Puisi Tengah Malam

Gelap meminjamiku waktu tuk mengingatmu
Sepi sekaligus hening sedang meramu kenangan
Menyatukan unsur-unsur bayangmu jadi satu
Agar utuh dalam kepala bagaimana kita pernah saling berpelukan

Tak ada yang lebih sakral dari gelap
Ketika ciumanmu menjadi lebih liar dari seekor srigala
Sebab hening membawa kita saling melengkapi sebelum datang lelap
Dan kita ialah dua yang akrab dengan dosa

Dulu, gelap ialah sebuah cerita
yang diracik malam dengan sedemikian rupa
Sebelum matahari merenggut hitam
Dan waktu membakar engkau hingga legam

Kini, gelap hanyalah legenda
Lenyap dimakan terang benderang
Di mana ramai mulai merayap menuju ruang masa
Mematikan kesakralan dari hitam yang meremang

Gelap memang tinggal legenda
Seperti kita yang tinggal cerita
Namun tiada mati aku mencintai
Demi merasakan ciumanmu kembali

Malam sedang di ujung langit
Sebentar lagi jatuh ditangkap pagi
Tapi puisiku akan terus berbait
Tak peduli pukul berapa engkau kan kembali (lagi)

Depok, 29 Januari 2015

Aku Rindu Kota Kita


Rena, apa kabarmu di sana? Adakah kau merindukan aku?
Kau tahu, aku mulai merindukan kotaku. Kota kita.

Masih setia kah kau menungguku di sana? Aku rindu suara deru kendaraan yang setiap pagi memekakan telinga, suara klakson mobil yang tak sabar dengan antrian yang panjang. Aku rindu aroma hujan di kota kita. Hujan rasa hangat, di mana pelukan saling berlabuh di tubuh kita. Gigil pun sampai iri.

Rena, di sini hujan sedingin es di dalam kulkas kita. Warnanya putih, bersih mengingatkan aku pada kedua sisi pipimu yang gembil dan menggemaskan. Hujan di sini membuatku gigil, sebab tak ada pelukmu yang senantiasa menghangatkan. Tiada wangi kopi yang setiap pagi kausajikan di meja kerjaku. Tidak ada Rena.

Di kotaku yang sekarang, hanya berisi kenangan-kenangan kita yang lalu. Musim semi, ataupun badai salju, hawanya tetap sama. Sama-sama merindukanmu. Dan kehilanganmu. Aku sepi sendirian. Menelan kenangan-demi kenangan sampai lelah. Sekarang, aku sudah lelah, Rena.

Kupikir, aku telah berlari jauh, sejauh pesawat membawaku terbang. Tapi nyatanya, kau masih merantaiku meskipun aku pergi sampai ke kota terjauh.

Suara roda koper yang digeret terdengar pelan di telingaku. Koperku. Pesawat siap untuk membawaku terbang ke rumah. Ke kota kita. Aku pulang, Rena. Aku pulang.
Nanti, sesampai di kota kita, aku akan mengunjungi pemakamanmu.

I’ll be home tonight
I’m coming back home

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Depok, 28 Januari 2015

Dear, Namira


Segalanya telah berakhir, Namira. Duniaku seakan runtuh setelah kau ucapkan kata itu dengan tangis yang membanjir di sekujur wajahmu yang jelita.

“Aku tidak bisa meneruskan ini, Dean.” ujarmu. Bahumu terguncang menahan tangis, duniaku ikut berguncang. Mengapa? Tanyaku dalam hati. Kata tanya itu tidak sempat terucap dari bibirku. Egoku lebih tinggi dari akalku. Kubiarkan engkau pergi dengan ucapan perpisahan itu, dan tangisan terakhirmu yang lirih. Derap high-heelsmu masih teringat benar di kepalaku bagai melodi patah hati yang mengendap di kepala. Langkah kakimu yang pergi, membanting pintu kamarku dengan koper yang penuh oleh baju-bajumu, menyisakan jejak-jejak kehilangan yang direkam oleh dinding kamar.

“Jaga dirimu baik-baik, Dean. Aku mencintaimu.” ialah kata-kata terakhirmu sebelum membanting pintu kamarku keras-keras. Kau mencintaiku, Namira? Lalu untuk apa kau pergi?

