Pekuburan Hati

Sore yang basah oleh hujan itu, kau tak datang. Aku ialah satu-satuya yang sibuk memegangi payung hitam dan membetulkan letak tudungku yang berwarna senada. Angin berembus-embus mendramatisir kota yang sedang dalam suasana kabung. Tidak ada siapa-siapa lagi di sana kecuali aku. Batu abu-abu itu berdiri tegas, seolah ksatria yang berhasil melumpuhkan prajurit yang jatuh. Pada batu itu, kueja nama yang terukir di sana; Hati. R.I.P  H-a-t-i.

Aku masih terdiam di atas gundukan tanah yang di dalamnya tertanam jasad bernama Hati. Ya, Hatiku. Dia sudah lama sekali sekarat, dan kematian adalah hal yang selalu ditunggunya. Dia bosan hidup penuh luka. Dia bosan hidup untuk kembali terjatuh. Dia bosan merapuh dan menjadi dungu karena cinta. Dia bosan hidup hanya untuk jatuh cinta lalu jatuh luka. Ah, dia memang terlalu melankolis. Temannya, Otak, bukannya turut berkabung, malah kesenangan karena dengan kematian Hati, ia bisa menang dan tak perlu susah-susah berdebat dengannya. Hati memang keras kepala bila berdebat dengan otak, tapi ketololannya membuat argumen yang ia rangkai menjadi tidak masuk akal dan sulit dicerna logika. Ia begitu mempercayai keajaiban dan juga dongeng. Hal-hal yang kita tahu hanyalah bualan dunia belaka yang dibuat oleh Hati-Hati para penulis kisah yang sama melankolisnya dengannya. Apa itu keajaiban? Ya, kali ini aku lebih sepakat dengan Otak.

Senja sepeninggal matahari, aku pergi meninggalkan padang yang luas oleh rerumputan. Padang Kematian, namanya. Di sana tempat penguburan Hati, perasaan, cinta, rindu, dan bahkan ada yang menguburkan otaknya. Beberapa memilih menguburkan otaknya karena lebih mempercayai kedunguan Hati yang kupikir malah akan menyusahkan hidupnya. Bagaimana tidak? Memangnya enak hidup terus-terusan mengikuti keinginan hati? Jatuh cinta, terluka, galau, jatuh cinta lagi. Ah, menyusahkan sekali.
Tapi,  yang kudengar-dengar dari kuncen di tempat ini, orang yang sempat menguburkan otaknya adalah orang yang paling bahagia. Ah, masa iya? Memangnya enak hidup tanpa otak? Hidup dengan kedunguan asal punya hati?
Ah, masa bodoh lah. Urusan orang lain, aku tidak perlu ikut campur. Memang apa untungnya untukku? Menghasilkan ilmu saja tidak, uang apalagi. Kita tidak bisa menyambung hidup dengan kepedulian terhadap manusia lain, kan? Jadi biarkan saja. Mau mengubur hatinya kek, otaknya kek, masa bodoh.

Malam itu aku berjalan pulang menyusuri rute perjalanan sampai di rumah. Tanpa tersenyum, tanpa apa-apa. Rasanya hampa. Seperti berjalan tanpa nyawa.
Aku berjalan melewati rel kereta api yang di pinggirnya dipenuhi rumah-rumah dari seng, kayu, atau kerdus bekas. Beberapa anak kecil bermain-main, menyapaku. Ibu-ibu tersenyum padaku sambil mengangguk. Bapak-bapak di sana juga menyapa dengan ramah. Tidak ada satu pun yang kugubris. Hanya ada pemikiran, “Buat apa bikin rumah di pinggir rel? Memangnya tidak bising ketika kereta lewat? Apa itu tidak mengganggu jalur kereta?” aku hanya membalas mereka dengan tatapan sinis sekaligus muak. “Kalau begini, julukan Negeri kumuh memang layak disandang.” aku kembali mencemooh sepanjang jalan. Memaki sampai tak kulihat lagi rel-rel kereta api.
Tetapi anehnya, aku masih bisa melihat mereka tersenyum ramah di balik kesusahan mereka. Masih repot-repot mau menyapaku walaupun kubalas dengan tatapan sinis itu.

