Pernah

Pernah. Kita pernah. Kita pernah.
Pernah. Aku pernah. Kau pernah.
Pernah. Di antara aku dan kau pernah.
Pernah. Cinta pernah berada di antaranya. Aku. Kau. Pernah.

Kita pernah saling menautkan sepasang hati
Lewat tatap atau bibir yang terikat mati
Pada sebuah malam yang legam oleh cemas
Meredam nafsu yang kian gelap, kian beringas

Pernah. Kita pernah. Kita pernah.
Kita pernah, sayang, meramu kenang pada kening malam
Ketika kerutan langit senja menggelapkan merah
Lalu kita terbakar oleh palung rindu yang dalam-dalam

Pernah. Kita pernah. Kita pernah.
Cinta kita pernah seperti laut, sayang
Yang dalam dan tiada dapat terukur siapa-siapa
Namun waktu pintar mengubah segalanya jadi mudah

Laut pun terukur,
dan cinta kita ikut terukur

Cinta yang dapat ditakar, sayang
Bukan lagi bernama cinta
Mungkin hanya sebatas nafsu berahi atas nama kasih sayang
Atau, apa pun yang bukan cinta

Pernah. Kita pernah. Kita pernah.
Kita pernah saling mengeja puisi paling sakral,
aku mencintaimu, katamu, kataku
Sebelum semuanya mati, sebab tiada yang kekal.

Sayang, laut takkan kekal,
gunung pun juga tak kekal,
cinta kita apalagi.
Maka itu, lahirlah kata ‘pernah’

Pernah. Kita pernah. Kita pernah.
Pernah. Percayalah sayang,
bahwa kita pernah ada.

Depok, 07 Februari 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s