Kepada Puisi-puisiku

Kepada puisi-puisi yang pernah kulafalkan di ujung lidah,
puisi-puisi yang lahir dari rahim kepala, dan jari-jemari yang menari di atas papan digital,
kenalkanlah, aku Ibumu.

Aku seorang perempuan. Ya, seorang ibu puisi bukan hanya perempuan, laki-laki juga bisa menjadi ibu dari puisi-puisi. Tetapi, aku perempuan.
Kau tidak perlu tahu namaku, cukup kau tahu saja tempat dan tanggal lahirmu yang kusemat di akhir baris. Mereka menyebutnya titimangsa.
Sebelumnya, aku minta maaf, sebab beberapa dari kalian, kulahirkan untuk kesedihan, demi egoku. Demi mengisi kekosongan yang tak pernah sempat dia isi. Ya, dia. Bukan, bukan ayahmu. Hanya saja, kau terlahir karenanya.
Puisi patah hati. Ya, kalian yang kulahirkan dengan air mata yang bersimbah, dan kesedihan yang panjang. Aku meminta maaf tlah melahirkan kalian, maaf untuk menjadikanmu sebuah kesedihan yang sendu lewat tubuh-tubuhmu.

Nak, kehadiranmu walaupun dengan luka, tetapi kau mampu melegakanku.
Kau mampu menerangi gelap dan legam malam yang tersimpan dalam kepalaku.
Kau mampu menenangkan ego, dan ketidakwarasanku sebab luka yang menganga.
Kau mampu membuatku merasa…..kekosongan itu penuh. Penuh kembali.
Dan yang terpenting Nak, kau mampu menyampaikan rasa rinduku pada dia, meski tak pernah sekalipun hurufmu terbaca olehnya.

Nak, biasanya, kau lahir di tengah kegelapan malam,
hujan deras, atau rintik-rintik, tidak mesti.
Tetapi, saat aku melahirkanmu, Nak, aku tersiksa sakit di sekujur dada,
menahan sesak dan kepedihan. Nak, penderitaan itu punya nama.
Setiap penderitaan punya nama.
Namun yang menderaku saat itu ialah bernama rindu.

Dan setelah kau lahir, rindu itupun musnah.
Nak, berkat kau.

Terima kasih.

Nak, jangan lelah mengisi rahimku dengan aksara. Sebab kepalaku perlu kauisi dengan itu.
Tanpa aksara, kepalaku hanyalah tengkorak tanpa apa-apa.
Nak, tetaplah menjadi aksara yang cantik, yang tampan, yang enak dibaca semua orang.
Nak, biarkan Ibu terus melahirkan puisi, biarkan Ibu merasakan luka atau jatuh cinta untuk melahirkanmu.
Sebab, kau lahir dengan itu; luka, ataupun jatuh cinta. Sedih ataupun bahagia. Biru dan sendu satu-padu.

Kepada puisi-puisiku,
Jangan lelah berpuisi, sebab namamu memang itu.

Depok, 07 Februari 2015

Iklan

One Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s