Surat Untuk Kopi

Surat ini kutulis kepada kopi; buah kopi dalam genggaman petani kopi, biji-biji kopi dalam toples kaca, biji-biji kopi yang tlah disangrai hingga baunya membuai indera penciuman siapa saja yang menghidu, bubuk kopi di mesin grinder, cairan kental dalam mug kopi, dan yang sudah tercerna dalam lambung. Surat ini untukmu, kopi.

Ya, kau boleh tertawa ketika membaca surat ini. Kopi mana bisa baca? lol.
Kopi itu memiliki nyawa, kau tahu? Senyawa kopi itu dinamakan antioksidan, dan itu berguna membantu tubuh dalam menangkal efek pengrusakan oleh senyawa radikal bebas, seperti kanker, diabetes, dan penurunan respon imun. Yang barusan itu dari wikipedia. Oh ya, selain itu, kopi juga memiliki beberapa nyawa lagi yakni; polifenol, flavonoid, proantosianidin, kumarin, asam klorogenat, dan tokoferol. Yang tadi juga dari wikipedia kok.
Oke, selesai intermezzo-nya.

Kopi yang kita sudah sama-sama tahu; ia memiliki aroma. Aroma pahit tapi tidak kecut, manis tapi tidak membuat mual, asam tapi bukan asam ketiak. Ya, aroma kopi bagiku memiliki magnet yang kuat bagi siapa saja yang menyukai kopi. Aku tidak bisa dibilang pecinta kopi ulung sih, karena minum kopi hitam tanpa gula saja aku ‘mbuh-lah daripada penyakit magh-ku harus kambuh, lebih baik menkonsumsi sanak saudaranya kopi macam moka, kapucino, atau istrinya kopi; kopi susu. Aku lebih suka yang begitu; perpaduan pahit-manisnya mengingatkan aku akan kehidupan di dunia yang fana ini. Atau kalau boleh melankolis sedikit, pahit-manisnya kadang lebih mirip kisah percintaan. Manisnya mirip manis ketika sedang jatuh cinta; hanya sementara di lidah. Lalu pahitnya selalu mengingatkan pada rindu-rindu yang tak pernah terbalaskan. Pahit kan? Hehe..

Seperti yang sudah-sudah, kopi identik dengan kesedihan, dan kesepian hidup seseorang. Semoga kopi tidak keberatan diidentikan dengan neraka dunia; sedih, sepi. Tapi kopi bukanlah neraka, melainkan minuman dari surga yang diberikan juga pada orang-orang yang sedang dalam neraka dunia; sedang sedih, sedang sepi. Entahlah bila di neraka sungguhan, ada kah kopi itu? Dan entahlah apa di neraka kita merasa sedih, dan sepi?

—skip.

Surat ini kutulis untuk kopi. Untuk berterima kasih saja kepada para petani kopi yang kini sedang memetik buah-buah kopi dan mengambil biji-biji terbaiknya. Terima kasih, sebab kopi-kopi yang kalian rawat, kalian hibah ke tangan-tangan peracik kopi, telah menemaniku menulis selama ini. Bukan hanya menemaniku menulis, melainkan menemaniku hidup selama beberapa tahun belakangan. Kopi-kopi itu juga telah membuatku mengerti dari tiap sesapannya; tentang pahit manis, tentang hidup, tentang cinta, dan rindu-rindu yang tak pernah terbalaskan.

Kepada kopi, kau akan selalu menjadi pengingat yang baik tentang pahit-manis hidup kapanpun saat aku menyesap tubuhmu ke dalam tenggorokan.

Depok, 22 Februari 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s