Aku seharusnya tahu ini akan terjadi. Aku juga tahu ini berat untuknya dan untukku. Bukan salahmu, Namira. Bukan salahmu. Seharusnya ini tidak dimulai Namira. Seharusnya kisah ini tidak usah ada.
Sebab aku tahu, di ujung kisah, kau pasti pergi dari hidupku. Dan memilih suami dan kedua anakmu dari pada aku.

Namira, there’s one thing that’s still the same, in my heart you have remained.

Depok, 28 Januari 2015

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

[PUISIK] Bookends by Simon & Garfunkel


Time it was
And what a time it was, it was
A time of innocence
A time of confidences

Long ago it must be
I have a photograph
Preserve your memories
They’re all that’s left you

Waktu berlalu bersama ingatan
yang ketika hujan kerap berlarian
Secepat itu waktu bergulir
Bersama detik-detik yang mengalir

Tiada yang lebih deras daripada kenangan
Kecuali jumlah butir hujan
Sayang, semua rapi dalam rak buku
juga album foto-fotomu

Kita ialah sepasang waktu yang berlalu
Ditiadakan takdir secepat ia membalik telapak tangan
Waktu yang berlalu, tetap menjadi masa lalu
Meski doa tak bisa diukur oleh panjang lengan

Tiada yang dapat mengembalikan detik
Pun engkau yang sedang membual; aku cinta mati padamu
Nyatanya kau pergi meninggalkan lagu patah hati berlirik
Kemudian kau hanya menjadi tamu

Masa lalu biarlah masa lalu
Ini bukan lagu Inul Daratista
Tapi takdir memang berjalan semestinya
Apa yang seharusnya ada tidak dibiarkannya berlalu

Lalu kita, tetap kita
Sepasang waktu yang dibiarkannya berlalu

Depok, 28 Januari 2015

Mencintaimu;

Selamat malam, kau yang sedang dikerudungi bahagia. Semoga aku tak mengganggu.
Malam ini, entah malam ke berapa aku merindukanmu terlalu banyak, lewat doa atau puisi yang tertulis di surat digital ini. Aku tak pernah sempat menghitung berapa banyak aksara yang melebur ketika bayanganmu hadir sesering napasku berembus. Aku pun enggan menganggapnya sebagai beban. Sebab, terluka karena merindumu ternyata patut dinikmati. Seperti yang sedang aku lakukan ini; menulisimu. Menulisi deru rindu yang menderas di dada ketika malam menggelap ataupun pagi merayap menuju langit. Ya, sepagi itu.

Malam ini seperti malam-malam kemarin. Di mana mataku enggan terpejam karena begitu banyak cairan kafein di lambungku. Ini bukan tentang kopi. Melainkan tentang ingatan tentangmu yang tak mau hilang dari benakku. Bayanganmu, kafein. Lihat, sekarang pukul berapa? 00:00
Seawal itukah aku mencintaimu? Ya. Tetapi tidak cukup lebih awal untuk bisa bersamamu.

Kenyataan dan harapan terkadang tidak membaur jadi satu-padu yang harmonis. Malah, terkadang mereka saling berpunggungan. Seperti nasib baik dan nasib buruk.
Seperti malam ini. Tak perlu aku menceritakan maksudnya, sebab kurasa kau sudah tahu maksudku.

Malam ini seperti malam-malam kemarin. Di mana mencintaimu, cukup hanya lewat barisan kata dan doa; sebab ketulusan bisa menjelma apa saja. Dan mencintaimu, juga bisa melalui cara apa saja.

Depok, 26 Januari 2015

[CERPEN] Sekali Lagi – Sheila On 7

https://soundcloud.com/reno-as-a-hippearce/sheila-on-7-sekali-lagi


Taman ini masih sama bentuknya, tata letak bangkunya, bahkan aromanya pun masih seperti dulu. Malam ini juga mirip seperti malam-malam kita yang lalu. Bertabur bintang. Indah. Kau pernah bilang, bintang-bintang itu ialah pikiran-pikiranku yang cemerlang, berkilauan, dan membuatmu terkagum. Kau ingat? Ah, kedengarannya aku begitu mengharapkanmu, padahal kan….memang iya. Tapi, apakah masih mungkin kau mengingatku sekarang? Setelah berjauh-jauh hari yang lalu keadaan tak sama lagi, dan kau kini sedang memiliki seseorang, apa masih sempat mengingatku? Ah, mana mungkin. Aku kan hanya serpihan debu saja di ingatanmu.