Aku menyusuri jalan setapak. Tak kurasakan lagi embusan angin yang menyejukkan jiwa. Tak kurasakan lagi wangi hujan mendamaikan sanubari. Tak kurasakan lagi ketenangan lewat sunyi. Tak dapat lagi kurenungi perjalanan seprti dulu kala. Seperti saat Hatiku masih hidup. Kupikir, saat-saat ini aku begitu membenci diriku sendiri yang sibuk memaki, dan mengeluh sepanjang jalan. Melogikakan hal yang tak perlu dilogikan. Dan melogikakan hal yang harusnya cukup dirasakan. Aku seperti kehilangan….nurani.
Kini, kekosongan itu begitu nyata. Begitu nganga. Betapa hampa hidup hanya dengan otak tanpa hati. Betapa hinanya ketika menjalani hidup hanya dengan otak sebagai tumpuan. Betapa mata kini hanya dipenuhi amarah, muak, dan ketidaksukaan karena suatu hal yang alasannya cukup dengan kata ‘itu merugikan, itu membuat tidak sedap dipandang, itu membuat kotor’ dan sebagainya. Tanpa pernah merasakan apa yang orang lain rasa. Bagaimana merasakan apa yang orang lain rasa, aku saja kini tak bisa merasakan apa yang seharusnya aku rasakan. Ah, rumit. Kini kepalaku pening. Otakku mulai lelah bekerja sendirian.

Dalam perjalanan itu, tak lagi kutemui rasa iba pada sekeluarga yang tinggal di dalam gerobak itu saat tak sengaja melewatinya.

“Pulang, neng.” sapa Ibu itu ramah yang sedang duduk di samping gerobak. Anak kecil di sampingnya ikut tersenyum. Aku hanya menoleh tanpa berkata apa-apa. Aku ingin tersenyum, asal kau tahu saja, tapi rasanya bibir ini kaku. Aku tidak dapat lagi tersenyum. Setelah kehilangan hati, aku kehilangan nurani, lalu empati, lalu….senyumku. Astaga..gawat!

“Nay, sudah pulang?” sesampai di rumah, Mama menyapaku. Aku hanya memberi anggukan sebagai jawaban.

“Habis dari mana?” Mama betanya lagi. Hah, kali ini aku harus menjawabnya pakai suara.

“Pemakaman.” jawabku singkat.

“Lho, siapa yang mati?” tanyanya lagi. Ugh, aku lelah, andai dia tahu!

“Hati.” aku menjawabnya singkat lagi tanpa menoleh ke arahnya.

“Biar Mama tebak, hatimu yang mati?” kini nadanya menjengkelkan. Aku mengangguk saja otakku sudah lelah mengajaknya berdebat.

“Pantas…” perempuan itu kini menghapiriku dengan langkah gemulai. Lalu tangannya mengusapi ubun-ubunku. Aku menepisnya. Aneh sekali rasanya, tak seperti biasanya. Rasanya asing. Tak ada lagi hangat yang menjalari dadaku.

“Nak, manusia tidak bisa hidup hanya dengan otak.” katanya lembut. Matanya menatapku sedih.

“Manusia butuh hati meski berkali-kali disakiti. Manusia butuh otak meski sering dikatai dungu, atau dibilang tidak punya otak.” perempuan itu kembali mencerocos. Namun cerucusannya dapat mengendap di kepalaku. Menjadi renungan.

“Mereka seperti sejoli yang terlihat saling membenci padahal mencintai. Hati dan Otak, tidak bisa dipisahkan. Hmm..jadi mengapa kamu mengubur hatimu, Nay?”

“Otakku lelah. Dan aku sepaham dengannya.” jawabku seadanya. Perempuan itu malah tersenyum. Senyum yang tak dapat kubalas.

“Sekarang, apa otakmu tidak lelah bekerja sendirian?” aku mengedikkan bahu. Tidak tahu.

“Tidak tahu. Aku lelah, Ma. Aku mau tidur.” kataku sambil memutar gagang pintu kamar.

“Baiklah.” kini perempuan itu membiarkanku tenggelam dalam kamar.

