Tungku

januari masih terparkir di pekarangan rumah
hujan masih nampak asik berdansa dengan pasangannya di depan
sepatu-sepatu tap dance terdengar menggeletuk dari sini
dari kamarku

dingin, sudah biasa
rasanya seperti angin malam memelukku nakal
menjalari tiap inci tubuhku tanpa permisi
meraba segala bagian yang tak pernah terjamah siapa pun

gigil, gigiku bergemeletuk
mencoba berjalan di atas es batu
mencari hangat dalam dekap
serupa tungku di dapur ibu

di sana tubuhmu, rupanya
merentang api dalam dadamu yang lapang
warnanya jingga, kemerah-merahan
langkahku segera berlari, menujumu

menuju dekapmu, berhentilah pencarianku. sudah.

(SPS, 13 Januari 2015)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s