Nyala Lampu


Would be nice to hold you
Would be nice you to take you home
Would be nice to kiss you…

Kupuisikan kerinduanku ini,
Lewat lagu yang bisa kaudengarkan
Sebab aksaraku mati kutu ketika berhadapan denganmu
Dan huruf-hurufku ketakutan di balik senyum yang tersungging

Kudapati risau memuisikanmu di kepala
Bagimana ribuan kata rasanya tak cukup tajam
Untuk membunuhmu dalam ingatan
Dan membunuh kita dalam angan dan harapan

Suatu kali kutemukan diriku tenggelam,
Dalam menyentuh dasar palung;
Aku menemukanmu di sana sebagai satu-satunya lampu
Tak pernah padam meski air mataku seringkali menderas di sana

Kini kubertanya, dalam remang lampu di tubuhmu,
Adakah tubuhku menjelma lampu di palungmu?
Lampu yang tak pernah padam meski hanya ada musim kemarau di dadamu
Lampu yang terus membuatmu mengingat hadirku.

Adakah?

Kupuiskan kerinduan ini,
Agar tak hilang dalam benak, bagaimana rasanya
Sebab mungkin di suatu hari aku akan melupakan
Rasa rindu yang menghangat di sekujur dadaku sebab engkau

Satu pesan kutulis di ujung puisi,
Kalimat yang kupinjam dari bibir sebuah lagu,

Jangan pernah lupakan aku
Jangan hilangkan diriku

Sekacau apa pun cuaca di dadamu,
Tetapkanlah aku sebagai lampu di palungmu,
Agar rinduku ini sampai dan menjelma hangat di sana.

Depok, 18 Januari 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s