Pejamlah, pejam, mata sayumu

Kutitipkan rindu pada bibirmu yang ranum,
manis oleh puisi.
Tapi rinduku itu sayang,
ialah berupa doa.

Ciumlah doa itu, sayang
serupa kaucium aroma tubuh kekasihmu.
Aku di sini jauh, hanya bisa tengadah
seraya mengucap namamu, rindu.

Pejamlah, pejam mata sayumu.
Aku begitu betah menatapnya berlama-lama dalam ingatan.
Tenang serupa laut tanpa ombak.

Pejamlah, pejam mata sayumu.
Jangan khawatir gelap mencuri cahayamu,
sebab sinar terang itu tiada mampu tersentuh kelam.

Pejamlah, pejam mata sayumu itu.
Sini, biar kubacakan dongeng;
Tentang rindu yang sebatang kara,
dan tak tahu arah mana ia akan pulang.

Pejam matamu, ialah ladang luas.
Dan aku ialah petani yang menyemai doa.
Maka tidurlah.
Jangan abai dengan tubuhmu sendiri.

Pejamlah, pejam mata sayumu.
Sini, biar kudongengkan tentang perempuan
tabah mencintai lelaki yang menaruh luka di dadanya.
Namanya, aku.

Pejamlah, pejam, mata sayumu…

weheartit

Depok, 03 Februari 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s