Bangku taman warna hijau pudar yang sisi pinggirnya berkarat kini menjadi sandaran dudukku. Tak ada siapa-siapa lagi yang duduk di sana kecuali aku. Dulu, kau duduk di sampingku. Membicarakan apa saja yang telah terjadi pada harimu bahkan sampai membicarakan hal yang sedang terjadi di sekitar kita. Apapun. Aku tidak mengingat kita memperbincangkan apa saja sih, terlalu banyak bahasan dan memori otakku tak mampu menampung sebanyak itu. Atau biasanya, taman ini hanya dipakai untuk kita bertemu sebentar lalu setelah itu pergi ke mana, entah nonton, entah ke toko buku, entah makan malam.

Aku ingat betul ketika menyuruhmu berdandan sebelum bertemu denganku. Bukannya aku tidak menerimamu apa adanya. Kau cantik meski wajahmu tak tersentuh make up, tetapi alangkah kau akan seribu kali lebih cantik bila berdandan, sedikit saja. Satu jam aku menunggu di taman ini, menunggumu berdandan. Dan aku benar. Kau seribu kali lebih cantik. Malam itu kau mengenakan dress selutut warna hitam berkilau, mirip langit malam. Rambutmu yang biasa diikat, tergerai lurus di belakang bahumu. Riasan tipis di wajahmu membuatmu nampak lebih segar dan tidak pucat seperti biasanya. Bibirmu kelihatan menggoda dengan gincu merah yang kaupoles tipis-tipis. Terbayar sudah waktuku untuk menunggumu. Kau benar-benar seribu kali lebih cantik.

Kau tersipu setelah kupuji demikian. Keesokannya lagi, setiap ingin bertemu denganku, kau selalu berdandan. Aku tetap setia menunggumu di bangku taman warna hijau pudar yang di pinggirnya terdapat karat-karat besi. Tidak peduli satu, dua, bahkan tiga jam aku menunggumu, tidak masalah.
Namun, setelah sekian lama kejadian itu terus berlangsung, perangaimu jadi berubah. Kau yang polos tanpa make up dan kau yang bergincu merah tipis menjadi dua pribadi yang berbeda padahal satu orang yang sama. Aku tidak mengerti.

Hanya tiga bulan kita menjalin kasih, tiba-tiba kau datang padaku menuntut perpisahan. Bukan main rasanya, kau tidak harus merasakannya, cukup aku katakan saja. Itu menyakitkan! Di saat cintaku padamu sedang mekar-mekarnya, kemudian kau gunting batang bunga itu dan kau buang ke tempat sampah. Kedengarannya kejam ya? Iya memang seperti itu lah adanya.

Aku mengiyakan permintaanmu. Perpisahan yang kau tuntut itu berhasil kupenuhi tanpa air mata. Kupikir saat itu, gampang saja aku melupakanmu nanti, toh kita hanya berjalan tiga bulan. Seumur jagung. Aku pasti akan melupakanmu dan cepat menemukan penggantimu.
Malam itu ialah malam terakhir kita bertemu. Setelah kita saling menukar kata pisah, hujan datang tipis-tipis seolah ikut bersedih dengan perpisahan ini. Kau pulang dengan air mata waktu itu, entah itu air mata sungguhan atau buaya, aku tidak tahu.