Aku sudah lelah. Otakku sudah lelah. Tak mampu diajak berpikir jernih. Tak mampu merasakan apa-apa lagi selain rasa lelah yang luarbiasa dan juga kantuk. Ah, sial! Mama benar! Manusia tidak bisa hidup tanpa salah satu di antara otak dan hati. Manusia perlu keduanya untuk menyelaraskan. Dan aku ingin Hatiku hidup kembali. Hatiku tidak mati dan mampu bereikarnasi menjadi Hati yang baru. Yang benar-benar baru dan tangguh untuk kembali menghadapi jatuh cinta yang baru dan juga luka-luka baru. Ya, bagaimanapun aku harus menghidupi hatiku lagi. Bagaimana caranya? Ah, otakku sudah tidak bisa diajak berpikir. Ia sudah kelelahan dan butuh tidur. Tidur yang mampu memulihkan.

Dan astaga….teman-teman, kau harus tahu, hidup sebagai manusia yang tanpa hati itu sangat tidak enak. Seperti zombie yang diizinkan Tuhan bertamasya ke bumi. Kosong. Hampa. Hidup tapi mati. Mati tapi hidup. Begitulah.

Ah, aku perlu tidur.
Selamat malam. Semoga besok aku bisa menemukan cara agar hatiku hidup kembali.

Iklan

Pukul Berapa?

Perempuan itu diam di sudut meja belajar kamarnya. Melihat jam dinding yang berdetak seperti jantungnya. Tak-tik-tok. Bergantian, perempuan itu melihat ponselnya yang masih belum ada tanda-tanda akan ditelepon oleh Bryan, kekasihnya. Hampir pukul  dua belas malam, Bryan belum kunjung menghubunginya via apa pun. Tetapi perempuan itu tetap menunggu dengan setia seperti bunyi-bunyi jangkrik di halaman depan rumah yang tak pernah digubrisnya namun masih tetap bersuara. Hening. Hanya ada suara butir hujan yang jatuh menerpa kaca jendela kamarnya. Ponselnya tak kunjung berdenging jua.

‘Bryan, di sini tengah malam, di sana apakah malam juga?’ perempuan itu mengetik pesan pada kekasihnya.

Satu jam. Dua jam. Kekasihnya tak kunjung membalas. Ke mana kau? Tidakkah kau tahu aku di sini merindukanmu. Kau bilang besok kau akan kembali ke rumah, tapi mana? Kini kau malah menghilang bagai ditelan bumi. Kau ingin memberiku kejutan? perempuan itu gusar. Tetapi ia masih asik duduk di depan meja belajarnya yang sudah usang itu, matanya tak berhenti menatap layar ponsel. Nyala. Redup. Nyala. Redup. Layar ponsel dinyalakan kemudian dimatikan, berharap Bryan meneleponnya. Malam ini ia sangat rindu. Rindu yang amat sangat itu membuat perempuan itu menggigil.

Pukul tiga dinihari. Perempuan itu kini lelah dan telah rebah di kasurnya, tetapi tidak terpejam. Dibiarkannya matanya tetap nyalang seperti burung hantu. Tangannya masih asik memainkan ponselnya. Hatinya tak kunjung lelah berharap kekasihnya akan memberikan kabar. Tak terasa, matanya kini basah oleh air matanya. Hangat air mata itu menjalar sampai ke pipi kemudian mendarat di bantal kesayangannya.

“Aku rindu kamu, Yan…” bisiknya lirih.

*Ceklek* suara pintu dibuka. Lampu kamar segera dinyalakan oleh bayang perempuan yang kini berdiri di depan kamar.

“Mama..” pekik perempuan itu setengah terkejut.

“Mita, kamu belum tidur, nak?” tanya mamanya. Perempuan itu menggeleng.

“Aku masih menunggu kabar Bryan, ma.” ujar Mita lirih. Perempuan setengah baya itu tersenyum miris kemudian ia mengusap kepala anaknya.

“Tidurlah, nak.” katanya lembut. Tetapi anaknya kini menghambur ke pelukannya. Lalu menangis dalam diam. Dalam perihnya luka yang takkan pernah bisa sembuh entah sampai kapan.

“Ma?”

“Iya, Mita, ada apa?”

“Menurut Mama, di surga pukul berapa?” Mita bertanya lirih. Kini mamanya yang memeluk Mita erat-erat.

“Nak, Bryan pasti sudah tidur tenang di surga. Hidup bahagia, tak peduli pukul berapapun. Sekarang kamu tidur, ya.” ujar Mamanya lembut. Mita mengangguk.

Tidur ketika rindu berada di puncak ialah hal yang sulit.
Bryan, kuharap Mama benar, kau sudah bahagia tak peduli pukul berapa di surga sekarang.
Di sini pukul empat, Bryan. Selamat tidur.

