[CERPEN] Tanyaku – Sheila On 7


Seolah tak tahu
Hanya engkau yang kutuju
Akan kunantikan hatimu mengiyakanku
Ku mau kau tahu tiap tetes tatapmu
Iringi tanyaku, kapan kau jadi milikku?

Pagi ini adalah pagi yang sama dengan Minggu-minggu pagi kemarin. Suara derap kaki-kaki orang berlarian mengenakan running shoes warna-warni mengelilingi bundaran yang merupakan track berjogging.
Delima masih di sampingku, duduk di pinggir track sambil mengusap peluhnya dengan saputangan biru yang dibawanya.

“Dapet berapa putaran?” tanyaku basa-basi, tentu saja. Selama dia berlari di depanku, aku selalu memerhatikannya. Itulah alasan mengapa aku selalu berlari di belakangnya. Selain untuk memastikan bahwa dia baik-baik saja, aku bisa lebih lama memperhatikan dia. Di putaran ke tujuh, aku membalap larinya dan istirahat di pinggir track. Aku sudah tahu dia pasti akan berhenti di putaran ke tujuh. Dia selalu begitu. Aku tersenyum ketika dia menghampiriku dengan napas terengah lalu duduk di sampingku, menenggak botol air mineral, lalu mengusap peluhnya. As always. Pagi seperti ini sudah sangat sering kami lalui berdua. Jumlahnya bisa tak terhitung.

“Tujuh. As always, you know me so well, right?” jawabnya sambil tertawa singkat. Aku mengikutinya, tertawa. Orang-orang masih berlarian di depanku, tapi suara degup jantungku seolah lebih ingar terdengar daripada suara-suara langkah running shoes mereka.

Pagi ini memang seperti pagi yang biasanya. Seperti minggu-minggu lalu. Delima masih mengenakan jaket lari yang sama; jaket adidas warna merah muda bergaris warna neon, celana jogging biru donker selutut, dan running shoes-nya yang berwarna senada dengan jaket lari. Kemudian rambutnya yang hitam, lurus, dan panjang itu selalu terikat rapi ke belakang seperti ekor kuda. Aku selalu menarik buntut kuda itu bila tingkahnya membuatku gemas, atau kadang malah tanpa alasan apa-apa. Senang saja bisa melihat wajahnya merengut ke arahku dan memarahiku seperti seorang kakak pada adiknya yang nakal. Bila sudah seperti itu, aku hanya bisa tertawa menikmatinya.

Namun hari ini berbeda. Sedikit berbeda. Semalam, aku benar-benar membulatkan tekadku untuk menyatakan sesuatu untuknya. Bisa ditebak, pernyataan seperti apa yang ingin kukatakan. Berminggu-minggu lalu aku melatih diri untuk mempersiapkan ini. Bukan main, seperti mau menghadapi pertandingan lari saja harus latihan berminggu-minggu. Malah, berbulan-bulan yang lalu aku ingin menyatakan ini, sayangnya keberanianku kerap ciut saat berhadapan dengannya. Entahlah hari ini akan bagaimana, kembali ciut atau aku bisa menebas rasa takutku sendiri? Berada di dekatnya seperti ini saja sudah membuatku berdegup gugup.

“Del,” aku memanggilnya. Dia sedang asik memainkan ponselnya.

“Hmm..?” sahutnya asal tanpa menoleh.

“Del,” panggilku lagi.

“Nyaut, nyaut, Val. Apaan?” Delima masih belum mau menoleh.

“Del! Buset dah asik banget sampe budek..”

“Ye elah Val, ribet bener. Apaan sih?” kali ini dia malah menatapku. Aku malah menelan ludah. Matanya itu lho, menyiutkan nyali.

“Itu….ngggg....” gumamku jadi tak jelas. Ah! Jangan sampai ciut lagi dong, Val!

Delima masih menatapku bulat-bulat seolah aku baso yang kuahnya sudah merah dilumuri sambal kesukaannya.

“Ada sesuatu yang pengen gue omongin.” jawabku sok serius. Delima malah tertawa.

“Ya, omongin aja, Val. Masih kaku aja deh kayak keset welcome.” Delima terbahak.

Nggg...nggak bisa di sini, Del.” aku menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal.

“Ya elah, Val. Kok lo jadi ribet gini pagi-pagi. Salah makan apa gimana?” tanyanya dengan raut yang menyebalkan. Kalau saja perempuan ini bukan Delima, pasti sudah kutinggal sendirian saking gondoknya.

“Hmm…jalan-jalan deh yuk! Cari spot yang sepi, yang enak.”

“Nyari tempat sepi? Lo mau merkosa gue, Val? Gila lo parah, parah!” selorohnya. Gantian, kini aku yang memandanginya dengan tatapan gondok setengah mati.

