102 Hari

102, satu kosong dua
Seratus Dua Hari

Separuh bulan Oktober
Sepenuh November
Seluruh Desember
Separuhnya lagi Januari

102 hari yang lalu,
Negeri menahtakan pemimpin baru
Maraknya euforia dari pagi hingga malam menggantung di ujung
Memestakan sebuah pergerakan revolusi mental yang dijunjung

Namun bukan itu yang ingin kupuisikan
Di sini
Bukan itu
Anggap saja itu hanya sebuah bagian dari prolog

Monolog; puisiku ialah hasil aku bermonolog dengan pola pikirku
Bersenandika dengan bibir sendiri,

Aku ingin menamai bulan-bulan dengan nama warna
Oktober berganti jadi merah muda
November berganti jadi shocking pink
Desember berganti biru
Dan, Januari ialah abu-abu

Setiap warna memiliki makna, sama halnya sebuah nama
Oktober, bagiku ialah bulan jatuh cinta. Sebab tanggal-tanggal di kalenderku tak pernah libur dari senyum.
November, ialah bulan yang mengejutkan. Sebab, hadirmu kadangkala tanpa aba-aba. Seperti kado dari Santa. Surprisingly!
Kemudian Desember, ialah bulan berwarna biru. Sebab hujan turun tiada henti di hari kepergianmu yang tiba-tiba, lagi-lagi, tanpa aba-aba.
Dan Januari, ialah bulan berwarna buram. Pasi seperti puisi-puisi. Seperti sajak-sajak.

yang bercerita tentang kepergian, dan kehilangan.

1 0 2  h a r i
Beragam rasa berjejal dalam dada
Senang, gembira, sesak, sedih, sendu, nyeri, kosong
Bulan berganti, kalender membalik tubuhnya sendiri

Entah bagaimana empat bulan mampu menjungkirbalikkan hidupku
Menghapus lembut benci-benci yang tlah lama rapi tersimpan
Menabung rasa sukur banyak-banyak dalam dada
Dan melapangkan sabar luas-luas

Entah bagaimana empat nama bulan itu begitu berarti
Sebab tiap helai lembar kalender ialah langkah kaki yang baru
Meninggalkan yang usang, berani melangkah maju tanpa ragu
Mengabaikan resah yang selama bertahun-tahun hinggap

Bagiku, Oktober memiliki peran yang penting
Sebab tanpanya, tidak akan ada November
Tidak akan ada Desember dan Januari
Sebab di waktu-waktu itulah aku belajar banyak hal mengenai sisi-sisi lain hidup

Oktober mengajariku bahagia yang sederhana
November mengajariku bagaimana hidup selalu punya kejutan
Desember mengajariku cara melepaskan dengan rela penuh keikhlasan
Dan Januari mengajariku cara bersyukur dan melapangkan sabar

1 0 2  H a r i
Ialah andil dari Tuhan untuk hidupku
yang kerap bertanya-tanya, mana keadilan, mana kebahagiaan
yang kerap mencari rasa syukur dan keikhlasan

1 0 2  H a ri
Sebenarnya, ini bukanlah sebuah puisi
Melainkan sebuah kisah bagaimana nama empat bulan itu memporak-porandakan hidupku
Bagaimana seratus dua hari mengubahku, menjadi siska yang baru.

Hai, siska!
Salam kenal, dari diriku yang baru.

PS : Ini bukan soal revolusi mental Jokowi, ini soal revolusi siska!

Depok, 30 Januari 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s