Lampu dimatikan. Bersama rindu perempuan itu.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Depok, 25 Februari 2015

Puisi Malam Minggu

Mataku masih asik menjelajahi aksara di depan layar monitor. Biasanya, aku lebih suka membaca cerpen atau puisi cinta karya siapa saja yang ada di internet. Di saat para muda-mudi, juga kau, menghabiskan malam minggu bersama kekasih, makan malam atau semacamnya, aku malah asik sendiri di sudut kamar bersama laptop kesayangan. Membaca, menulis, mendengarkan lagu dan sebagainya.

Ah, aku mulai lagi memuisikanmu lewat huruf-huruf yang sedang kuketik di papan digital. Selalu seperti itu setiap malam, apalagi malam minggu. Mungkin malam ini kau sedang makan ice cream berdua pacarmu di taman kota, atau menghabiskan malam dengan film kesukaan di bioskop, atau sedang sibuk mengunyah pop corn, atau…..ah, sudahlah membayangkan itu semua membuat kepalaku ingin meledak! Sesak dipenuhi kata-kata yang ingin kuucapkan, tetapi selalu tertahan di ujung bibir.

Malam ini malam minggu
Kau tak tahu aku sedang merindu sendu
Padamu yang kini asik bercumbu
Dengan dia-mu yang sedang senyum malu-malu

Ah, mungkin aku dungu
Siapalah aku yang sering merindumu
Hanya gadis menyedihkan di ujung kamar dengan padam lampu
Memuisikanmu lewat aksara-aksara yang tak terlalu syahdu

Malam ini malam minggu
Kau tak tahu aku masih merindu
Engkau yang bukan siapa-siapaku
Ah, apalah aku

Aku terkekeh sendiri membaca puisiku. Puisi untukmu. Untukmu yang malam ini sedang asik makan berondong jagung di ruang bioskop, untukmu yang sedang melahap makan malammu yang romantis dengan sinar remang lilin-lilin, untukmu yang sedang bersamanya. Kekasihmu. Ah, aku bisa apa untuk menikmati malam minggu bersamamu kalau bukan dengan puisiku untukmu? Kau tahu, dengan aku berpuisi, aku selalu bisa mengupas rinduku tanpa berjumpa denganmu. Ya, hanya dengan memuisikanmu. Terserah, kalau kau tidak percaya, tapi itu yang kulakukan untuk sekiranya membuatku lega.
Ah, seandainya saja kau tahu, malam mingguku selalu begini; merindumu tak kenal kata tuntas.

Bila nanti engkau milikku
Bila saja cinta berbalas
‘kan kusayang selama hidupku~
#np Yovie & Nuno – Malam Mingguku

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Depok, 25 Februari 2015

Kado Untuk Shizuka

Aku masih menemani laki-laki yang senang memakai baju warna kuning seperti warna kulitku ini mengelilingi mall. Kakinya menyusuri berbagai sudut gerai-gerai yang menjual kado-kado manis untuk perempuan. Ya, Nobita kini sibuk mencari kado yang cocok untuk Shizuka. Bukan rahasia umum lagi kan kalau Nobita sungguh-sungguh menyukai Shizuka. Gadis cantik yang sering mengikat dua rambutnya.

“Dorami, kalau kamu jadi Shizuka, kado apa yang paling kamu inginkan?” tanya Nobita padaku yang sedang sibuk melamun. Ha? Kalau aku jadi Shizuka? Aku sempat menatap Nobita lama. Seandainya saja, aku bisa bertukar tempat dengan Shizuka.

“Hmm…kalau kamu bertanya padaku, aku akan menjawab buku.” jawabku sambil tersenyum. Nobita mengangguk.

“Buku ya? Boleh juga. Shizuka suka buku apa ya?” Nobita berjalan menyusuri mall, menghampiri toko buku yang ada di dalamnya. Aku hanya diam saja, menyejajarkan langkahnya.

“Kalau gaun bagaimana?” tanya Nobita lagi. Dia bingung buku apa yang disukai Shizuka. Dia bertanya padaku, buku kesukaan Shizuka, tapi aku bukan Shizuka, jadi mana kutahu?

“Boleh saja.” ujarku singkat. Aku ingin ini segera berakhir, tetapi Nobita kelihatan sangat bersemangat ingin membelikan Shizuka kado ulang tahun. Besok adalah ulang tahun Shizuka.

