[CERPEN] Ketidakwarasan Padaku – Sheila On 7


Aroma obat-obatan menjalari indera penciumanku. Sejak kecil aku membenci aroma ini. Semenjak nenekku meninggal, karena sakit-entah apa- yang tega membunuh nenekku, aku  jadi membenci aroma rumah sakit yang kental dengan bau obat dan cairan yang entah-apa aku tidak tahu. Bau-bau mereka sungguh tak enak, membuatku muak. Membuatku seolah-olah disekap oleh duka yang berkepanjangan.

Suara rintik-rintik hujan terdengar pelan, berirama. Lembut menggoda telingaku. Tapi ini lebih terdengar mencekam daripada bermelodi. Ini adalah kali pertama setelah kematian nenekku aku menginjak lagi gedung bernuansa putih-hijau, beraroma duka dan kabung. Ya, aku di rumah sakit. Terbaring lemah tak berdaya. Tanganku yang kurus harus dijejali selang kecil, dan jarum-jarum kecil itu seolah berebut untuk masuk ke dalam tubuhku. Dan hidungku kini tertutup oleh plastik serupa masker yang katanya dapat memasok oksigen ke dalam paru-paruku. Entah apa yang terjadi sebelum ini, aku tidak mengingat apa-apa lagi selain ingin mencari keberadaanmu. Dianka. Kau ada di mana? tanyaku dalam hati. Tentu saja aku tak bisa mencarimu dalam kondisiku yang sedang dalam keadaan seperti ini. Aku sekarat!


“Dianka, kamu sudah makan? Jangan sampai telat makan, Dianka, aku tidak mau kamu sakit.” Ujarku berbisik. Sedang yang diajak bicara hanya diam saja.

Berbulan-bulan terbaring di rumah sakit karena koma membuatku rindu sekali dengan perempuan yang tlah menemani hidupku dua tahun belakangan ini. Dianka, kekasihku. Entahlah perempuan ini merindukanku juga atau tidak, setahuku setelah aku pulang dari rumah sakit, wajahnya selalu menyambutku dengan datar. Tanpa berekspresi. Seringkali kutemukan wajahnya termangu sedih menatapku.

Ini adalah hari ke delapan aku berada di rumah. Dianka selalu menemani ke manapun aku pergi. Dia sama sekali tidak rewel bila aku memintanya mengobrol banyak hal, sama sekali tidak mengeluh bila aku menumpahkan segala kerinduanku padanya. Dianka akan senang hati mendengarkanku bicara, dan dia akan patuh seperti itu selama aku bercerita. Dianka adalah satu-satunya perempuan yang membuatku merasa didengar. Dia, satu-satunya pendengar yang baik untukku.

“Dimas, itu makanannya habiskan dulu. Buburnya nanti keburu dingin.” suara Mama yang lewat di depan kamarku mengagetkanku.

“Iya, ma. Ini lagi mau makan bareng Dianka.” jawabku singkat sambil menyendoki bubur ayam yang baru saja dibeli Mama. Lalu setelah itu, tidak terdengar apa-apa lagi.

“Dianka, ayo dimakan. Kamu pasti belum makan pagi dari rumah kan? Kamu kan selalu malas untuk sarapan. Sekarang, sarapan ya?” Dianka, kau tidak menjawab apa-apa lagi. Tapi kulihat tanganmu kemudian menyendoki bubur ayam itu kemudian memakannya tanpa banyak cakap. Malah, tanpa berkata apa-apa. Aku tersenyum menyaksikanmu begitu.

“Bagaimana buburnya? Enak tidak? Makanya, kalau tidak enak lebih baik kamu masakin aku yang lagi sakit bareng mama. Mama itu jago banget masak. Kamu harus belajar masak sama beliau. Biar ketika kita menikah nanti, anak-anak kita akan bilang seperti itu juga pada kekasih mereka.” Aku tersenyum. Kau juga. Mimpi yang indah.

“Kau tahu, Dianka? Aku mencintaimu. Aku ingin menikahimu.” Kau tersipu.

Bubur di mangkukku sudah habis, bebarengan dengan mangkuk yang digenggam Dianka. Sudah sama-sama kosong. Kita berdua kemudian hanya diam. Saling menatap. Wajahmu sedih sekali entah mengapa seperti itu. Namun terkadang, kau juga tersenyum manis sekali seperti tidak ada apa pun di dunia ini yang mampu membuatmu murung.

“Dimas, buburnya sudah habis?” Mama masuk ke dalam kamarku, mengambil mangkuk bubur dan dibawanya ke belakang.

