Perempuan Berambut Bondol Di Ujung Kafe

Perempuan berambut bondol itu masih duduk di sana. Di kursi kayu dekat sekat kaca yang memisahi antara kafe dan luar mall. Di mejanya, secangkir kopi yang dipesannya beberapa menit lalu masih penuh. Perempuan itu malah semakin asik dengan notebook yang dibawanya. Ia tengah sibuk mengerjakn deadline kantor. Artikel-artikel yang harus ia kirim ke redaksi berhari-hari lalu, terbengkalai dan baru bisa ia kerjakan sekarang.

Beberapa pasang mata melirik ke arahnya. Biasa, tatapan laki-laki tua yang masih ingin menyandang julukan buaya darat. Laki-laki tua mata keranjang. Berdasi, tapi tidak beretika. Perempuan itu memang cantik meski rambutnya berpotongan ala laki-laki, hal itu malah semakin membuat laki-laki tertarik. Smart, bisik laki-laki tua yang duduk tak jauh darinya–hanya dipisahi beberapa set kursi & meja. Perempuan itu mendelik jutek ke arah om-om tua gendut di seberang mejanya, ia jengah ditatapi seperti itu; seperti melihat perempuan tanpa busana. Padahal, hari ini dia tidak mengenakan pakaian yang memancing berahi pria. Ia hanya mengenakan potongan dress selutut warna hitam, dan sepatu heels hitam yang sempurna terpasang di kaki jenjangnya. Perempuan itu juga tidak memiliki kulit putih, bersih, dan berkilau, yang membuat banyak laki-laki meneteskan air liurnya, malah kalau diperhatikan, kulit perempuan itu cenderung gelap. Eksotis, kata laki-laki yang juga memperhatikannya. Laki-laki tua yang berbeda, namun isi otaknya sama; payudara, bokong, dan selangkangan. Tidak jauh-jauh dari itu, pikir perempuan itu skeptis.

Umurnya sudah dibilang tidak muda lagi. Hampir menginjak kepala tiga, namun auranya belum hilang. Aura cantiknya masih sama seperti sepuluh tahun silam. Tak ada satupun kerutan di wajahnya. Maupun wajah dan tubuhnya masih sama-sama kencang dan kenyal. Ya, uang hasil jerih payahnya memegang satu perusahaan media, seringkali hanya dipakai untuk merawat tubuh dan kecantikan wajahnya. Bukan untuk keperluan rumah tangga, atau biaya sekolah anak-anak yang biasanya dihabiskan perempuan-perempuan seusianya di luar sana. Dia berbeda. Perempuan itu belum menikah, apalagi memiliki anak. Belum. Entah, dia terlalu menikmati kesendirian.

Pernikahan. Dia membenci kata itu. Dalam kamusnya, pernikahan ialah kata yang paling mengganggu di telinganya. Kedua, setelah kata laki-laki. Tidak, tidak, perempuan itu bukan lesbian, hanya saja cinta tak lagi dapat menyentuh hatinya yang tlah lama gigil oleh sepi kesendirian. Cinta baginya hanyalah kata-kata omong kosong manusia melankolis yang belum pernah merasakan bagaimana cinta bisa memporak-porandakan dua hati yang seharusnya bisa bersatu, tapi semesta berkehendak lain. Yang perempuan itu tahu, dewi cinta–entah siapa namanya–itu membenci dirinya, entah karena alasan apa. Ia tidak tahu. Selama duabelas tahun berlalu, dia belum kunjung mengetahui mengapa dewi cinta itu membencinya. Ia tidak tahu. Dan sekarang, ia masa bodoh.

Cibiran, gunjingan orang di sekitarnya, bahkan karyawannya sendiri, tak pernah lepas membayang-bayangi kepalanya. Telinganya tak pernah absen dari warna merah. Apalagi ucapan Mamanya yang pedas, wanita renta yang meminta seorang cucu. Sayangnya, mendapatkan cucu untuk mamanya harus melewati tahapan menikah dulu. Dan perempuan itu, benci pernikahan. Dan laki-laki, tentu saja.

Perempuan itu pernah jatuh cinta. Ya, perempuan itu juga manusia. Dan jatuh cinta ialah hal yang manusiawi, bukan?
Sekali. Hanya sekali perempan itu jatuh cinta. Dan ia kapok.