Don’t look at me like that. Gue semakin yakin lo mau merkosa gue.” katanya sambil tertawa.

“Heh! Mulut kalo ngomong, ye! Siapa yang meu merkosa lo? Buset, dikasih gratis aja gue ogah.” balasku sambil berlalu pergi. Kalau tak begini, Delima akan terus berseloroh dan membuatku kesal.

Begitulah cara aku dan Delima selama ini berkawan. Lima tahun bukan waktu yang sebentar bagi aku dan Delima untuk menjalin komunikasi selancar-lancarnya tanpa saringan, tanpa kenal yang namanya gengsi. Seperti barusan. Caranya bercanda, berseloroh, mengumpat, marah, tertawanya yang seringkali ngakak, ngupil, kentut, sampai segala keluhannya sehari-hari pun aku hapal tanpa menghapalnya. Semuanya sudah biasa, di luar kepala. Kecuali isi hatinya. Tak pernah berani aku terka.

“Val, Noval! Tungguin gue! Ih diamah ngambek..” setengah berlari, Delima mengejarku. Benar kan, harus dengan cara seperti ini untuk menarik Delima.

Akhirnya, aku dan Delima sampai ke sebuah tempat di tepi danau buatan, agak jauh bila berjalan kaki dari track jogging. Delima pastinya mengeluh sepanjang jalan sambil rewel bertanya-tanya mau ke mana. Di sini, tidak ada yang namanya bangku taman atau semacamnya, sepi, hampir tidak ada orang yang lalu lalang lewat. Mungkin cuma satu-dua orang itu juga dalam durasi yang lama. Satu-satunya tempat untuk merebahkan diri adalah di tempat pijakan kaki itu sendiri. Dialasi rumput hijau yang masih basah oleh embun sisa semalam.

“Masih jauh lagi nggak, Val? Nggak sekalian lo ajak gue pulang jalan kaki.” gerutunya.

“Udah sampe. Buset berisik banget dari tadi.”

“Oh. Udah. Terus, di sini mau ngapain? Mana sepi banget, Val. Lo beneran kan nggak pengen merkosa gue?” Delima sok bergidik.

“Nggak. Gue mau nyeburin lo tuh ke danau. Biar kelelep nggak balik-balik lagi. Males gue.” aku kesel sendiri jadinya.

“Dih, gitu. Ntar gue nggak ada aja, kangen lo sampe ke ubun-ubun.”

“Oh iya dong pasti. Ah, gue lelepin juga lo lama-lama.” aku duduk di atas rumput berembun itu. Sedang Delima masih berdiri, enggan membasahi celana joggingnya.

“Yaelah jangan, Val. Eh, duduk di sini nih? Basah dong celana gue..” Kan.

“Iya duduk. Pilih duduk apa gue ceburin ke danau?” Delima menyoroti sekeliling tempat itu dan mengamati rumput-rumputnya. Kemudian ia berjongkok, masih enggan duduk di atas rumput. Delima memang seperti itu. Sudah tabiatnya tidak akrab dengan kotor.

“Basah, Val. Celana gue baru dicuci kan..”

“Ntar cuci lagi gampang. Enak deh duduk sini bikin pantat lo adem, cobain deh.” aku menarik tangannya agar duduk di sampingku.

“Iya lah, Val. Elo dudukin embun bukan kompor!” Delima akhirnya menyerah, ia duduk juga.

“Nah, udah lo pengen ngomong apaan dah? Cepetan, sebelum embun-embun ini meresap ke pori-pori kulit gue.” tembaknya jitu.

Degup itu masih ada, meski cair oleh suasana yang kami bangun sendiri. Justru suasana santai seperti ini membuatku berpikir dua kali untuk bagaimana memutar keadaan menjadi lebih serius sedikit. Sebab, pernyataan ini bukan pernyataan main-main. Tidak ada kata bercanda dalam urusan ini.

Berikutnya, mungkin hanya berisi dialog saja.

“Iya..ya adem juga pantat gue jadinya…” gumam Delima. Sontak kata-katanya membuatku tertawa terbahak-bahak. Dia menoleh dengan wajahnya yang merengut.

“Heh, heh siapa suruh ketawa? Ngomong cepetan!” Delima melotot. Aku menelan ludah.

“Iye…iya nggak sabaran banget..”

Jeda. Aku terdiam. Delima juga. Dia sibuk memandangi danau yang sedang merefleksikan matahari pagi di tubuhnya. Gradasi warna antara warna danau bertemu sinar kuning matahari membuat matanya terpukau melihat pemandangan itu.
Aku berdeham. Delima langsung menoleh tanpa kupinta terlebih dahulu.

“Del, ada sesuatu….yang….” aku masih gugup melanjutkan kalimatku. Delima geming. Tatap matanya menyorotiku dengan beragam pertanyaan yang tak terlontarkan.

