Mencintaimu;

Selamat malam, kau yang sedang dikerudungi bahagia. Semoga aku tak mengganggu.
Malam ini, entah malam ke berapa aku merindukanmu terlalu banyak, lewat doa atau puisi yang tertulis di surat digital ini. Aku tak pernah sempat menghitung berapa banyak aksara yang melebur ketika bayanganmu hadir sesering napasku berembus. Aku pun enggan menganggapnya sebagai beban. Sebab, terluka karena merindumu ternyata patut dinikmati. Seperti yang sedang aku lakukan ini; menulisimu. Menulisi deru rindu yang menderas di dada ketika malam menggelap ataupun pagi merayap menuju langit. Ya, sepagi itu.

Malam ini seperti malam-malam kemarin. Di mana mataku enggan terpejam karena begitu banyak cairan kafein di lambungku. Ini bukan tentang kopi. Melainkan tentang ingatan tentangmu yang tak mau hilang dari benakku. Bayanganmu, kafein. Lihat, sekarang pukul berapa? 00:00
Seawal itukah aku mencintaimu? Ya. Tetapi tidak cukup lebih awal untuk bisa bersamamu.

Kenyataan dan harapan terkadang tidak membaur jadi satu-padu yang harmonis. Malah, terkadang mereka saling berpunggungan. Seperti nasib baik dan nasib buruk.
Seperti malam ini. Tak perlu aku menceritakan maksudnya, sebab kurasa kau sudah tahu maksudku.

Malam ini seperti malam-malam kemarin. Di mana mencintaimu, cukup hanya lewat barisan kata dan doa; sebab ketulusan bisa menjelma apa saja. Dan mencintaimu, juga bisa melalui cara apa saja.

Depok, 26 Januari 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s