Surat Untuk Damar, dari Emily

Hari ini hujan tak kunjung reda, Damar.
Kau di mana? Kuharap sedang tidak berada di luar ruangan, sebab nanti kau akan basah kuyup dan menggigil.
Tetaplah di dalam ruangan, dan jangan beranjak, Damar. Jangan hujan-hujanan. Nanti kau sakit.
Aku tidak mau kau sakit.

Damar, ini bulan Februari.
Damar? Ah, itu namamu yang sedang kusamarkan, kau tahu? Surat ini tetap untukmu. Tetaplah di dalam ruangan, Damar.
Iya, kembali ke bulan Februari. Bulan yang kata orang-orang adalah bulan penuh cinta. Buktinya, di linimasa-ku bertebaran tagar #30HariMenulisSuratCinta. Banyak sekali. Dan aku salah satu yang menulis surat cinta. Ha? Konyol ya, Damar? Iya, aku bisa sekonyol itu bila mencintai seseorang. Mencintaimu. Ah, itu kata-kata konyolku, Damar! Jangan dengarkan!

Cinta. Kau tahu apa artinya? Aku juga tidak. Lalu mengapa aku mengatakan kata itu? Ah, iseng saja. Kita pernah membahas tentang cinta, kau ingat? Cinta yang kataku bisa memenuhi rongga dada dengan kebahagiaan yang penuh. Kebahagiaan yang mampu membuat kita melupakan segalanya. Lalu, cinta katamu ialah hal yang sesakral pernikahan. Kau akan mencintai seseorang ketika orang itu sudah sah menjadi pasangan hidup sematimu-alias-istrimu. Ya, kau bilang begitu. Kalau begitu, cinta ialah perasaan yang bisa dikontrol oleh manusia, dong? Perasaan yang suka-suka saja kau ada dan tiadakan di hatimu. Begitu? Bukan?
Kalau begitu, enak betul. Aku mau bisa mengontrol hatiku sendiri. Aku ingin menghapus cinta yang ada di dadaku. Cinta yang tak semestinya ada. Tolong ajari aku bagaimana caranya, sebab kau tahu, aku tak pandai mengontrol hati. Aku hanya bisa menata wajah agar bagaimanapun tidak pernah terlihat sedih di matamu. Ya, di matamu aku berusaha tegar. Itu yang kau tidak tahu, Damar.

Pasca pergimu, aku kehilangan dongeng panjang yang mampu membuatku terpukau. Puisi Shakespeare saja barangkali kalah dengan puisimu. Ah, aku jadi teringat malam di saat kau membacakan puisi. Puisi yang sempat kupikir untukku. Hehe…hantam saja kepalaku, Damar, agar lupa segala kenangan manis itu. Kenangan manis yang kini pahit.
Kenangan kita bukan gulali, Damar, yang bisa manis sepanjang masa. Kenangan kita barangkali sayur asem. Enak dimakan saat sedang hangat-hangatnya, dan akan basi di kemudian hari. Ah, kampret memang.

Hari ini, seharusnya kita bertemu, entah di mana, atau mungkin seharusnya kita berpapasan. Sebentar saja, barang satu-dua- detik saja. Berpapasan muka denganmu dan…..siapa itu di sampingmu? Engh…bayangan itulah yang membuatku merantai kaki agar tidak ke mana-mana hari ini. Selain hujan yang turun semenjak malam kemarin.
Damar, adakalanya kita rindu seseorang, tapi tak lekas ingin segera berjumpa. Adakalanya aku begitu, Damar. Merindukanmu tapi tidak ingin bertemu. Ya, begitu.

Damar, hujan di luar tak kunjung reda,
tapi di kepalaku, ingatan tentangmu malah tak pernah reda.

Dari aku,
Emily, tentu bukan nama sebenarnya.

Depok, 09 Februari 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s