Dear, Namira


Segalanya telah berakhir, Namira. Duniaku seakan runtuh setelah kau ucapkan kata itu dengan tangis yang membanjir di sekujur wajahmu yang jelita.

“Aku tidak bisa meneruskan ini, Dean.” ujarmu. Bahumu terguncang menahan tangis, duniaku ikut berguncang. Mengapa? Tanyaku dalam hati. Kata tanya itu tidak sempat terucap dari bibirku. Egoku lebih tinggi dari akalku. Kubiarkan engkau pergi dengan ucapan perpisahan itu, dan tangisan terakhirmu yang lirih. Derap high-heelsmu masih teringat benar di kepalaku bagai melodi patah hati yang mengendap di kepala. Langkah kakimu yang pergi, membanting pintu kamarku dengan koper yang penuh oleh baju-bajumu, menyisakan jejak-jejak kehilangan yang direkam oleh dinding kamar.

“Jaga dirimu baik-baik, Dean. Aku mencintaimu.” ialah kata-kata terakhirmu sebelum membanting pintu kamarku keras-keras. Kau mencintaiku, Namira? Lalu untuk apa kau pergi?

Aku seharusnya tahu ini akan terjadi. Aku juga tahu ini berat untuknya dan untukku. Bukan salahmu, Namira. Bukan salahmu. Seharusnya ini tidak dimulai Namira. Seharusnya kisah ini tidak usah ada.
Sebab aku tahu, di ujung kisah, kau pasti pergi dari hidupku. Dan memilih suami dan kedua anakmu dari pada aku.

Namira, there’s one thing that’s still the same, in my heart you have remained.

Depok, 28 Januari 2015

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s