Hujan Untuk Kay

Hujan masih menaungi langit bulan Januari. Kay masih menyukai segala hal tentang hujan. Wanginya, suaranya, bahkan mendung sebelum datangnya hujan. Segalanya masih sama, termasuk Kay juga masih berpacaran dengan Dika. Teman satu ekskul pramukanya. Setiap pulang sekolah, celotehnya tak habis-habis mengenai hubungannya dengan Dika. Contohnya saja, betapa manisnya Dika memberinya cokelat pagi ini, puisi cinta yang dibuat Dika semalaman suntuk untuk Kay, dan beberapa lainnya yang menyakitkan bila kudengar lebih lanjut.

Kay. Gadis itu kukenal saat aku duduk di bangku sekolah dasar. Matanya yang polos, bulat, dan bersinar, pipinya yang tembam menggemaskan, dan memerah jika diledek olehku dan beberapa temanku. Rambutnya lurus, dikepang dua. Cantik. Tak terasa waktu begitu cepat melangkah gontai, sekarang kita tengah duduk di bangku SMA, yang katanya; masa-masa paling indah. Iya, memang indah, sebelum Dika mengambil gadisku, Kay beberapa bulan lalu. Salahku sendiri, mengapa tak pernah bisa menyatakan perasaan ini padanya.

Gerimis rintik-rintik di luar ruangan. Kay belum kelihatan keluar dari kelasnya. Sedangkan aku sudah menunggunya di depan gerbang sekolah seperti biasa.

“Jo?” kudengar derap kaki seseorang mendekat, suara yang kuhapal itu memanggilku.

“Kay, akhirnya. Lama banget, tumben.” lawan bicaraku malah tersenyum.

“Hujan.” ujarnya singkat. Wajahnya muram tak seperti biasanya. Mulutnya berhenti berceloteh tentang luapan kegembiraannya sebab hujan turun. Dia diam saja, memandangi hujan dengan raut sedih.

“Kenapa? Biasanya lo suka hujan..” aku mencoba menggodanya. Kay tertawa singkat.

“Dika, Jo..” bisiknya pelan. Oh, jadi gara-gara Dika, Kay bisa semuram ini.

“Kenapa dia? Lo berantem?” gerbang sekolah sudah mulai sepi. Beberapa orang memilih menerobos hujan, beberapa rela kuyup menuju tempat parkir dan pulang bersama kendaraannya.

“Iya, Jo..masalah sepele..tapi…” Kay menatap hujan yang turun satu-per-satu seolah wajahku ada di sana mendengarnya bercerita. Tapi dengan atau tanpa menatap wajahku, aku akan tetap mendengarkan Kay bercerita. Semanis atau sepahit apapun ceritanya, aku akan saksikan.

Hening. Wajah Kay masih muram durja seperti langit sore ini. Aku tak menanggapi ceritanya, tapi kepalaku berpikir, bagaimana caranya mengembalikan senyum dan keceriaan Kay. Aku tak suka melihat senyum itu tenggelam dari wajahnya. Jangan Kay juga yang harus mendung seperti langit.

“Kay. Hujan-hujanan, yuk!” ajakku akhirnya. Hanya itu ide yang keluar dari kepalaku. Dulu, jaman SD, aku dan Kay sering sekali bermain hujan keliling komplek. Berlari kesana-kemari tanpa takut flu menyerang tubuh kami setelahnya. Kami tertawa lepas. Kay tertawa lepas ketika tubuh hujan jatuh luruh di tubuhnya, membuatnya kuyup kebasahan.

Lama, Kay menimbang-nimbang. Kemudian samar, senyum itu terbit lagi dari bibirnya.
“Yuk!” ujarnya senang. Senyumnya terkembang lagi.

“Ayo. Hitung sampai tiga, kita keluar ya… satu…dua.ti…ga!” Kay berlari menerobos hujan, tangannya terentang, tubuhnya berputar, kepalanya tengadah; seperti berdansa dengan hujan. Aku menarik tubuhnya, mengajaknya berlarian menjauh dari area sekolah yang jaraknya tak begitu jauh dengan komplek perumahan kami. Kejar-kejaran, tertawa lepas.

“Kita kayak anak kecil ya?” teriak Kay di tengah suara hujan. Tubuhnya sudah kuyup, tubuhku juga. Kita benar-benar seperti dua bocah SD bermandikan hujan.

“Iya. Nggak apa-apa sekali-kali. Biar lo nggak galau!” balasku teriak juga. Kay tersenyum lebar-lebar. Tubuhnya asik berpesta dengan hujan. Aku kembali senang melihatnya begitu. Itu lebih baik.

Thanks, Jo. I’m better now.” Kay kembali merentangkan tangannya, berputar-putar dan menengadahkan kepalanya. Aku di sini hanya bisa menyaksikannya diciumi ratusan rintik hujan dengan lembut. Menyaksikan bibirnya yang merah muda terkembang ranum sekali. Manis. Matanya terpejam seolah sedang menghayati air hujan yang jatuh satu-satu di wajahnya. Dan aku lega mendengarnya lebih baik. Dengan begini, setidaknya dia bisa melupakan sejenak mengenai masalahnya dengan Dika. Untuk sementara.

Aku tersenyum. Dalam hati berbisik; Kay, bersama siapa pun itu, aku senang ada banyak orang yang mencoba membahagiakanmu selain aku yang tlah lama di sisimu. Aku hanya bisa berusaha menjadi sahabat terbaik untukmu, yang selalu ada di kala kamu senang, atau sedih seperti hari ini. But I don’t let the rain down in your eyes. I don’t wanna see you sad, so let me make you smile everyday, every time, even if you’re not mine. And never be mine.

Di tengah hujan ini, Kay, aku mencintaimu sebagaimana kamu mencintai orang lain.

B73kk2WIAAAR_LU

-fin-

Depok, 21 Januari 2015; hujan di luar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s