Malam Di Kantung Mataku

Malam itu angin membenamkanku di tubuhmu. Bintang-bintang kalah sinar dibanding dekapmu yang terang. Bulan bukan lagi bundar, sebab separuhnya tlah menjelma sebagai senyum paling cahaya di ingatanku.

Malam itu hujan menderaskan luka ke dadaku. Kau lah biang keladi. Kau lah kepulan awan mendung di langitnya. Namun entah di mataku, kau lah satu-satunya terang di gelap kelam malam.

Malam itu tatapmu memenjarakanku. Senyummu seperti polisi yang mengintai pembunuh. Kata-katamu seolah menuntutku untuk hukuman mencintaimu seumur hidup.

Malam itu kau merupa kopi pada jam sebelas malam. Membuatku susah tidur sampai bertemu pagi lagi. Melahirkan kantung-kantung hitam di mataku.

Malam itu kau bilang; “Semakin malam, aku semakin mencintaimu.”
Maka kuhabiskan malam-malamku setelahnya bersama kantung-kantung hitam lainnya; untuk mencintaimu.

Depok, 19 Januari 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s