“AAAAA ini bagus sekali ya, Dorami!” Nobita menunjuk gaun selutut warna merah muda. Persis dengan baju yang sering dikenakan Shizuka, tetapi gaun ini lebih gemerlap, lebih indah.

“Ba…ba..gus Nobita.” aku benar-benar terkesima dengan gaun itu. Berharap, aku yang akan memakainya.
Ah, seharusnya kakak Doraemon yang menemani Nobita, tapi justru aku yang harus menahan rasa terluka ini sebab seharian aku sudah mendengar nama Shizuka ratusan kali dari bibir Nobita. Dan aku cemburu. Awas nanti ya kak Doraemon! geramku dalam hati.

“Ah, aku sudah tidak sabar melihat Shizuka mengenakan gaun ini! Pasti cantik sekali!” Nobita nyengir super-lebar. Aku melihat cinta itu di matanya tumbuh sedemikian besar untuk Shizuka. Dan itu membuatku terluka.

Ah, siapalah aku. Hanya robot kucing perempuan yang jatuh cinta pada manusia. Robot dan manusia? Robot kucing pula! Huh, mana mungkin cinta semacam itu ada pada kisah ini. Biarkan saja aku melihat Nobita menggapai cinta Shizuka, toh aku lebih suka melihat senyum Nobita terkembang meski bukan karena aku. Si Dorami, robot kucing abad 21. Dan melihat Nobita bahagia saja seperti sekarang ini, sudah cukup bagiku.

ilustrasi : weheartit.com

-end-

Depok, 25 Februari 2015
#RabuMenulis

Ilusi Pagi

Selamat berganti hari, kau yang sedang sibuk entah dengan apa. Aku tidak akan mengucapkan selamat pagi lagi, sebab aku bangun ketika pagi sudah menua dan berakhir mati terbakar terik matahari siang. Hari ini suratku ingin menceritakanmu sebuah dongeng, ya.
Dongeng tentang bunga yang mekar di kepala perindu, judulnya Ilusi Pagi. Entah mengapa, sejak aku terbangun, aku ingin sekali berdongeng kepadamu, tentang apa saja seperti yang sering kaulakukan dulu. Yang sering kita lakukan dulu; bercerita. Ah, kau tahu kini ketika aku mulai menulis surat ini, aku sedang rindu-rindunya pada alis, mata, hidung, bibir, dan tanganmu yang bergerak-gerak ketika kau bercerita. Lucu sekali!
Hehe..kumulai saja ya dongengnya;


Pada suatu malam, ketika gugusan bintang pagi mulai merayapi langit yang kini tak hitam lagi sebab jarak antara bumi dan matahari semakin dekat, sekuntum bunga mekar pada kepala seorang perempuan. Bunga itu mekar disirami air mata dari sepasang mata perindu yang begitu lama menunggu temu.

Perempuan itu barangkali terlalu lelah menunggu harapan yang tak kunjung jadi nyata, menunggu do’a-do’a nya dianggukkan semesta. Ia tersedu sedan di kamarnya yang gulita oleh padam lampu di langit-langit kamarnya.

“Duhai Tuhan, sampai kapan aku menunggu dia yang tak lekas datang? Kau tahu, aku menunggunya sejak malam memiliki langit sehitam gaun malamku hingga warna langit malam itu luntur oleh cahaya matahari dan berubah ungu.” perempuan itu masih menengadahkan tangan sambil menatap jendela yang mempertunjukan warna langit yang hitamnya perlahan mengungu. Semesta tak kunjung mengangguk, Tuhan tak kunjung menjawab pertanyaan si perempuan.

Perempuan itu kini sudah pejam. Mengatupkan sepasang matanya yang masih menyisakan genangan air. Dibiarkannya air mata itu mengering sendiri diembus angin malam yang lewat dari ventilasi udara dalam kamarnya. Diam-diam, Tuhan masuk ke dalam kamar perempuan itu. Mengendap-endap, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Ia menghampiri perempuan malang itu dan menanam sesuatu di kepalanya. Bibit bunga. Tuhan menghadiahi perempuan itu bibit bunga. Usai menanam bibit bunga dalam kepala perempuan yang sedang tidur,Tuhan segera pulang ke tempat asalnya. Mengendap-endap tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Dibiarkannya angin tak berembus ke dalam ventilasi kamar perempuan itu. Tuhan sengaja menahan angin agar tak tembus ke kamar perempuan itu supaya air matanya bisa menyirami bibit bunga yang baru saja Ia tanam di keningnya. Perlahan, senyum Tuhan terkembang di sudut-sudut bibirnya.