“…perlu gue kasih tau ke elo…tapi ini serius banget gue..” aku menelan ludah. Delima masih menatapku dengan tatapan yang sama. Penuh tanya.

“Selama ini, gue sayang sama lo, Del.” sekali lagi, aku menelan ludah. Pernyataan barusan menciptakan raut wajah kaget di wajah Delima hanya sebentar. Sebelum dia tertawa singkat menanggapi pernyataanku. Hasil latihanku lenyap sudah, aku sampai lupa skenario manis rancanganku sendiri untuk mengungkapkannya. Runtuh sudah. Biar saja berjalan apa adanya, natural tanpa skenario.

“Lo ngajak gue jauh-jauh ke sini buat ngomong gitu doang? Yaelah, Val, kayak baru temenan satu-dua bulan aja deh. Jelas lah lo sayang gue, gue sayang elo. Kalo nggak gitu mana mungkin kita masih temenan sampe lama banget gini?”

“Bu…bukan gitu, Del. Aduh…” aku menggaruk kepalaku lagi untuk kesekian kalinya pagi ini tanpa gatal sekalipun.

“Gue…cinta, Del sama lo. Rasa sayang gue, kebersamaan kita, membuat gue kayak semakin terperosok jauh. Gue….udah cinta sama lo jauh sebelum hari ini.” Nah, lega sudah. Akhirnya terucapkan sebagian teks skenario buatanku beberapa minggu lalu. Degup itu semakin keras, malah terasa seperti ingin melompat dan menyeburkan diri ke danau.
Delima terperangah sepersekian detik sebelum menghamburkan tawanya keras-keras. Lama.

“Lo…lo lagi latihan nembak cewek, Val?” ujarnya patah-patah sambil tertawa sampai air matanya berlinang. Entah di mana bagian lucunya, aku tidak tahu.

Kuraih tangannya. Sentuhan yang baru kurasakan bisa sehangat ini, bisa semendebarkan ini.

“Gue serius, Del.” Delima menatapku. Seperti mencari sesuatu, mungkin kesungguhan yang ia cari. Lalu ia geming, tak berkata apa-apa dan membuang muka. Kulihat, pipinya memerah.

“Bahkan, gue udah nyiapin ini, seandainya gue bener-bener nggak bisa ngomong langsung ke elo.” aku mengambil sesuatu dari dalam tasku. i-Pod touch gen 5 lengkap dengan earphone-nya. Aku memasangkan sebelah ke telinganya, sebelahnya lagi di telingaku.

“Dengerin, deh. Gue cover lagu ini buat lo…” Aku memutarkan hasil rekamanku dua malam yang lalu dengan gitar akustik yang sering menemaniku di atas panggung.

Tanyaku – Sheila On 7

Tak pernah ku merasa hawa sehangat ini
Di dalam hidupku
Kau beri kau bagi
Semua marah dan candamu
Kuharap hanya untukku

Tak pernah ku dihinggapi bahagia
Seperti ini, Jatuh hati
Tumbuhkan nyaliku
Tuk nyanyikan kepadamu,
Aku cinta

Sesaat tersenyum dan kau pun mulai terdiam
Dan berpaling
Biaskan laguku

Seolah tak tahu
Hanya engkau yang kutuju
Akan kunantikan hatimu mengiyakanku
Ku mau kau tahu tiap tetes tatapmu
Iringi tanyaku, kapan kau jadi milikku?

“Val, lo….nggak lagi nyepik gue kan?” Delima masih meragu.

“Gue bener-bener serius, Del.” aku menatap matanya seolah meyakinkannya. Wajah Delima merah tomat.

Diam. Tak ada suara. Delima memalingkan wajahnya. Sibuk dengan pikirannya.

“Val, kita temenan udah lama banget. Gue tau perasaan kayak gini pasti ada di antara kita. Nggak munafik lah, di dunia ini, temenan lawan jenis tanpa perasaan itu bullshit. Satu atau dua di antaranya pasti nyimpen rasa. Tapi,…” Delima menoleh ke arahku yang sudah gugup tak tertahankan akibat kata-katanya yang pelan-pelan mematikan nyali dan percaya diri.

“Gue takut, Val.” Delima menggenggam tanganku. Erat.

“Apa yang lo takutin, Del?”

“Gue takut kalo seandainya kita saling memiliki, kita pacaran, kita nggak bisa konyol-konyolan, nggak bisa songong-songongan, nggak bisa kayak gini lagi, Val.” katanya sedih. Itu memang salah satu resikonya.

“Kita kan udah laluin ini selama lima tahun, harusnya saling memiliki malah saling menguatkan hubungan kita..”

