Berceritalah

Suatu pagi telingaku merindu
Pada suara yang sering bercerita di masa dahulu
Barangkali karena suaranya yang bak cericit burung gereja
Atau karena cerita-cerita yang menggugah selera

Dia bukan bercerita bagaimana sebuah makanan terhidang di atas meja makan
Bukan pula bercerita tentang pulau yang dipenuhi bidadari setengah telanjang
Dia bercerita kehidupan yang beragam macamnya
Caranya berbicara ialah cara sebuah laut menenggelamkan kapal

Aku ialah kapal yang karam
Tenggelam sampai dasar
Tanpa mau kembali ke daratan
Tanpa mau kembali bernapas

Biar kuceritakan bagaimana ia berdongeng
Tentang waktu-waktu yang perna ia lalui, datang dan pergi, pergi dan datang
Tentang binar matanya yang sinar matahari tengah hari bolong pun kalah api;
Semangatnya yang menceritakan sebuah harapan-harapan mulia

Ketika bibirnya terbuka satu kali,
Aku masih berlayar pada laut yang tenang
Ketika bibirnya terbuka lima kali,
Aku mulai terseret ombak-ombak yang mendengkur panjang

Ketika bibirnya terbuka sebelas kali,
Lautnya sedang melahap kapalku sampai dasar, tenggelam karam tanpa mau kembali
Ketika bibirnya tertutup, tanda cerita telah usai
Kapal dan aku, kembali bernapas

Lalu di mana-mana udara
Lalu di mana-man angin
Lalu sudah terdampar di daratan

Ah, rupanya kau sudah selesai bercerita
Ah, tenggelamkan aku lagi
Aku rindu tenggelam
Berceritalah…

Depok, 22 Februari 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s