Malam itu, gugusan bintang pagi merayapi langit. Bulan purnama sudah menghapus riasan di wajahnya, bersiap pulang dan rebah pada ranjangnya. Pementasan langit malam sudah usai, diganti oleh dinihari. Dalam kepala perempuan itu, bunga perlahan mekar. Air mata di dua ujung kelopak matanya diserap bibit bunga tadi dan membuat kelopak-kelopak bunga yang indah. Perlahan, perempuan itu tersenyum. Sebab, di dalam kelopak bunga dalam kepalanya keluar seorang laki-laki. Laki-laki yang membuatnya menunggu sekian lama.

“Selamat pagi, Rinai.” ujar laki-laki itu menyapa perempuan yang sedang terpana di hadapannya. Perempuan yang semalam menanyakan keberadaannya pada Tuhan. Perempuan yang dipanggil Rinai, tersenyum.

“A…Awan…” ya, laki-laki itu bernama awan.

Laki-laki yang bernama Awan turun dari kelopak bunga, lalu menghampiri Rinai. Awan memeluk Rinai. Dibiarkannya tangis Rinai membasahi kemeja awan. Kemeja yang sering dipakainya. Awan mendekap perempuan itu lekat-lekat. Sekejap saja, sebelum akhirnya dilepas dan digantikan genggaman tangannya pada Rinai.

“Maafkan aku harus pergi dan meninggalkanmu.” kata laki-laki itu dengan wajah bersalah. Rinai mengangguk.

“Aku merindukanmu sepanjang malam.” Rinai mendesah lirih.

“Aku tahu. Ini berat untukmu, dan juga untukku, andai kau tahu.” Awan masih menggenggam tangan Rinai yang dingin. Yang halusnya masih sama seperti dulu.

“Aku tahu, Awan. Tetapi malam ketika merindumu itu terus berulang setiap malam.” Rinai menangis. Awan masih sibuk menghangatkan tangan Rinai.

“Kau seharusnya tidak merindukanku.” ujar Awan. Kini laki-laki itu menangis.

“A…aku tahu. Aku seharusnya melepasmu dan tak perlu lagi menunggu…” Rinai berkata lemah. Ia lepaskan genggaman tangan Awan lalu berlari sekencang-kencangnya meninggalkan Awan yang termangu sambil melelehkan air mata di sepasang mata yang jarang menangis. Kini ia menangis.

Rinai kini telah sampai di entah di mana. Meninggalkan Awan yang ingin sekali ia temui. Meninggalkan begitu saja laki-laki yang sudah ribuan malam ditunggunya. Angin membelai rambut sebahu Rinai. Dibiarkannya air mata itu kini dikeringkan angin dan waktu. Perempuan itu kembali terpejam. Dirasakannya air mata itu menghangatkan pipinya juga perasaannya. Ia ingat kata-kata Awan; kau seharusnya tidak merindukanku.
Ah, kini perempuan itu merasa dungu telah dipermainkan malam yang ia habiskan demi menunggu laki-laki itu. Laki-laki yang justru tidak menginginkan rindunya. Ia terpejam, mengingat detik-detik perpisahan waktu lalu dengan pelukan singkat dan aroma-aroma tubuh Awan yang lebih mirip hujan. Ia terpejam, mengingat air mata lelaki itu. Tunggu…air mata? Laki-laki itu menangis?

Perlahan, Rinai membuka matanya. Terang. Kini yang perempuan itu lihat hanya terang yang memenuhi pandangannya. Langit malam yang ungu itu sudah tak nampak, digantikan kuning matahari yang sedang nyengir pongah. Ia tahu ini musim panas dan bukan lagi musim hujan.
Perempuan itu ingin kembali, ke tempat di mana Awan berada di depannya, menggenggam tangannya, dan menangis. Tapi ia tak bisa kembali lagi. Pagi sudah memberangus mimpi itu menjadi tiada, bahkan bantalpun tak sanggup merekamnya. Ah, ya, yang barusan itu hanya mimpi belaka. Ilusi pagi yang sementara. Namun hujan di sepasang mata lelaki itu kembali mengusiknya, membuat ia ingin berlari ke tempat Awan berdiri, dan bertanya;
“Awan, apa kau bahagia?” hanya itu. Perempuan itu hanya ingin memastikan, apakah laki-laki yang ia rindukan, yang ia cintai itu bahagia dengan pilihan hidupnya; pilihan untuk pergi meninggalkan Rinai berdua saja oleh luka.

