Untuk Pengirim Surat

Hai pengirim surat, pemilik wp alisnyambung,–entah mengapa dinamakan demikian–kubalas surat itu di sini, ya.

Suratnya sudah kuterima. Tadi pagi sekali, ketika aku terbangun dari tidur, suratmu itu menyempil di kotak surat dalam rumah burungku alias twitter. Sesaat ketika tahu kau menulis surat itu untukku, buru-buru aku membacanya, dan….speechless! Entah mengapa, aku menitikkan air mata. Air mata haru!
Suratnya manis, aku suka. Dan hampir segala terkaanmu di sana benar. Ya, benar.

Omong-omong tentang putri hujan,–prinses regen, bahasa belanda–aku mendapatkan nama itu sebab aku tak begitu suka dipanggil matahari. Mantanku dulu menyebutku demikian, haha konyol, ya? Tapi setelah dia pergi, aku mengubah sebutan itu menjadi hujan. Ya, aku bukan lagi mataharinya, maka kujadikan saja diriku hujan. Menurutku, hujan ialah air mata matahari. Air mataku. Lagi pula aku lebih menyukai hujan daripada matahari. Hehe..jadi curhat.
Lalu mengenai tulisanku, ah iya, kau benar, aku ceroboh dalam menyaring kata-kata itu. Memilah kata untuk bersembunyi. Kata-kataku dan aku rupanya tak pandai dalam hal menyembunyikan. Selama menulis, kubiarkan saja kata-kataku menjadi celotehan bocah kecil yang kelewat cerewet. Dan kau pasti tahu, yang namanya anak kecil pasti tidak pandai membual, kan? Ya, biar saja begitu. Biar dia tahu.

Hmmm…perihal masa lalu. Kadang kala, orang menganggap luka seharusnya dilupakan saja, diambil saja hikmahnya, lalu membuangnya. Tapi aku tidak bisa. Belum. Aku masih asik saja menikmati luka. Menganggap luka ialah cokelat hangat yang patut dinikmati ketika hujan menderas di luar. Menikmati luka sama halnya seperti menikmati hujan; tidak semua orang mau melakukannya. Tapi aku mau. Begitulah.
Pernahkah kau merasa gila? Dalam konteks ini, gila dalam menghadapi layar monitor, papan digital, dan menumpahkan segala emosi di sana. Tanpa menyaringnya, tanpa peduli apa-apa, dan siapa-siapa. Meluapkan segala perasaan di sana, mengemas dengan surat atau puisi. Penyebabnya hanya satu; kau sudah tidak bisa lagi menyapanya secara langsung. Menyatakannya secara langsung. Dan itulah yang menyebabkan mengapa tulisan-tulisanku mampu mencerminkan aku, dan segala luka-luka itu.

Ah, terima kasih atas suratnya.
Aku suka sekali. Kuanggap sebagai kado valentine, hehe.

Oh iya, tentang perempuan hujan, semoga lekas menemukan.
Kalau kata penyanyi bersuara nge-bass yang sering digandrungi para perempuan itu, jodoh pasti bertemu.
Ya, pasti.

Salam.
Barya Wresthi Kahwa.

Depok, 14 Februari 2015

Iklan

8 Comments

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s