Janjimu. Ingat?

“Aku janji, suatu hari nanti aku bisa mengajakmu keliling toko buku di Eropa. Kau sangat penasaran bukan dengan Shakespeare and co?” ujarmu dengan senyum yang terkembang manis, dan memikat seperti biasa.

“Kau janji?”

I swear, baby!” kau tertawa sambil mengacungkan dua jari ke udara. Kau tahu? Ketika kau berujar begitu, langit sedang menulis janjimu, sayang. Aku tersenyum mananggapi. Hanya itu. Sebab janji pernah membuatku terluka sedemikian rupa. Kau sudah tahu itu.

“Jangan membuat janji yang kautidaktahu bisa terpenuhi atau tidak, Drew.” kataku. Kau hanya terdiam kemudian menarik napas panjang dan mengembalikannya lagi ke udara di depannya.

“Fal, aku mencintaimu. Itu sebabnya aku menjanjikanmu apa saja. Lagian aku tahu, kau kan penggemar berat toko buku.” katanya seraya tertawa. Aku hanya mencoba mengulum senyum.

“Fal, tenang saja, aku kan tidak menjanjikanmu laut beserta isi-isinya..” lanjutmu masih dengan tawa yang renyah. Aku menyebutnya, biskuit tawa. Kau merangkul tubuhku, menenggelamkan aku dalam pelukan-pelukan yang sedalam laut, lalu diikuti ciuman-ciuman singkat yang sudah kulupa berapa jumlahnya.

“Kalau kau tidak menepatinya, aku harus apa, Drew?” tanyaku demikian. Entahlah, kurasa untuk kalimat tanya yang ini, aku bisa menyalahkan diriku sendiri.

“Kalau aku tidak menepatinya? Berjanjilah untuk melupakan aku.” katamu.

“Kau yakin?”

“Aku tidak pernah seyakin ini, Fal.” kau tersenyum. Senja itu, kau berhasil membuat rasa percayaku hidup kembali.

Itu ialah senja terakhir kita. Senja di mana kau dengan pongah meniupkan janji ke langit merah di pinggir pantai. Ya, saat itu kau pergi, naik kapal laut, dan tak pernah kembali lagi. Ya, tidak kembali lagi. Tidak ada toko buku yang bisa kujelajahi bersamamu. Tidak ada Shakespeare and co untukku. Tidak ada.

Angin terus berembus dari arah barat menuju dadaku yang kian lama kian remuk menunggumu kembali pulang. Tapi laut tak kunjung membawamu kembali. Kau seolah lenyap ditelan putaran raksasa di tengah samudera luas.

Waktu terus berlarian, dan kini aku tahu kau di mana. Setelah percakapan itu,

“Hallo..” suaramu. Suara berat itu masih sama menenangkannya.

“Andrew? Aku senang bisa mendengar suaramu lagi! Aku dapat nomor ini dari teman lamamu, Ferdinan. Apa kabarmu? Kapan pulang?” kataku tak sabar.

“Fallen? I….Itu kau?” suaramu gemetar.

“Iya ini aku, Andrew!” kataku bersemangat. Namun tak ada suara apa-apa di sana selain,

“Sayang? Masih lama terima telfonnya?” suara perempuan Drew. Aku mendengarnya dengan jelas.

“Fallen. Aku…..”

“Ada apa Drew? I…itu siapa?”

“Itu…istri…istriku,” ujarmu gemetar.

TUUTTT…

Telepon kuputus begitu saja.
Ah, seandainya aku tahu, seandainya aku tidak dungu untuk percaya janji-janji lagi. Untuk jatuh di lubang yang sama.
Ah, bodoh! Aku merutuki diri.
Bila kau tidak menepati janjimu, maka aku yang akan menepati janjiku, Andrew. Kau masih ingat janjiku?
Ya, melupakanmu.
Tapi sepertinya, aku sama denganmu.
Aku, tidak akan menepatinya.

You’ve made me realize my deepest fear
by lying and tearing us up

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s