Tubuhku rasanya masih sakit semua. Komanya aku berbulan-bulan ternyata tidak cukup memulihkanku sehingga apa-apanya harus diurus oleh Mama. Seingatku, Mama menceritakan segala kejadian sebelum aku koma di ranjang rumah sakit yang berbau obat-obatan itu. Katanya, di malam tahun baru lalu, sepulang dari ancol, aku mengalami kecelakaan parah. Mobil Avanza berplat nomor B -bla-bla-bla aku tidak ingat, menabrak motorku kencang hingga aku terpelanting sejauh tiga meter dengan kondisi helm telah lepas dari kepalaku. Itulah yang membuatku koma berbulan-bulan. Untungnya, sum-sum tulang belakang yang kondisinya hampir membuatku mati, masih bisa dipulihkan dengan beragam pengobatan yang dilakukan oleh tim medis.

“Kau tahu, Dianka? Aku bersyukur masih bisa diberi napas oleh Tuhan, dan masih bisa melihatmu baik-baik saja. Padahal, seingatku, kau juga bersamaku ketika malam tahun baru itu.” Dianka tersenyum tipis. Lebih mirip seringaian.

“Aku bersyukur masih bisa melihat senyummu yang begitu. Cantik.” Dianka masih tersenyum. Pipimu merah jambu. Cantik sekali, Dianka.

“Tapi sepanjang kita bertemu mengapa kau diam saja?” Aku bertanya. Heran. Dianka yang biasanya ceriwis tiba-tiba jadi pendiam setelah kecelakaan itu. Setelah aku pulang dari rumah sakit. Apa tragedi itu terlalu memukulmu, Dianka? Sehingga merenggut segala jiwa keceriaanmu dan juga suaramu yang dulu seringkali rewel?

“Dianka, jangan hanya diam saja. Tolong. Aku rindu suaramu. Bicaralah.” Dianka menatapku sedih. Bukan senyum manis itu yang dia tunjukan lagi. Kini murung yang menjawab permintaanku.

“Dianka, jawab aku!” Namun Dianka hanya diam saja.

Aku kesal. Akhirnya aku keluar dari kamarku. Meninggalkanmu sendirian dalam kamar.  Sedang kau masih diam memandangi punggungku tanpa mencegahku atau berbicara sepatah-dua-patah kata.

Aku terduduk pada kursi kayu jati di teras depan. Menunggumu untuk membujukku masuk ke dalam kamar lagi dan mengajakku berbicara. Tetapi tak lama kemudian, aku melihatmu di depanku. Berdiri dengan gaun biru mudamu. Tersenyum. Cantik sekali. Seketika saja marahku menguap entah ke mana, rasa kesalku pun juga.

Tubuhku berdiri, bangkit dari dudukku. Lalu menghampirimu yang tersenyum. Aku kemudian menghambur ke pelukanmu. Tubuhmu yang ingin terus kurengkuh dalam tubuhku. Aku memelukmu erat sekali. Erat. Aku sangat merindukanmu. Sangat. Teramat. Namun ada hal yang ganjil di kepalaku ketika aku memelukmu. Mendekap erat-erat tubuh yang kurindukan. Aromamu berbeda. Bukan lagi aroma cherry blossom. Parfum kesukaanmu. Kau kini lebih beraroma seperti daun jambu. Namun tak apa, aku tetap suka wangi apa pun yang menguar dari tubuhmu, Dianka.

“PRAAAANNNGGG” suara ribut itu tercipta dari depan pintu rumahku. Kulihat Mama berdiri di situ dengan tatapan takjub. Gelas berisi teh, dan kaleng berisi biskuit tumpah di kakinya berhamburan menjadi beling-beling. Aku menatapnya heran.

Setengah berlari, Mama menghampiriku, menangis,

“Dimaaaasss…..kamu ngapain Nak meluk-meluk pohon?!” Ujar Mama sambil menarik tanganku menjauh darimu. Dianka, kau dibilang pohon sama Mama!

“Ma, itu Dianka, bukan pohon!” Sergahku marah. Mama masih menatapku dengan airmata yang terus turun di pipinya.

“Dianka sudah mati, Nak.”

Seperti ditampar tangan Tuhan, mataku membeliak. Kata Mama, kau sudah mati Dianka? Padahal lihat, kau masih ada di sampingku. Tersenyum. Baik-baik saja. Dianka masih hidup! HAHAHAHA Mama mau menipuku? Jelas-jelas Dianka masih hidup! HAHAHAHAHA… Siapa yang gila? Siapa? HAHAHAHAHAHA.

ilustrasi : weheartit

-fin-

13 Januari 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s