“Jujur….gue juga….punya….perasaan yang sama kayak lo.” akunya. Aku benar-benar terkejut. Wow, jadi selama ini kita saling memendam? Macam di film-film saja rupanya.

“Gue malah sering kangen sama suara lo ngunyah pop corn kalo lagi nggak nonton sama lo. Gue juga….cemburu waktu lo deket sama Nimas..” akunya lagi. Nimas itu temanku beberapa bulan yang lalu, sempat dekat hanya karena projek rekaman saja. Lucu juga mendengar pengakuan Delima kalau ia sampai cemburu pada Nimas. Lucunya lagi, ternyata dia merindukan suara pop corn yang kukunyah ketika menonton film. Suara yang sering ia maki-maki karena katanya mengganggu konsentrasinya menonton.

“Lo cemburu sama Nimas?” aku menertawakannya sampai wajahnya tertekuk bagai kertas yang dilipat, aku menghentikannya.

“Abisnya lo ngomongin Nimas mulu. Dipikir gue nggak bete apa?” Delima manyun. Aku semakin keras tertawa sebelum perutku dicubit habis-habisan olehnya.

So, what’s we’re waiting for? Kita udah sama-sama nunggu, kita punya perasaan yang sama.. Apa lagi, Del?”

“Ini nggak semudah yang lo pikir, Val.”

“Apanya yang nggak mudah, coba ceritain ke gue.”

“Bayangin, orang pacaran itu harus pake aku-kamuan, sedangkan kita udah belangsak banget pake elo-gue. Nggak bisa dah pake aku-kamu. Terus, orang pacaran punya panggilan sayang yang romantis macem abi-umi, ayah-bunda. Lah, kita? Panggilan aja jelek bener, Kuya ama curut.” aku tertawa mendengarnya bercerita.

“Jadi karena itu? Kamu mau aku panggil bunda? honey? bunny? sweetie?”

“Val, sumpah ye, gue geli banget!” Delima mendorongku ke samping kanan, membuat dudukku oleng. Aku tertawa.

“Nggak semudah itu, Val. Gue takut…kalo kita pacaran, kita malah jadi…garing. Nggak kayak gini lagi.”

“Terus juga, gimana kalo kita putus? Keadaan nggak mungkin pernah sama seperti semula, Val.”

“Kita pacaran bukan menginginkan untuk putus di tengah jalan kan?” tanyaku heran.

“Kita kan udah sama-sama dewasa, Del.”

“Kita harus siap dengan kemungkinan terburuk, Val. Gue atau elo nggak tau kan siapa jodoh kita nantinya? Rencana kita nggak selalu sama dengan catatan rencana dari Tuhan.” ceramahnya. Perempuan satu ini memang terkadang konyol, resek, menyebalkan, tapi di satu sisi dia mempunyai jiwa bijak yang tertanam di dalamnya. Setiap perempuan sepertinya punya jiwa bijak semacam itu. Dalam hati, aku juga mengiyakan celotehannya.

“Jadi, gimana Del?” Delima menoleh ke arahku. Tersenyum.

“Gue masih mau kita yang kayak begini, Val.” katanya. Aku tidak sedih setelah mendengar jawabannya. Setidaknya aku lega telah mengatakan hal yang ganjil selama bertahun-tahun ini padanya, dan terjawab sudah pertanyaan di kepala. Ternyata, Delima juga sama menginginkanku.

“Oke. Akan kunantikan, hatimu mengiyakanku..” aku menyanyikan sepotong lirik lagu itu. Delima tertawa.

Lalu kita saling terdiam. Bernapas lega karena setelah ini tidak ada lagi yang disembunyikan.

“Kan diem-dieman gini. Jadi garing kan. Elo sih, Val!”

“Yeee curut siapa suruh nolak gue!”

“OPAAALLL!!!” Kemudian Delima mencubiti perutku sambil tertawa-tawa.

563300_573625525995079_309645005_n

Mungkin memang lebih baik begini. Membiarkannya alami, mengalir seperti air. Ikuti arusnya. Terserah arus membawa kita  ke mana; menuju satu laut yang sama atau ke dua laut yang berbeda, saling berpencar arah. Entahlah. Masih rahasia sang laju sungai. Intinya, nikmati saja apa yang ada hari ini. Toh, kebahagiaan konyol-konyolan seperti ini belum tentu bisa dinikmati lagi beberapa tahun ke depan. Waktu bisa melakukan apa saja kan? Memudarkan dan meniadakan itu bad skills-nya waktu kan? Seperti kata Delima, aku juga masih mau kita yang seperti ini. Dan aku akan menantinya seperti sepenggal lirik lagu itu; sampai hatinya mengiyakanku. Sampai laju sungai mengalirkan kita ke satu laut yang sama.

-fin-

Depok, 25 Januari 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s