Ah, ia ingat doa semalam pada Tuhan yang ia pikir malas menjawab doanya. Ia ingat bunyi-bunyian semalam, suara mengendap-endap. Bunga itu. Bunga yang ditanam Tuhan di kepalanya semalam. Bunga itu dinamakannya bunga ilusi. Ilusi pagi. Perlahan, perempuan itu kembali tersenyum, dengan kesadaran yang lain; ternyata, Tuhan menjawab do’a umatnya dengan cara yang berbeda-beda. Seperti caraNya menjawab doaku lewat mimpi, bisiknya dalam hati sekaligus menyisipkan ucapan terima kasihnya pada Tuhan.

Perempuan itu kembali terpejam. Kali ini, bukan untuk kembali melihat Awan berada di kepalanya, tetapi untuk melupakan. Melupakan mimpi. Melupakan tangisan Awan. Dan menganggap, rindunya pada Awan telah usai diberangus matahari yang kian tinggi.

Tamat.


Bagaimana dongengnya? Kau suka?
Ah, Kau tahu?
Semalam, bunga yang sama mekar juga di kepalaku. Aku tidak menanggap ini sebuah pertanda atau apa,
tetapi, semoga kau selalu bahagia dan baik-baik saja.

Depok, 25 Februari 2015

Pistol

Dyaaarrr! Dyaaarrr!
Barisan aksara itu menembaki kepala
Dengan tubuh tegap seperti tentara
Mereka lihai menembaki peluru-peluru ke arah yang diincar

Aku tidak menghindar
Apalagi menyerang balik
Tubuhku hanya kaku di tempat
Seperti manusia yang diperdungu rasa takut

Dyaaarrr! Dyaaarrr!
Kubiarkan aksara berseragam tentara
Meleburkan kepalaku dengan peluru-peluru
Berisi tubuhnya sendiri

Aku masih tidak menghindar
Apalagi menyerang balik
Kubiarkan kepalaku lumat oleh luka
Oleh darah yang mengucur dari sana serupa hujan

Dyaaarrr! Dyaaarrr!
Kunikmati tiap bunyi ledakan itu
Bergemuruh gaungannya pada telingaku
Serupa suara dewi-dewi yang suaranya merdu

Aku tidak akan menghindar
Sebab jitu peluru menghabisi kepalaku dengan aksara
Darah-darah yang mengalir dibuat air minum oleh para perindu
Yang haus akan sebuah temu dan angan semu

Ah, mereka mungkin seperti aku
Yang kepalanya sudah lebur oleh peluru
Dari para aksara-aksara berpakaian tentara
Lalu yang membuat mereka, juga aku, rela ditembak hancur
Ialah pistol pada tangan-tangan tentara

Tak perlu lagi aku bertanya pistol apa yang dipegang tentara
Sebab aku, juga mereka, sudah tahu jawabannya
Itulah alasan mengapa kami, para perindu, tidak gentar menghadapi peluru-peluru
Tidak takut akan darah yang mengucur deras dari kening

Pistol itu bernama rindu
Peluru-pelurunya membuat candu
Ah, mana mungkin aku kabur
Dari tiap ledakan yang buat kepalaku lebur

rindu itu pistol yang siap meledakkan kepalaku.
sekarang.

– @chikopicinoo

Depok, 24 Februari 2015

Rahasia Februari

Februari penuh cinta. Cinta. Cinta. Cinta. Huh, apa itu cinta? Mengapa namaku disambung-sambungkan dengan cinta? Memangnya, siapa itu cinta? Aku saja sebagai Februari tidak mengenalnya.

