Penentang Takdir

Ada yang lebih jahat dari sebuah kebohongan bertuliskan “Februari adalah bulan penuh cinta” kepada para pemilik hati patah yang terus-terusan menangis ketika hujan?
Adakah yang lebih keji dari sebuah sapa berakhir dengan selamat tinggal?
Adakah yang lebih pahit dari perpisahan yang dipaksakan?
Adakah yang lebih ironis dari kita?

Ya, ada takdir.

Takdir. Lebih jahat dari “Februari adalah bulan penuh cinta.” Nyatanya, cih!
Cinta apaan? ujar si pemilik hati patah sambil melempari hatinya ke lantai. Remuk. Remuk sudah tak bersisa.
Bagi mereka, Februari ialah bulan penuh cinta adalah bualan bodoh yang tak bisa ia percaya. Namun diam-diam menghadirkan harapan tipis di dadanya yang sudah tak berhati itu.

Takdir bisa lebih keji dari sebuah sapa yang berakhir ucapan selamat tinggal. Lha, memangnya yang membuat sapa berakhir kata perpisahan itu sopo kalo bukan takdir? hhmmm? sopo?

Takdir bisa lebih pahit dari kopi apapun. Kopi yang dipanggang 360 celcius, atau ampas lima sendok kopi tanpa gula. HAHAHA rasakan itu, rasakan pahitnya!

Takdir bisa lebih ironis dari kita. Ya, ironis. Ironis.
Dia yang mempertemukan, dia juga yang memisahkan.

Jadi, di sini siapa yang labil?

Ah, dasar manusia. Hanya bisa menyalahkan takdir.
He-to-the-llo. I’m only human. So, setelah laki-laki, yang salah melulu ialah takdir.

Ironis?
Ya, memang begitu.

PS: Ini nulisnya mawut. Sesuai sama suasana hati yang nulis. OKTHNX

Dpk, 9 feb 15

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s