Pemetik Senja

Rerimbunan hijau itu nampak masih sama seperti puluhan tahun lalu. Daun-daun dari dahan pohon jeruk yang dulu kutanam dengan Amira, istriku tercinta, kini sedang berbuah banyak. Musim panen jeruk di desaku membuat halaman belakang rumahku penuh oleh jeruk-jeruk yang menggantung di batang pohonnya. Wanginya pun masih sama. Persis seperti bertahun-tahun yang lalu saat aku memetik jeruk bersama Amira. Katanya, aku dan dia adalah pemetik senja.

Aku teringat sebuah percakapan dulu, ketika pagi muncul di kedua bola matamu yang berbinar emas,
Pukul sembilan, kebun belakang rumah,

“Kita adalah pemetik senja, Roum.” Ujarnya dulu. Bertahun-tahun lalu, aku masih ingat. Usiaku belum menelan memori yang itu. Kata-kata Amira yang itu.

“Mengapa pemetik senja? Bukankah kita sedang memetik jeruk?” Tanyaku sambil memasukan jeruk yang kupetik ke dalam keranjang. Dia menoleh. Keranjangnya isinya sudah penuh.

“Lihat, warna jeruk kita oranye. Persis seperti senja. Kau kan tahu betapa aku menyukai senja sama seperti menyukai aroma jeruk dan aroma tubuhmu.” Dia mengerling genit.

“Aromaku tidak berbau jeruk kan?” Tanyaku sambil mengendus tubuhku sendiri. Amira tertawa.

“Tentu tidak. Tapi aku menyukainya.” Itu ialah kata terakhir yang kuingat.

Segaris senyum mematri di wajahku. Mengingat percakapan dulu dengan Amira, istriku tercinta.
Tanganku masih sibuk mengambil jeruk-jeruk di atas kepalaku. Benar katamu, warnanya senja. Indah, sama seperti binar matamu.


Amira, kalau kau berada di sini, kau pasti akan sibuk memetik senja, seperti yang sedang kulakukan sekarang. Bibirmu pasti akan terkulum senyum, karena aroma jeruk yang berada di mana-mana. Di kebun belakang, di ruang tamu, di ruang makan, kamar mandi, dan kamar kita. Kamar yang dulu beraroma peluh ketika malam sedang di ujung langit. Kamar yang dulu hidup oleh suara tawa kita, suara pertengkaran kita, atau lenguhan yang pernah mengisinya juga.

Amira, apa di surga ada pohon jeruk? Apa di surga punya kebun jeruk seindah kebun belakang rumah kita? Apa di surga memiliki senja dan aroma jeruk?
Aku tahu Amira, pasti ada. Tuhan pasti mengabulkan segala inginmu karena kau adalah istriku yang paling baik.
Tapi kau tahu, Amira? Ada yang tidak ada di surga. Kau pasti tahu, kau pasti merasakannya juga. Yaitu aromaku. Aromaku yang kau sukai.

Amira, bersabarlah, aku akan datang membawa aroma jeruk dan aroma tubuhku ke surga. Aku hanya butuh sedikit waktu lagi untuk menjadi pemetik senja yang kesepian. Tanpa kau. Hanya aku, kebun jeruk, dan jeruk di keranjangku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s