Namanya, Fairul.Perempuan itu bisa bebas memanggilnya, Fai. Fai. Laki-laki beragama islam yang taat beribadah. Laki-laki yang dari kecil menemani perempuan itu sampai pada suatu ketika; perempuan itu mendapati dirinya menatap Fai dengan perasaan yang lain. Aneh. Dadanya berdegup cepat sekali, perutnya mual, seperti ada serangga yang sedang berhinggapan di sana. Tubuhnya bergetar, dan rasanya selalu tak sabar ingin bertemu dengannya. Ah, Fai. Fai. Seharusnya, ia tidak memiliki perasaan seperti itu.

Saat ia sadar telah jatuh cinta pada laki-laki itu, tetangga sebelah rumahnya, Fai, ia masih duduk di bangku SMA. Rambutnya masih panjang sepinggang. Lurus, hitam, lembut, dan panjang. Ia malah tak suka jika rambutnya diikat. Ia begitu ke-perempuanan. Tidak ada tanda-tanda tomboy sama sekali. Cantik. Sangat cantik. Sampai cinta merenggut semuanya. Segalanya, termasuk rambut panjangnya.

Fai ketika itu ialah mahasiswa teknik ITB yang berpengaruh di angkatannya. Bagaimana perempuan itu tidak terpukau? Perempuan itu selalu terpukau pada Fai sejak hari itu. Hari dia jatuh cinta. Padahal, dia dan Fai sudah berteman sejak kecil. Oh, bodohnya aku. Ke mana saja aku selama ini?, bisik perempuan itu.
Bertahun-tahun berlalu, perempuan itu tahu, seharusnya ia tidak jatuh cinta pada Fai. Perempuan itu seharusnya tahu, semesta tidak akan pernah bisa menyatukannya dalam damai di bawah naungan Tuhan yang sama. Ya, seharusnya ia tahu. Dirinya dan Fai berbeda. Jauh. Seharusnya ia tidak jatuh cinta.

Meski, ia pernah mendengar Fai berbicara pada dirinya, dalam bisikan yang menyiratkan kesedihan;
“Alea, aku…menyayangimu. Aku tahu ini salah, tetapi….” ucapannya terputus. Perempuan itu menunggu kelanjutan kalimatnya. “Kau tahu? Kita berbeda.” Ya, aku tahu. Perempuan itu mendesah kecewa. Ingatan masa lalu itu membasahi lagi luka yang tlah lama mengering di dasar hatinya.

Bertahun kemudian, setelah hari itu, Fai menikah. Ya, Fai. Fairul yang perempuan itu begitu cintai. Fai yang perempuan itu tunggu. Laki-laki beruntung itu menikah dengan gadis berkerudung. Gadis yang pastinya lebih baik dariku, pikir perempuan itu. Gadis yang cocok untuk Fai. Fai. Fairul-ku, bisik perempuan itu.
Di hari pernikahan tetangga rumahnya, yang tak lain adalah Fairul, perempuan itu menghabiskan harinya di Gereja. Berdo’a. Sibuk tangannya tengadah, sambil bertanya-tanya dalam pejamnya. Dalam hati. Tuhan, mengapa ini semua Kaulakukan padaku? Mengapa aku tak bisa merengkuh cinta yang Kauberi? Mengapa? Mengapa? dan kata tanya mengapa, lainnya. Menangis. Perempuan itu hanya bisa menangis. Ia berharap, air matanya mampu menghapus Fai dalam hatinya. Meski ia tahu, ia bodoh dengan mengharapkan begitu. Fai tidak akan terhapus, pikirnya.

Baginya, cinta cuma hadir sekali seumur hidup. Dan cinta itu hanya milik Fai. Fai-lah cintanya. Cinta yang sekali seumur hidup.

Setelah Fai menikah, perempuan itu rela hidup dalam kesendirian. Ia yakin, Fai akan kembali. Ia yakin, ia dan Fai dapat bersatu nanti. Ya, nanti. Ia tak yakin kapan pastinya. Tapi perempuan itu yakin.

Alea seyakin itu.

Dan suatu hari, ia akan menikah. Ia menginginkan juga pernihakah. Dengan Fai. Ya, Fai. Fairul-nya.

-end-

Depok, 09 Februari 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s