Sayap Pelindungku

Masihkah kau menjadi sayap pelindungku?
Iya, kau.

Kau yang tidak pernah membaca suratku.

Sayap Pelindung. Aku ingat, kapan kali pertama aku menyematkan julukan itu padamu.
Ketika kali pertama tanganmu meraih tanganku. Aku ingat persis kapan itu terjadi. Sayap pelindung. Kau. Itu, kau.
Dengan tatap seolah malaikat, kau membantuku bangkit. Dari jatuh. Segala jatuh, kecuali jatuh cinta. Aku tak selamat dari jatuh cinta ketika dekap hangat jemarimu dan¬†jemariku bertemu. Aku jatuh cinta hati padamu. Hatiku tak ikut selamat dari ‘jatuh’ rupanya.
Kau ialah biang keladi hatiku jatuh. Jatuh tanpa kau tangkap.
Tapi untungnya, sebelum pecah, hancur lebur, aku menangkapnya sendiri.

Kau, masihkah kau menjadi sayap pelindungku?
Bahkan, setelah musim-musim, dan tanggal-tanggal berganti, aku masih belum urung mengganti julukan sayap pelindung yang sudah terlanjur tersemat padamu. Aku tak mampu mengganti sayap pelindung itu. Julukan itu cocok bersanding pada namamu. Dan sayap itu, serasi terpasang di belakang punggungmu yang kokoh.

Punggung yang kini hanya bisa kutatapi sedang menjauh.
Jauh. Jauh. Hilang.
Sampai tiada lagi jejak. Tiada lagi helai bulu sayap.

Masihkah kau menjadi sayap pelindungku?
Ah ya, masih.

Depok, 09 Februari 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s