Untuk Bulan Januari

Dear Januari,

Begitu banyak kisah aku bagi denganmu. Puisi-puisi jatuh cinta sampai kehilangan tak luput dari tanggal-tanggal di tubuhmu, mengukir bagian titimangsa setelah akhir garis tulisanku.
Aku menyukai namamu. Januari. Terdengar syahdu sekaligus abu-abu, pada setiap hati yang merindukan, dan juga kehilangan. Sebab, hujan selalu turun di tubuhmu, membasahi ingatan-ingatan lalu yang ingin dilupakan. Termasuk aku, si pemilik hati yang merindukan dia. Dia yang sedang bahagia bukan bersamaku. Dia yang sering kupuisikan di bulan Januari.

Januari, aku menggambarkan dirimu sebagai sosok perempuan, yang kerap menangis di pagi hari setelah bangun dari tidur. Dengan gaun warna mendung, kau membagikan gigilmu pada semesta, sebab kau tak mampu menahan sedih itu sendiran. Maka, kau bagi air mata itu lewat hujan yang turun setiap hari. Hujan yang kadang deras, kadang rintik. Geram aku ingin bertanya padamu, siapa yang sedang kau rindukan?
Apa kita sedang merindu dengan jenis yang sama; merindu sesuatu yang takkan kembali?
Kalau ya, aku ingin merengkuhmu. Saling berpeluk di bawah hujan, menangis bersama; kau dengan hujan yang deras, aku dengan ingatan yang menderas di kepalaku.

Januari, aku selalu suka ketika engkau berpuisi di pagi hari lewat hujan rintik-rintik. Bagiku, itu ialah puisi penyampaian rindu termanis sealam semesta. Aku tidak sedang merayumu, ini sungguhan! Sungguh!
Aku menyukainya; hujanmu di pagi hari, sebab aku merasa kesedihanku punya teman.

Hari ini, kau akan pergi. Menyisakan gerimis dan hujan deras di terasku. Pergi meninggalkan aku dan kesedihanku sendiri. Maka, izinkanlah aku mengirim surat ini untukmu, sebagai tulisan di penghujung bulanmu. Sebab aku pasti akan merindukanmu. Rindu bercerita padamu lewat kisah dan puisi, rindu puisi-puisi sendumu lewat hujan. Rindu aroma Januari yang selalu hampir sama setiap harinya; pet-ri-chor. Itu parfum yang kaupakai? Aku menyukai aroma itu.

Nah, ini bagian penutup surat untukmu, Januari.
Terima kasih atas awan mendung, dan kesenduan yang kauciptakan di dadaku.
Terima kasih atas hujan di pagi, siang, sore, malam, sampai dini hari, sebab tanpa hujan, aku tidak akan bisa berpuisi sebiru kesedihan.
Terima kasih telah menderaskan hujan di beberapa malam, membuat beberapa kepala ikut dideraskan kenangan akan angan dan masa lalu.
Terima kasih atas hujan gerimis yang manis, jenis hujan yang mampu membuat beberapa sejoli saling jatuh cinta, dan menciptakan kenang. Meski gerimismu seringkali hanya menyinggahi rindu padaku, bukan jatuh cinta.
Terima kasih atas segala yang telah kaubagi kepada semesta. Terutama padaku. Sebab engkau telah mengajariku bagaimana cara mencintai dengan cara yang lain.

Januari, terima kasih engkau telah hadir di awal tahunku yang cappuccino; pahit sekaligus manis.
Semoga, tahun depan kita berjumpa lagi, dengan cerita dan bahagia yang lain.
Selamat tinggal, dan sampai jumpa!

Depok, 31 Januari 2015
Hujanlah, sebagai balasan surat ini.

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s