Rindu, Sepi (?)

apa kau rindu aku, al? apa sepi itu milikmu juga? aku bertanya dalam hati. sudah hampir sebulan aku tak berjumpa lagi denganmu. rinduku membuncah itu pasti. hari demi hari kulewati tanpa hadirmu, bahkan aku tak menulis lagi setelah terakhir bertemu denganmu. naskahku terlantar hanya karena memikirkanmu sepanjang bulan ini. iya lah, gimana mau selesai? dari mulai menggarap bab awal naskahku, kau kan selalu menemani, dan menyemangati. sekarang, sudah di bab ke delapan, dan kau menghilang entah ke mana.
bahkan, kali terakhir kita bertemu, kau melukaiku.

“mbak, mau potong model apa?” tanya laki-laki berpenampilan metropolis di belakangku. membuyarkan segala lamunanku mengenai engkau.

engh..potong pendek aja deh mas, ala-ala yuni shara.” jawabku. potong pendek? yakin? aku menggumam. ah, kau kan pernah bilang kalau tak pernah menyukai perempuan bergaya rambut seperti laki-laki. katamu, perempuan berambut panjang sepertiku itu cantik. menjaga keindahan alami wanita. aku tersenyum getir. itu kan kemarin, masa bodoh dengan hari ini.

“mbaknya yakin potong pendek? ndak sayang sama rambutnya? nantinyesel loh. perempuan kan gitu.” kapster laki-laki itu tertawa kemayu.

“yakin, mas. malah niatnya mau di-skin kanan-kiri aja.” kataku cengengesan, menanggapi.

“jangan panggil mas dong, ses aja..” dia tersenyum genit. aku mengangguk, mengiyakan.

siang ini salon langgananku tidak terlalu banyak pengunjungnya. hanya ada lima sampai tujuh orang di sana, termasuk aku. meskipun ini salon langganan, aku sebenarnya jarang ke salon hanya untuk mengurus penampilan. kerjaanku sudah menumpuk. deadline, dan tugas-tugas kantor yang harus memaksaku berdiam di kubikel untuk menyelesaikan pekerjaanku sebagai anggota redaksi di majalah fashion. ironis, memang. kerja di majalah fashion, tapi jarang ke salon.
tapi hari ini pengecualian. aku ingin memanjakan diriku. menghabiskan setengah gaji bulan ini untuk penampilan. bulan ini, aku mumet! jangan tanya karena siapa al, ini karenamu! lagi pula, sebentar lagi natal, aku ingin terlihat fresh dan tidak menyedihkan saat bertemu sanak-saudara nanti.

rambut-rambut itu jatuh helai-per-helai. meninggalkan bekas kehilangan di ujung rambut yang dipotong. aku menatapnya satu-per-satu yang jatuh ke lantai setelah bunyi “cssskkk-cssskkk..” suara gunting yang memotong rambut-rambut panjangku. biasanya, kalau potong rambut, aku pasti memperhatikan si kapster dan selalu memperingati agar jangan terlalu pendek. tapi kali ini, masa bodoh. aku sudah lupa rasanya kehilangan rambut-rambut yang jatuh karena dicukur. aku sudah kebal oleh rasa kehilangan secemen itu. kehilanganmu yang kemarin, al, jauh lebih menohok. jauh lebih pahit.

“gimana, mbak? udah kece belum?” tanya kapster laki-laki itu setelah memblow rambutku yang kini berpotongan ala laki-laki. kau pasti akan memakiku, al, atau bahkan tertawa terpingkal-pingkal melihat potongan rambutku yang baru. aku saja hampir tak percaya dengan bayanganku sendiri di depan kaca. tapi sepertinya, ada yang kurang dengan potongan rambut ini…emh, apa ya? oh! aku bilang ke kapster itu kekurangan dari potongan rambutku, dan ia langsung tanggap mengeksekusi rambutku lagi. aku tersenyum puas setelah melihat hasil akhirnya.

***

apa kau rindu aku, al? apa sepi itu milikmu juga? aku bertanya dalam hati.

aku bukan di salon lagi. malam ini aku menyempatkan diri ke onio’s gallery tatto. yap, aku berniat menato tubuhku. sedikit saja. dan mem-piercing ujung telingaku. dengan potongan rambutku yang sekarang, akan lebih pas kelihatannya jika telingaku sebaiknya punya aksesoris seperti anting. tapi, anting? no. tidak lagi. lebih baik, di-piercing saja sekalian di salah satu ujung telingaku.
kata teman-temanku yang tubuhnya ditatto, menato itu butuh tekad yang bulat, apalagi jika memilih untuk ditatto permanen. iya, aku memilih untuk ditatto permanen. lagipula, katanya lagi, ditatto itu sakit. bayangkan saja, ketika jarum suntik menggores-gores kulitmu! itu kata Key, teman sekantorku yang di tubuhnya penuh tatto. aku tau, Key sangat menyayangkan perubahan penampilanku. perubahan dari gadis bernama Anna yang manis menjadi Anna yang tanda kutip.

perduli setan. Key tidak tau apa-apa mengenai aku denganmu, al.

aku merasakan bagaimana rasanya ditatto. kau tau, al? sakit sekali rasanya! Key benar, seperti jarum yang menggores kulitmu. kulitku seperti kayu yang dipahat pisau. tapi, kata-katamu yang akhir-akhir ini terus kuingat, jauh lebih memahatku, al. jauh lebih pisau. jauh lebih tajam dan panas daripada jarum pembuat tatto mana pun.
namun, kau tau apa setelah tau rasanya sakit ditatto dan di-piercing? aku tersenyum. percis ketika tau rasanya sakit ditinggal pergi lagi olehmu, al. aku tersenyum.
tapi bedanya dengan sakit ditatto dan ditinggal kau pergi entah kemana, jauh lebih sakit ketika ditinggal kau pergi, al. setelah ditatto, aku mungkin kesakitan, tapi aku puas. senang setelahnya. dan tiada getir yang disisakan di dadaku. tapi setelah kau pergi, al, setelahnya aku kesakitan, aku kehilangan, tiada kesenangan setelahnya. kosong. dan getir-getir itu ditinggalkan di dalam dadaku. banyak sekali. sampai rasanya, aku harus membuat gudang untuk menyimpan segala kegetiran itu, al.

aku berlebihan, al? ah, kau lupa kalau aku lagi menggarap novel bergenre picisan? dan kalau buku itu terbit suatu hari nanti, aku akan menjadi penulis picisan. bukan seperti paulo coelho, gayle forman, atau john green, penulis favoritmu itu.

apa kau rindu aku, al? apa sepi itu milikmu juga? aku bertanya ke seribu kalinya di dalam hati.

dan setelah ini semua, rindu itu masih aku yang punya. dan sepi itu semakin banyak. lalu kau di mana? entahlah.

ilustrasi : weheartit

Iklan

One Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s