terus mengalir. kau tidak lihat itu, Al. kau terlalu mabuk. matamu sudah kabur oleh alkohol. dan itu baik untukmu. kau tak perlu lihat lukaku. kau tak perlu tau.

“aku harus pergi. banyak yang perlu aku siapkan. besok hari ulangtahunnya. perempuan itu perlu tau, dia adalah keindahan yang hidup dalam darahku. tak ada siapa-siapa lagi.” aku menatapmu nanar. besok, bukan hari ulang tahunku. aku bukan keindahan yang tumbuh di nadinya. aku, bukan siapa-siapa.

aku tak dapat berbicara apa-apa.

lidahku kelu, tubuhku beku. napasku sesak.

“kau mencintaiku, Na?” tanyamu lagi. buat apa, Al? buat apa? jawabanku tak dapat mengubah apa-apa. aku tetap bukan siapa-siapa. buat apa kautanya terus-terusan, kalau bukan untuk aku puisi-puisimu yang kautuang ketika mabuk tadi? buat apa? kalau kau mencintai orang lain. buat ap..a..?

aku diam. tak menjawabnya lagi. namun aku mengangguk lemah sambil menangis dengan suara yang setipis bisikan. dan kau buta untuk melihat butiran bening itu jatuh ke pipiku. Ya, Tuhan…

kau menatapku lama. masih dengan senyum yang tak ada. masih dengan wajah yang dingin.

“kau tau, Na? aku bahagia bersamamu. senang berada di dekatmu. tapi itu tak cukup untuk membuatku lupa padanya. perempuan itu lebih dari sebotol anggur. perempuan itu, lima botol! dia membuatku mabuk sampai gila.” kau mengucapnya jujur. sangat jujur. aku tau, aku butuh kejujuran itu, dan kau butuh keberanian untuk mengatakannya. namun, sepertinya kau lupa, kejujuran bisa membunuh. semoga saja, kejujuranmu tak cukup kuat untuk membunuhku.

“kau masih mencintaiku, Na?” kau bertanya lagi. badanmu condong ke depan, membuatku mundur sekian inci dari harum bibirmu yang penuh alkohol. harum bibirmu yang sewaktu-waktu aku harap bisa membuatku mabuk.

“kau benci padaku? kau akan pergi jauh setelah ini? jawab, Na.” kau menghentak botol itu lagi. kali ini isinya kosong. san miguel itu sudah tinggal nama yang tertera di wajah botol.

aku menunduk. tak berani lagi menatap matamu. aku takut jatuh lebih dalam. cukup sampai sini saja. sampai sini saja, sudah menyiksa. aku enggan terperosok lagi. cukup!

aku menggeleng. menjawab pertanyaanmu. aku tak ingin membencimu, tak ingin pergi darimu meskipun itu mungkin saja aku lakukan. dan wajar saja aku lakukan. tapi, tidak. aku meragukan kesanggupanku untuk membenci dan pergi jauh darimu. aku…ah, tangis itu semakin sakit! dadaku yang mulanya berdegup, kini nyeri di sekujurnya. nyeri sekali sampai rasanya sesak!

“hanya itu jawabanmu? menggeleng saja cukup?” aku mengangguk. kau mengusap wajahmu gusar. putus asa menghadapi diamku.

“kau tak ingin mengatakan apa-apa lagi?” kau bertanya lagi. aku menggeleng. kata-kataku sesungguhnya ingin menamparmu, Al. kesedihan-kesedihanku ingin sekali kau ketahui, tapi aku tak mampu. segala kata-kata yang menumpuk di ujung bibir, lumpuh! dungu! hanya diam yang mampu mewakili segalanya. segala kata-kataku.

“baiklah. aku lebih baik meracau pada radioku. setidaknya, racauanku dibalas dengan suara, bukan diam.” ujarmu. suara decitan kursi terdengar ngilu di telinga. kau sudah bangkit sambil terhuyung. menenteng tas yang sama. entah apa isinya. mungkin bunga mawar, atau sekotak kecil berisi cincin untuk perempuan itu. atau mungkin buku puisi cinta kahlil gibran yang selalu kaubawa. entah. seentah jalan pikiran dan hatimu yang tak lagi bisa kutapaki.