Ya, kenalkan, aku Februari. Yang menurutmu aku ini bulan penuh cinta hingga di mana-mana merah muda terpasang di setiap sudut tempat. Bunga mawar disusun sedemikian rupa hingga menjadi rangkaian romantis-romantisan. Puisi-puisi cinta bergaung di mana-mana, diucapkan dengan bisik-bisik lembut kemudian berubah menjadi desah dan lenguhan panjang. Bunga diberikan pada perempuan-perempuan dari tangan kanan laki-laki yang sedang berlutut dengan wajah memelasnya. Setelah bunga, lalu cokelat, lalu kunci kamar hotel, lalu kondom yang laris manis di supermarket itu berserakan di mana-mana; di kamar kosan, di kamar hotel, di semak-semak. Begitukah cara manusia merayakan apa yang mereka sebut cinta? Cinta kelamin sendiri maksudnya? Cinta kepuasan? Atau cinta pembodohan?
Lho, tenang-tenang yang kemarin enak, kok sekarang ‘ndumel tho? Ingat, aku ini bulan cinta yang kalian jadikan alasan untuk memberi makan nafsu kalian! HAHAHA

Kalau kau mau tahu, langsung dari aku–Februari yang kalian bilang bulan penuh cinta–,aku pun muak dengan cinta. Asal kau tahu saja. Aku ini perempuan. Di tubuhku ini ada sebuah organ bernama 14, dan entah mengapa di dalam sana sangat bising sekali hingga suara-suara nyaring dari organ itu pun terdengar oleh telingaku. Kudengar dari teman-temanku; Januari, Maret–mereka teman terdekatku–aku ini disebut bulan cinta. Bulan penuh renda-renda merah muda. Entah mengapa, aku juga tidak tahu. Di organ bernama 14 itu aku mendengar orang bersuara lantang menyatakan cinta, ada yang bisik-bisik memberi mawar dan cokelat, ada suara ciuman, ada suara gesekan, ada suara napas yang memburu, ada suara desahan menggoda perempuan dan laki-laki, ada lenguhan yang panjang sekali dari dalam sana. Namun di antara kemuakkanku mendengar suara-suara itu, ada yang paling membuatku terkesan. Ya, suara orang membacakan puisi cinta. Ah, semasa-bodoh-nya aku dengan organ 14 itu, dengan manusia-manusia yang sedang bercinta, dengan kisah-kisah drama cinta manusia, aku paling menyukai suara orang berpuisi. Apalagi kalau suara laki-laki. Ah kau kan tahu aku ini perempuan yang lama melajang, aku akan luluh mendengar puisi-puisi itu, walau hanya terekam sebentar dalam organ 14ku itu. Sayangnya, cuma sebentar. Yang lebih lama justru suara ciuman lalu ‘plok-plok’ lalu lenguhan yang panjang. Hih!

Bagiku, puisi mempunyai sirat kejujuran tersendiri dari si penyair yang melantunkan larik-lariknya. Aku bisa menangis, dan tersenyum seperti orang tolol bila mendengar suara manusia berpuisi. Aku menangis sedih ketika mereka berbicara tentang luka yang diperindah dengan bahasa. Aku tersenyum seperti gadis tolol yang sedang jatuh cinta sebab puisi jatuh cinta yang terlampau manis. Ah, di antara suara-suara yang lain–yang memuakkan–puisi ialah suara terindah dari organ 14. Aku tidak akan menyumbangkan organ 14 ku pada bulan-bulan lain karena puisi. Kalau bukan karena puisi, sudah kusumbangkan organ itu seperti yang kulakukan pada organ 29, 30, dan 31. He..he..

Oh iya, mungkin ada yang protes kepadaku sebab tanggal 14 lalu di kota kalian malah hujan deras, jadi kalian tidak bisa merayakan cinta sekaligus esek-esek hangat itu kan? Kalau kalian mau tahu mengapa tanggal 14 hujan, yaaa…aku hanya iseng saja kok. Sekali-sekali lah mengisengi para manusia seperti kalian yang memakai namaku dan organku untuk alasan ‘enak’ kalian. Muehehehe….
Btw, kata teman-temanku, aku ini gadis usil tapi dermawan. Lha, organ-organku saja tak sumbangi ke bulan yang lebih membutuhkan! Hehehe…

Oh iya, satu lagi nih pesan buat para manusia yang masih ingin mempunyai tanggal 14 Februari di kalender kalian;
“Perbanyaklah berpuisi, dan kurangilah melenguh seperti kuda. Terima kasih.”

-Dari Februari. Salam xoxo buat para manusia :*


Oalaaaah Februari itu gadis lajang toohh! *manggut-manggut*

Depok, 24 Februari 2015