Kau tahu? Malam itu aku menunggumu dari pukul tujuh malam, lalu kau datang hampir pukul sembilan malam dengan wajah senyum-bersalah. Kulihat senyum itu berbeda, dan benar. Alasanmu meninggalkanku cukup terdengar masuk akal; Kita tidak bisa meneruskan ini, aku tidak tahu mengapa sebabnya, tapi rasanya hambar. Itu. Hambar katamu? Jadi, cinta itu hanya mekar sendirian di dadaku, dan sebaliknya di dadamu. Mungkin, cuaca buruk sedang melanda hatimu sehingga cinta tidak ikut mekar di sana. Atau ada cinta yang lain, entahlah. Setelah kau berkata begitu, aku mengerti. Kau menginginkan perpisahan. Bukannya aku tidak mau berjuang lagi, hanya saja percuma bukan? Menanam pohon misalnya saat musim kekeringan dan tidak ada hujan sama sekali? Tidak akan mekar, tidak akan tumbuh subur. Lalu kau pulang meninggalkanku dengan raut sedih lengkap dengan air mata pula. Aku masih duduk di bangku taman, tidak berniat pulang dalam keadaan kacau seperti itu.

Malam itu, aku duduk di taman sampai pukul dua belas. Merenungi saja sebelum memutuskan untuk ke toko tujuh-sebelas dan memesan beberapa kaleng bir.
Kupikir, mengapa aku sampai setolol itu? Baru kali ini aku putus cinta lalu setelahnya minum-minum. Biasanya, setelah putus cinta aku lebih memilih bermain gitar, nge-band dengan teman-temanku atau semacamnya. Tidak pernah berpikir untuk melupakan seorang perempuan dengan minum-minum bir sendirian. Yah, walaupun tidak sampai mabuk sih, tapi kupikir lucu saja bisa terlihat semenyedihkan itu aku kehilanganmu. Padahal, putus cinta bukan hal yang baru untukku. Bahkan, aku pernah putus dari mantan pacarku yang sudah menjalin kasih sampai tiga tahun lamanya, aku tidak mengapa. Tidak sampai menenggak belasan bir kaleng seperti malam itu.

Aku salah. Ternyata dugaanku kali ini salah. Aku tak mampu melupakanmu secepat kilat seperti aku melupakan perempuan-perempuan yang pernah singgah di hidupku. Aku tidak pernah menyangka sampai sejauh itu perasaanku padamu, sampai sedalam ini aku terluka olehmu. Padahal, kedekatan kita hanya sesaat. Seumur jagung. Entah mengapa. Sudah hampir satu tahun aku mendekam dengan perasaan seperti ini. Luntang-luntung memikirkanmu yang sudah melupakanku. Beberapa kawan pernah mengenalkanku dengan beberapa perempuan, tapi tak sama sepertimu. Bagiku, kau cuma satu. Terdengar gombal? Memang, tapi aku tidak sedang merayumu. Ini sungguhan.

Bagaimana kabarmu? Itu adalah pertanyaan pertama yang ingin kulontarkan padamu. Apakah kau bahagia setelah kita berpisah, atau sama sepertiku? Itu adalah pertanyaan yang kedua. Masih banyak lagi hal yang ingin kutanyakan padamu namun tak pernah sempat, dan kita tak pernah bertemu lagi semenjak hari itu.
Ah, aku harap kau di sini. Duduk di sampingku, di bangku taman warna hijau pudar yang pinggir-pinggirnya sudah berkarat dimakan usia. Membicarakan banyak hal lagi. Mungkin bila kau di sini, kita akan membahas isu-isu terhangat yang sedang terjadi di bumi kita seperti misalnya saja, kasus Charlie Hebdo. Aku ingin tahu, ingin mendengarmu bercerita tentang tanggapanmu terhadap kasus dua pemuda yang meneror kantor surat kabar kontroversial itu. Lalu mengenai hukuman mati pada narapidana pengedar narkoba. Aku juga ingin tahu apa pendapatmu mengenai Jokowi, presiden favoritmu itu yang mencalonan Budi Gunawan sebagai Kapolri dan perseteruan antara KPK vs POLRI yang sedang ramai. Lalu yang lebih parahnya lagi, tentang kasus penangkapan Bambang Widjojanto, wakil ketua KPK yang sebab-musababnya ditangkap masih mengambang tidak jelas dan terkesan dibuat-buat.

dasaaaaaa

ilustrasi : weheartit

Aku ingin tahu. Aku ingin mendengar argumenmu. Permintaan yang tidak muluk-muluk bukan? Tapi rasanya mustahil dikabulkan.

