Pagi Selalu Mengingatkanku Padanya

Musim hujan. Kedatangan pagi kerap diabaikan para penjaga mimpi sebab tiada terang matahari yang menyilaukan pejam mereka, melemparnya dari mimpi ke dunia nyata. Berbeda denganku, aku selalu awas dengan kedatangan pagi, dengan atau tanpa matahari pun, burung-burung yang tinggal pada dahan-dahan pohon belimbing depan rumahku, selalu saja bercicit riang. Bernyanyi merdu, seolah batang-batang pohon dan dedaunan yang basah oleh hujan, dan embun memiliki dua telinga untuk mendengar suara mereka. Burung-burung itulah alarm pagiku. Alarm yang dipasang di pukul yang sama, alarm dari semesta.

Pagi selalu mengingatkanku padanya, kataku. Ya, selalu. Lihat, kini tubuhnya rebah di sampingku, masih terjaga dalam ranumnya mimpi. Pejamnya yang tenang ialah embun yang menggantung pada daun-daun, tak dapat kuterka kapan embun itu jatuh, kapan sepasang matanya terbuka untuk melihatku hadir senyata-nyatanya di depan wajahnya. Wajah, tubuh, seluruh raga yang selalu kudoakan.
Aku jatuh cinta padanya jauh sebelum hari ini. Sebelum tubuhku dan tubuhnya akhirnya bersisian di ranjang yang sama. Jauh sebelum janji suci mengikat kami beberapa bulan lalu, dan mengekalkan cinta kita. Karena ia selalu mengingatkanku pada pagi; semangat pagi, sinar kuning matahari yang hangat, rintik hujan pagi yang romantis, embun, dan burung-burung.

Namun berjauh-jauh hari sebelum aku jatuh cinta dengannya, aku lebih dulu jatuh cinta pada burung-burung yang bertengger pada dahan-dahan pohon belimbing. Celotehannya yang riang serta merdu selalu mendamaikan pagiku, meriuhkan pagiku dengan suara-suara mereka yang menenangkan. Bukan hanya karena itu, burung-burung itu seperti doa, ia bisa terbang ke manapun, ke langit, seperti menyampaikan doa orang-orang di pagi hari. Tubuhnya yang kecil terbang ke sana-sini bagai kurir doa dari tengadah tangan manusia kepada langit, kepada Tuhan. Dari kesemuanya, yang paling membuatku jatuh cinta kepada burung-burung ialah keromantisan dan kesetiaan cinta sepasang burung merpati. Sebab sejauh apapun merpati terbang, aku tahu ia pasti akan kembali. Namun apabila merpati itu tidak pernah kembali, ia bukan ingkar atau tidak setia, tapi ia mati di tengah jalan. Dan yang mati juga pasti akan kembali, ke muasalnya.

Kataku, laki-laki yang sedang tertidur di sampingku ini selalu mengingatkanku pada pagi. Semangatnya yang selalu baru seperti kala pagi datang, kehangatan pribadinya yang mampu mencairkan sifat dinginku, keromantisannya yang selalu membuatku luluh, dan yang paling membuatku mengingatnya sebagai pagi ialah burung-burung.
Sebab di dalam kepalanya, tinggal seekor burung, dan burung membuatku jatuh cinta. Aku mencintai apa yang ada dalam kepalanya. Semesta pikirnya. Dan dari sana aku tahu, aku mencintai segalanya. Bukan hanya kepalanya. Tapi segalanya. Seluruhnya. Aku mencintainya.

If I love
his heart and mind,
then I would love him
for all that he is

-All or Nothing from Love & Misadventure by Lang Leav-

Depok, 18 Februari 2015
#RabuMenulis

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s