Laki-laki Perayu Itu

Laki-laki itu masih menyisakan senyum pada bibirnya padahal matanya tidak sedang terbuka.
Dalam pejam, laki-laki itu masih bisa tersenyum dengan amat manisnya.

‘Aku akan mencintaimu selama tubuhku mampu menopang berat badanku, kasih.’ katanya pada perempuan di sampingnya. Ia genggam tangan perempuan itu yang nyaris saja terjatuh. Perempuan itu tahu, lelaki yang sedang menggandeng tangannya ini ialah perayu ulung. Dan dia harus berhati-hati.

‘Hei, hei jangan pikir aku hanya merayumu. Aku sungguh-sungguh, kau tahu?’ seolah bisa membaca pikiran sang perempuan, lelaki itu berkata demikian, untuk meyakinkan.

‘Ya, ya, ya aku percaya.’ kata perempuan itu sambil berlalu. Lelaki itu mengejarnya. Perempuan itu terus saja berlari, mendekati pohon apel.

‘Kau mau apel, sayang? Mau?’ tanya lelaki itu. Perempuannya menatap lelaki itu sejenak, kemudian mengangguk.

‘Jangankan apel, bintang pun akan kuraih demi kamu.’ rayu lelakinya. Perempuan itu bergeming, tidak mau menanggapi omong kosongnya.

Laki-laki itu benar-benar memanjat pohon apel, dan mengambilnya satu untuk perempuannya. Perempuan itu tertegun, setahunya, laki-laki ini tidak bisa memanjat. Tapi, yang baru saja dilakukannya membuat mata perempuan itu terbuka, ia tak lagi memandang laki-laki yang sedang mengejarnya dengan sebelah mata. Kini ia memandang laki-laki itu dengan kedua matanya. Perempuan itu terpukau.

BUUURRRKK.

Laki-laki itu jatuh saat turun dengan satu tangan memegang apel. Perempuan itu kaget setengah mati, takut kalau lelaki itu kenapa-kenapa.

‘K-kau tidak apa-apa?’ Ia menyentuh punggung laki-laki itu. Mengusapnya lembut.

Tidak ada jawaban.

‘H-hei bangun. Tolong jangan mati dulu. Aku mau berterima kasih atas apel ini!’ perempuan itu panik. Ia menggoncang-goncang tubuh lelaki itu.

Tidak ada jawaban.

Perempuan itu menangis.

‘HAAA! Hei,hei jangan menangis.’ laki-laki itu tiba-tiba sudah duduk di samping perempuannya. Perempuan itu sedang menangis.

‘Kau ini! Tidak lucu tahu!’ perempuan itu mencubit lengan laki-lakinya.

Ah, itu kejadian empat puluh tahun lalu. Saat Robb mencoba mengambil hatiku. Ya, aku adalah perempuan yang dikejarnya dengan susah payah. empat puluh tahun yang lalu. Apa kau masih ingat Robb? Aku mengusap pipinya yang sudah kriput dimakan usia. Waktu begitu cepat berlalu, Robb.
Lelaki itu masih terpejam. Damai sekali. Bibirnya tersenyum.

‘Jangankan hanya apel, aku bisa mencintaimu selama mungkin. Ah, sampai aku berusia tujuh puluh tahun. Aku sanggup!’ Lelaki itu merayunya lagi.

Kau bohong Robb, usiamu kini baru enam puluh sembilan tahun, tapi sekarang kau pergi! Apa kau bisa mencintaiku satu tahun lagi saja? Bisikku lirih.
Beberapa orang menepuk pundakku. Lilly dan An, anak-anak kita.
Kemudian peti ditutup.

“Sudahlah Ma, iklaskan Papa.” ujar Lilly.

I will be loving you till we’re 70
And baby my heart could still fall as hard at 23
Lagu yang sering diputar An, mirip sekali dengan rayuanmu dulu, Robb.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Depok, 10 Feb 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s