Tak pernah aku menyangka
Sejauh ini aku melangkah
Tak pernah aku menyangka
Sedalam ini aku terluka

Aku tak pernah menyangka bisa sejauh ini. Bisa sesakit ini.
Mungkin aku terlalu congkak, mengatakan bahwa melupakanmu adalah hal yang mudah dan tidak begitu sulit. Tapi nyatanya? Jauh api dari panggangan. Peribahasa yang tepat untuk menggambarkan harapan dan kenyataan yang kupunya saat ini.

Tapi biarlah. Mungkin aku perlu waktu. Entah sampai berapa lama untuk melupakanmu. Melenyapkanmu dari ingatanku. Bila kemarin aku begitu merasa bahagia bersamamu, kali ini terpuruk sedih. Tidak apa. Bagian dari hidup. Bagian dari hukum alam bahwa hidup akan terus berputar. Bumi akan terus berputar pada rotasinya sampai ia menua dan tak mampu lagi berputar alias kiamat.

Jika hidup terus berputar
Biarlah berputar
Akan ada harapan
Sekali lagi
Seperti dulu

Aku percaya, pasti akan ada harapan lagi untuk kita kembali bertemu. Entah di mana, dan entah dengan keadaan seperti apa. Semoga.

So, aku masih duduk di bangku taman warna hijau pudar yang pinggirannya sudah dipenuhi karat. Di bawah langit malam yang bertaburan bintang. Sendirian. Seolah aku menunggu seseorang. Menunggumu.

-FIN-

Depok, 26 Januari 2015

Januari Yang Sibuk Memuisikan Rindu

Januari sibuk memuisikan rindu
Setelah Desember pergi menyisakan sendu
Tangis, sedu-sedan sepasang kekasih yang saling meninggalkan
Ketika tatap dan ratapan tiada lagi berarti tuk bertahan

Belasan koper pembawa kenang tlah dilarungkan jauh-jauh
Menepikan ingatan-ingatan yang lalang di dua kepala
Percuma, kenangan itu ternyata tertanam dalam-dalam meski raga kian menjauh
Meski lipatan waktu kini terentang untuk saling melupa

Dua kota di kepala yang berbeda, terkadang masih riuh oleh kenangan
Saat malam menjelang, ingatan serupa lalu lintas yang padat lalu lalang
Saat pagi datang, mimpi semalam merupa lembar buram kenang dan harapan
Apalagi ketika rintik hujan memenuhi gendang tipis di telinga, bersenandung

Bayang tubuh laki-laki yang ia cintai menjelma hujan di kota pikirannya
Rindu menembus ulu hati dengan anak panah seruncing kata perpisahan
Di kepala lelakinya, bayang perempuan yang pernah ia cintai, lenyap menjadi kemarau di kotanya
Baginya, musim hujan telah berakhir digantikan musim yang lain

Tetapi dua rindu, semakin hari, semakin tinggi berterbangan ke udara
Ke langit Januari yang terkadang mendung abu-abu
Sementara dua hati saling melupakan, Januari sibuk menyusun aksara
Lewat hujan yang turun dari tanggal satu hingga tiga puluh satu

Sesibuk itu Januari memuisikan rindu

Kepada Januari Yang Sibuk Memuisikan Rindu,
Akulah Perempuan yang mengerami hujan di kepalaku
Pemilik sayap-sayap rindu yang berterbangan ke langitmu
Perenggut cahaya kuning matahari dan mengubahnya jadi abu-abu

Akulah yang kerap berdoa agar langitmu mendung abu-abu
Sebab lelaki yang kucintai itu mencintai warna abu-abu
Akulah yang memohon hujan kepadamu
Sebab lelaki yang kucintai itu gemar minum kopi sambil mendengar suara hujan yang merdu

Sebab mendung dan hujan pernah mempertemukan kami
Sebab abu-abu dan aroma hujan ialah kenangan paling manis di kisah kami
Sebab aku berharap, hujan yang tumpah, akan mengingatkannya tentang aku
Sebab aku berdoa agar hujan membuatnya rindu padaku

Januari masih sibuk memuisikan rindu
Sebelum lewat tanggal tiga puluh satu
Hujan serupa celotehan masa lalu
Yang berpuisi dengan sendu

Depok, 26 Januari 2015
Di luar tidak hujan, tapi di kepalaku sedang deras
Oleh ingatan tentang kamu.