Everyday Is Like Sunday

Hari ini aku bingung ingin menulis surat berjudul apa. Aku bingung.
Aku memang masih ingin menuliskanmu sebuah surat cinta dalam rangka perayaan bulan cinta bernama Februari ini. Tapi, entahlah. Aku merasa…..semakin….jauh saja. Jauh sekali. Belasan surat, dan puluhan puisi tetap saja tidak bisa mengembalikan jarak itu. Jarak yang tlah terlanjur panjang.

Omong-omong, ini hari Minggu. Jadwal kau libur dari rutinitas pekerjaan. Biasanya, kau lebih memilih tidur dan bangun lebih siang, lalu menonton film-film secara maraton, dengan kopi atau susu.
Dulu. Dulu sekali, waktu semua masih berjalan normal, saat dunia masih berputar pada porosnya, saya masih berada di tengah-tengah roda, hampir melambung naik, dan belum terinjak di bawah seperti sekarang, kau pernah mengajakku lari pagi–ajakan yang selalu aku tolak dengan alasan yang sama; minggu pagi aku mana boleh ke mana-mana? Ya, memang benar demikian. Hal itu seringkali membuatku mengeluh, aku kan sudah dewasa, tapi kebebasan rasanya masih jauh sekali untuk kugenggam dengan dua tangan. Ah, kau tahu? Aku menyesal tidak pernah menghabiskan Minggu pagi bersamamu.

Bagaimana Minggu pagimu?
Itu hanya pertanyaan basa-basi. Kau masih ingat? aku ialah stalker, yang menguntit apa saja tentangmu, selalu mencari tahu apa pun. Ya, kau juga demikian kan? Kalau kita berdua sama-sama tidak saling mencari tahu, mana mungkin aku duduk di jok belakang motormu waktu itu.
Dan dari pertanyaan di atas, aku rasa aku tahu jawabannya. Jadi, pertanyaan barusan, anggap saja basa-basi.

Oh iya, kau mau tahu tidak, bagaimana Minggu pagiku?
Tidak mau tahu juga tidak apa-apa. Aku tetap memberitahukan itu di surat ini.

Everyday Is Like Sunday. Itu lagu Morrissey.
Bagiku, Minggu pagi selalu sama dengan hari-hari lainnya. Sama dengan hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, juga Sabtu. Mereka semua berwarna abu-abu. Sama dengan warna langit bulan Desember, Januari, Februari, dan sampai entah bulan apa. Warna musim hujan.
Mana mungkin hariku bisa berwarna lain, apabila bocah yang seringkali mewarnai hariku itu sudah mewarnai buku gambar yang lain? Bocah itu sudah tak lagi mewarnaiku, kau tahu? Bocah itu sibuk mewarnai hari perempuan lain. Bocah itu kau. Dan perempuan lain itu bukan aku.

Everyday is like sunday
Everyday is silent and grey

Ini Minggu pagi yang biasa. Sama seperti hari-hari lainnya. Setiap hari rasanya seperti hari Minggu.
Hari Minggu yang sepi, senyap, dan abu-abu.
Hari Minggu yang biasa saja; sama seperti hari lain,
Setiap hari pun sama saja seperti hari Minggu;
sama-sama tak pernah libur merindukanmu.
Tak pernah libur mengharapkan jarak melenyap di antara kita.
Tak pernah libur dari segala hal tentangmu.

So, Everyday is like sunday, I still miss you, and wishing you were here.

Depok, 15 Februari 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s