Pertanyaan dan Jawaban [CERPEN]

kau terhenyak. menunggu hening itu pecah dari bibirku. kau tertunduk, bersalah. sebelas kali kau ucapkan maaf, aku tetap diam. geming bertanya-tanya, kenapa. kau tak pernah bisa menjelaskan. kita sama-sama dungu untuk hal seperti ini. kita hanya pandai merangkai kata, tanpa berani memaknai apa itu cinta lebih jauh. alasannya klasik, kita pernah sama-sama terluka.

“Al, aku bahagia bersamamu.” ujarku pelan. kau menatapku nanar. ada sebersit luka di sana, aku tau.

“aku juga, Na.” katanya di depanku yang hanya dipisahi meja kayu bundar.

“tapi, kenapa harus seperti ini?” aku bertanya lagi. mengapa?

kau kembali tertunduk. terpekur sepi di sekelilingmu. sedang aku, ramai oleh tanda tanya. napasmu memburu, kau mengambil sebatang rokok dari kardus merah itu dengan tergesa. aku diam. kau mulai menyalakan korek untuk membakar selintingan racun itu dan mengisapnya jengah.

“aku harus pergi. apa kamu tak ingin menahanku agar kita tetap bersama, Na?” tanyanya gusar. gurat kecewa itu makin kentara. dan malam semakin larut, juga duka itu. duka yang sama dengan sepi yang sama pula.

aku tersenyum mendengar pertanyaan yang kaulontarkan. “buat apa menahanmu, Al? sekali pun aku ingin, aku tidak akan melakukannya.” tegasku. kau mengisap lagi rokok di jemarimu.

“kenapa? karena gengsi? dasar perempuan!” katamu kesal. sekali lagi, aku tersenyum.

“bukan.”

“lantas apa?”

“Al, aku tak ingin mempertaruhkan kebahagiaan siapa-siapa di sini. aku tidak akan jamin kau akan bahagia jika aku menahanmu. dan mempertahankan kita.”

kau diam. tetapi aku tau kau berpikir banyak hal. ah, seandainya saja aku bisa membaca yang kaupikirkan, akan kutulis semuanya, akan kuwujudkan semuanya. namun kau tau? aku buta membaca hatimu!

“kalau aku pergi, apa kamu menyesal? apa kau akan melupakanku, Na?” tanyamu melonggarkan nada suaramu.
“kalau aku bahagia bukan denganmu, bagaimana, Na?” tanyamu lagi.

aku terpekur diam dihujam dua pertanyaanmu. entah. apa aku menyesal, apa aku akan melupakan? tidak. tidak akan. bagaimana bisa aku menyesal? kehadiranmu adalah hadiah dari Tuhan, keindahan dari salah satu hambaNya. dan Ia berbaik hati mempertemukan aku denganmu.
bagaimana aku akan melupakan? kalau setiap puisi yang lahir dari jemariku ini selalu tentangmu. tentangmu. dan tentangmu.

namun, pertanyaan terakhir membuatku limbung. bagaimana kalau bahagiamu bukan denganku? ba-gai-ma-na? aku tidak tau. sungguh, untuk hal yang ini aku tidak tau.

“jawab, Na! bagaimana?”

“Al, aku tidak pandai menerka waktu. kau juga, kan? yang jelas, aku tidak akan menyesal, apalagi melupakanmu.” aku tertawa menyimpan getir sendirian. entah kalau kau bagaimana.
“kalau bahagiamu bukan denganku, al? ah, tidak apa-apa. mungkin aku bahagianya orang lain. tapi ingatlah al, ketika hidupmu dirundung bahagia bersama siapa pun itu, aku selalu menyelipkan do’a di sana. untukmu.” aku hampir menangis mengatakannya. sungguh tak bisa dibayangkan kalau kau bahagianya bukan bersamaku. lantas, siapa bahagiamu? aku cemburu. pada prasangka yang kutidaktau. lalu, siapa bahagiaku? aku sudah malas mencarinya lagi.

“begitu? kau terlalu pasrah, Na.”

“aku harus apa, Al?”

“kau tak melakukan apa-apa untuk bersamaku.” katamu ketus.

“kau tidak pernah tau apa yang kulakukan. kau tak perlu tau. aku telah menyiapkan tabah yang panjang untuk menunggumu kembali lagi nanti.”

“aku butuh bukti, Na. jangan hanya merangkai kata.”

“pergilah, Al. akan kubuktikan semua yang aku ucapkan.”

“baiklah.” kau bangun dari dudukmu. meraih tas yang tergeletak sejajar dengan kakimu. rokok itu sudah habis. kopi itu sudah habis. kopiku juga sudah habis. dan, waktu kita yang sebentar lagi habis.
“aku harap kau baik-baik saja.” katamu sambil berbalik arah, memunggungiku kali ini tanpa menunggu satu-dua huruf dari bibirku.

aku menatap punggungmu yang kian lama kian samar. menggigit bibir, menahan tangis yang hampir pecah untuk keberapa kalinya di tahun ini. berbisik lirih pada udara di depanku ketika kau sudah tiada, keluar dari pintu kafe ini dan benar-benar berlalu dari hadapanku; pergilah, al. jangan khawatirkan aku dan perasaanku yang selalu utuh sampai entah. aku tidak menjanjikanmu waktu selamanya. aku akan menunggu sampai entah, sampai lelah. aku menunggumu semampuku.

“bagaimana jika bahagiaku bukan denganmu?” kuteringat pertanyaanmu beberapa menit lalu.

ah, al. aku tidak bisa melakukan apa-apa. aku takut mempertaruhkan sesuatu. apa lagi mempertaruhkan bahagiamu demi egoku. sungguh aku ingin menahanmu. sungguh aku ingin jika aku yang kau pilih sebagai bahagiamu. tapi jika penulis kisah roman kita, bilang tidak, apa yang bisa aku perbuat? aku hanya tokoh. kau juga hanya tokoh. kita hanya sebatas kisah, al. kita tak bisa memilih jalan yang mana yang terus lurus-lurus saja. bahagia-bahagia saja. tidak bisa. aku ingin bersamamu, entah kau bagaimana, tapi Tuhan? aku tidak bisa berandai-andai, al. menakar, dan menerka itu bukan keahlianku.

“kau terlalu pasrah, Na.” umpatmu ketus.
iya. aku memang terlalu pasrah. kau boleh katakan aku sebagai pecundang. itu memang kelemahan terburukku. tapi kau tau? aku tak sepengecut itu. setelah ini semua, al. semua luka yang menikamku, atas kau atau atas masa lalu ku yang semua kelam, aku masih berani jatuh suatu hari nanti.

suatu hari nanti, jika kau kembali, dan aku juga kembali jatuh di hadapanmu, ulurkan tanganmu. bantu aku bangkit dan mencintaimu kembali sembari berdo’a agar kali ini kisah kita panjang sepanjang sisa usia kita.

al, aku harap kau adalah kotak yang selama ini kucari.
dan aku adalah kotak yang kaucari.

al, hati-hati. aku selalu mendo’akan perjalananmu.
kepada siapa pun kau berlabuh nanti.
semoga, aku dermaga yang terakhir.

ilustrasi : weheartit

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s