Aku Akan Menunggumu, Nilam

Sejak berbulan-bulan lalu, senyum Nilam belum kembali ke tempat asalnya. Entahlah, kupikir masih dibawa Raihan, mantan kekasihnya yang tak bisa dilupakan, katanya.

“Bagaimana bisa aku melupakan Raihan, bila seluruh kota ini pernah menjadi tempat kenangan kita. Aku pernah sangat mencintai seseorang, Tyo, sungguh kuharap kamu bisa mengerti.” katamu saat aku sudah berusaha mengumpulkan keberanian-keberanian untuk menyatakan cinta. Kau menolakku. Ah Nilam, jangan tanya bagaimana rasanya, pedih Nilam. Sungguh. Tapi aku tahu, lukamu pada Raihan, jauh lebih pedih.

“Aku mengerti.” aku mengangguk. Aku masih mengulurkan mawar itu kepadamu, sedangkan kau masih menunjukan sikap dingin, tanpa senyum manis atau ucapan terima kasih.

“Ambil saja lagi bunganya, aku merasa tidak pantas menerimanya.” katamu ketus.

“Bunga ini memang untukmu, sekalipun kau menolak.” ujarku sambil tersenyum.

Ragu, tanganmu meraih mawar dari tanganku. Sikapmu yang dingin perlahan mencair dengan jeda yang panjang. Tenang Nilam, aku sudah mengenalmu. Mengenal ramai, dan diammu. Aku sudah paham.

“Terima kasih, Tyo. Ma..maaf aku harus menolakmu. A..aku masih…” katamu terbata-bata. Aku paham walaupun kalimat-kalimat itu tak pernah kaujelaskan lebih lanjut.

“Aku paham, Nilam.” aku tersenyum. Nilam ikut mengembangkan senyum walau kutahu senyum itu bukanlah senyum Nilam yang dulu. Bekas-bekas luka itu masih sangat kentara di bibirnya yang merah muda tanpa pemoles bibir.

“Tapi sampai kapan kau tenggelam dalam masa lalu, Nilam? Hidup terlalu singkat untuk tidak bergerak ke depan.” kataku. Bersamaan dengan itu, senyum Nilam tenggelam.

“Aku tahu, Tyo. Aku..hanya…belum bisa..” katamu dengan wajah yang menyimpan kesedihan di sana.

Aku tersenyum. Padahal dalam hati, aku terluka. Tapi kau tidak perlu meragukan ketangguhanku sebagai lelaki, pedih ini tidak seberapa dibanding pedihmu akibat lelaki sialan itu. Kalau aku jadi dia, Nilam, sungguh takkan kusia-siakan engkau demi perempuan lain yang belum tentu seindah dirimu.

“Aku akan menunggumu.” kataku. Bukan. Ini bukan gombal. Aku serius. Aku akan menunggumu, menerbitkan senyum Nilam kembali.

“Kau yakin?” tanyamu meminta kesungguhan.

“Yap.” aku mengangguk mantap. Kau tersenyum, kemudian jeda kembali mengisi.

“Kau percaya aku bisa melupakan Raihan?” tanyamu tiba-tiba, suaramu pelan. Aku bisa mendengar lagi kesedihan itu lewat tuturmu.

Aku diam. Jeda lagi. Kemudian terlintas melodi dalam kepalaku. Aku mengulum senyum, dia mengernyit heran.

“Takkan pernah berhenti agar selalu percaya walau harus menunggu seribu tahun lamanya. Biarkanlah terjadi, wajar apa adanya walau harus menunggu seribu tahun lamanya..” aku menyanyikan lagu Tulus itu padanya. Nilam kembali tersenyum. Kali ini, senyumnya terkembang tanpa kesedihan. Ya, aku melihatnya.

“Gombal.” katamu.

“Tidak.” aku menggeleng kuat-kuat.

“Nilam, aku akan menunggumu. Meski itu memakan waktu seribu tahun.” aku menggenggam tangannya. Dan kali ini, bukan hanya senyum tanpa kesedihan yang kulihat. Kini, aku melihat, semburat senja muncul di pipinya.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s