Sepucuk Rindu di Rak Bukumu

1.

Akalku rupanya tak kehabisan cara untuk menyampaikan sepucuk rindu dalam deretan kata yang tersusun di kepala. Liar berisik kata dalam kepalaku agaknya beringas memuisikan kerinduanku padamu; pada engkau yang kini terlalu memanjangkan jarak seolah kau memanjangkan ombak-ombak rambut di kepalamu.


2.

Hujan di senin pagi, aksara merupa bulir hujan yang jatuh satu-per-satu ke daratan pikiranku. Mengingatmu; adalah nama hujan yang paling deras hari ini. Mengenangmu, adalah seorang gadis yang gemar berlama-lama di bawah hujan sendirian. Dan melupakanmu, adalah payung yang tak terpakai di sudut pintu.


3.

Katanya, Tuhan tak suka apa-apa yang berlebihan. Sekarang aku merasa berdosa karena telah merindumu terlalu banyak. Tapi jangan khawatir, jika banyak merindu mengantarkan seseorang ke neraka, aku yakin aku tidak akan sendirian.


4.

Hujan kian deras menampar pekarangan rumah. Ingatan tentangmu jatuh perlahan di kening. Aku masih berdiri di samping jendela. Kian deras hujan di luar, kian deras pula kenangan melebamkan sepasang mata. Tapi aku masih berdiri di samping jendela, membiarkan hujan mampir juga di mataku. Sekali lagi.


5.

Jika hatiku sebuah rumah mungil di hutan yang rimbun bunga mawar, kau pasti berada di sana. Tinggal sebagai penjaga kebun, sebab mawar-mawar yang mekar ialah rindu yang kaurawat dengan tabah.


6.

Ini sajak ke-enam untuk memuisikan kerinduanku yang deras. Lebih deras dari hujan bulan Juni-nya Sapardi.. Lebih deras, lebih panjang dari hujan bulan Desember. Lebih deras. Berhari-hari. Menggenangkan air. Menggenapkan luka. Lalu aku, satu-satunya yang mati terseret arus.


7.

Menghitung hari. Hari yang kuhapal nama-nama-nya. Menghitung hari. Menjumlah berapa tangis dan rindu yang selalu mengisi setiap harinya. Menghitung hari. Hari-hari yang kini jumlahnya cuma satu, itu-itu saja namanya. Bukan lagi Tujuh. Bukan lagi Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu, atau Minggu. Bukan. Nama hari cuma satu bagiku; Hari Merindumu.


8.

Senin. Aku mengingat hari itu sebagai hari kau membaca buku. Buku apa saja yang rapi kaususun di rak bukumu. Maka kutulislah kumpulan puisi rindu dan buku cerita mengenai gadis yang menunggu hujan di bulan September, kuselipkan di rak bukumu; agar suatu hari kau baca, agar suatu hari kau tahu; akulah gadis yang menunggu hujan di bulan September. Meski hujan tak kunjung datang, setidaknya rinduku bisa kaubaca di Senin pagimu.


9.

Permohonan maaf seluas-luasnya; Seharusnya, aku tidak merindumu. Maaf.


10.

Kuselipkan sepuluh sajak rindu di bawah bantalmu, agar menjelma mimpi dalam pejammu yang damai. Kuselipkan lagi di meja kerjamu sebagai dokumen yang harus kaupelajari, kaupahami. Kuselipkan lagi di rak bukumu, supaya kaubaca dan tak lagi lelah menerka apa yang kurasa.


Depok, 19 Januari 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s