“banyak yang harus kupersiapkan. selamat tinggal, Anna. mungkin, suatu hari kita berjumpa lagi. aku tidak janji.” katamu sambil pergi. tubuhmu oleng ke kanan-ke kiri.

“Al…” aku baru membuka suara ketika langkahnya mencapai angka ke tujuh. kau berhenti.

“tidak usah khawatir, Na. aku masih bisa menyetir. aku tak semabuk itu.” katamu tanpa menoleh. lalu mengambil langkah ke delapan dan seterusnya. sampai tenggelam di ujung jalan. dimakan gelap yang kelam.semoga kau baik-baik saja, bisikku pelan.

akhirnya, aku benar-benar sendirian. ditemani lampu-lampu kuning yang redup, bau-bau alkohol, dan suara denting gelas yang berciuman. di mana-mana riuh rendah orang berteriak ‘bersulang!’ lalu denting itu lagi, riuh suara orang berbicara, riuh suara orang berteriak ‘wohoooo!’. heboh sekali. tetapi di sini hening. di mejaku hanya ada hening. dua gelas anggur dan sebotol san miguel yang sudah kosong.

ada kejujuran yang seharusnya kau tau, Al. keinginanku untuk mabuk san miguel bersamamu. mabuk kata-kata cinta, dan ciuman-ciuman dengan aroma kopi atau alkohol di bibir kita. keinginanku untuk bersamamu. keinginanku untuk mewujudkan harapanku. ah, Al. kau terlalu cepat datang, terlalu cepat pergi. aku meremas harapanku yang lalu, kubuang ke tempat sampah terdekat. harapanku, sampah!

aku menangis, tersedu, terdiam. tenggelam pada lengan-lenganku. tanpa apa-apa. tanpa kopi, tanpa alkohol, tanpa kekuatan.

aku mencengkram leher botol itu dan mengetuk-ngetuknya seperti yang kaulakukan barusan. seperti orang mabuk. sepertimu.

tangisku pecah di lenganku. tak kuasa lagi menahan suaranya. tangisanku kini menjadi bising. berbaur dengan suara denting gelas yang berciuman, suara sorak-sorai bersulang.

tak ada lagi yang harus aku tunggu.

semuanya sudah habis kau bakar, Al. semuanya sudah habis kautenggak.

aku berjalan ke bar yang sinar cahayanya lebih redup daripada ruangan ini. aku butuh itu. keredupan itu. serupa harapanku yang kian tipis. bar itu memanjang. masih pukul sebelas malam, belum terlalu ramai. di meja bar itu, hanya ada dua orang yang letaknya sama-sama di ujung. sudah mabuk oleh duka-dukanya, barangkali. mereka berdua tertunduk pada lengan-lengan. sepi sekali.

aku mengambil tempat duduk di tengah. diapit dua orang yang sama terluka sepertiku. dua-duanya laki-laki.

“mau minum apa?” tanya seorang pemuda bertubuh atletis, berwajah asia sepertimu, Al. aku sama sekali tidak tertarik. persetan dengan itu!

a bottle of san miguel, please. i don’t need a glass.” jawabku. pria itu mengangguk sambil menatapku lama.

san miguel itu ada di tangannya. seperti kau yang menggenggam botol itu. pria itu membukakan tutup botolnya untukku. aku tersenyum berterimakasih.

Al, malam ini aku ingin lupa. lupa kalau kita pernah duduk di meja itu. dengan racauanmu dan dengan mabukmu. aku ingin lupa pada puisi-puisimu untuk perempuan itu.

aku ingin melupakanmu. melupakan kita.

aku menenggak botol itu pelan-pelan. rasanya tak terlalu buruk, namun mampu menghapus separuh kesadaranku malam ini. dan itu bagus.

kutenggak lagi. terus. sampai aku lupa. bahwa aku pernah mabuk di meja bar ini, sendirian.

ilustrasi : weheartit

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s