Huruf-huruf Untuk Tuhan Baca

Sebenarnya, ‘kau’ di sini bukanlah kepadaTuhan. Melainkan memang untukmu. Iya, kau.
Ini sebabnya, judul surat ini juga bukan Surat Untuk Tuhan macam judul film itu. Bukan.
Hanya saja, surat-surat ini perlu dibaca Tuhan. Huruf-huruf yang kutulis di sini, untuk Tuhan baca, sebab ini berisi doa. Untukmu. Bahagiamu.

Baiklah, aku tidak perlu mengulang lagi, memperkenalkan aku ialah siapa dan kau ialah siapa untukku. Kau mungkin sudah bosan membaca aksara-aksaraku yang menulisimu setiap harinya, atau mungkin kau tidak peduli sampai rasanya tidak perlu membaca surat-suratku. Ini memang menyedihkan, di lain sisi. Tetapi buatku, ini cukup melegakan dan menyenangkan sebab rasanya seperti berbicara kepadamu secara langsung, tanpa perantara apa pun, dan tanpa kendala apapun. Menulis bagiku bukan hanya pengusir kesedihan, melainkan pengusir rindu yang kian hari kian menumpuk menyesaki rongga batin. Kau tahu? Ah, kau pasti tahu, aku tidak bisa apa-apa lagi selain menulis surat untukmu. Berbicara lewat aksara yang kuketik untukmu seolah-olah aku sedang berbicara sekaligus bertatap mata langsung denganmu. Aku tahu, aku dungu, tapi biarkanlah aku dungu untuk hal semacam ini lebih lama lagi karena ternyata dungu dalam mencintaimu tidak seburuk menjadi dungu pada pelajaran hitung-hitungan.

yang ingin kusampaikan di sini pendek saja, aku ingin kau tahu, dan huruf-huruf ini untuk Tuhan baca,
aku ingin kau bahagia, tersenyum, dan tertawa konyol dengan-atau-bukan-karena ulahku. Aku ingin kau bahagia sebab menjadi kau, tidak perlu jadi siapa-siapa untuk membuat dirimu dan orang lain bahagia.
Di surat ini, aku sekaligus menitipkan kebahagiaanku, sebab bahagiaku cukup sederhana; melihatmu bahagia, dan mencapai mimpimu lekas-lekas walau bukan aku yang memeluk tubuhmu dari belakang ketika engkau sibuk bersepeda mengayuh mimpi. Biar doa saja yang kutitipi lewat langit menuju Tuhan agar kau kuat mengayuh sepeda dan lekas sampai menuju mimpimu.

Huruf-huruf ini untuk kau baca, untuk Tuhan baca,
semoga dengan entah bagaimana, surat ini bisa sampai ke tanganmu. Sebab aku tahu, surat ini pasti sampai ke tangan Tuhan bahkan Ia sudah membaca tiap kata surat ini saat aku masih sibuk mengetik-hapus-dan ketik ulang. Pasti. Kau bilang, Tuhan Mah Tahu Segalanya, kan? Dan aku percaya.

Demikian saja ya isi suratku ini. Berbahagialah selalu, dengan siapa pun itu. Biar saja aku di sini menjadi penyaksi bahagiamu, sebab aku bukan hanya menyaksikan sambil mengiris-iris bawang, tetapi aku menikmatinya seolah sedang menikmati hidangan yang disajikan Tuhan untuk hidupku.
Kau pernah mengajariku bersyukur, ikhlas dalam hal melepaskan, dan beginilah caraku mengamalkan nilai hidup yang pernah kauajarkan.

Terima kasih.

Depok, 19 Februari 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s