Pistol

Dyaaarrr! Dyaaarrr!
Barisan aksara itu menembaki kepala
Dengan tubuh tegap seperti tentara
Mereka lihai menembaki peluru-peluru ke arah yang diincar

Aku tidak menghindar
Apalagi menyerang balik
Tubuhku hanya kaku di tempat
Seperti manusia yang diperdungu rasa takut

Dyaaarrr! Dyaaarrr!
Kubiarkan aksara berseragam tentara
Meleburkan kepalaku dengan peluru-peluru
Berisi tubuhnya sendiri

Aku masih tidak menghindar
Apalagi menyerang balik
Kubiarkan kepalaku lumat oleh luka
Oleh darah yang mengucur dari sana serupa hujan

Dyaaarrr! Dyaaarrr!
Kunikmati tiap bunyi ledakan itu
Bergemuruh gaungannya pada telingaku
Serupa suara dewi-dewi yang suaranya merdu

Aku tidak akan menghindar
Sebab jitu peluru menghabisi kepalaku dengan aksara
Darah-darah yang mengalir dibuat air minum oleh para perindu
Yang haus akan sebuah temu dan angan semu

Ah, mereka mungkin seperti aku
Yang kepalanya sudah lebur oleh peluru
Dari para aksara-aksara berpakaian tentara
Lalu yang membuat mereka, juga aku, rela ditembak hancur
Ialah pistol pada tangan-tangan tentara

Tak perlu lagi aku bertanya pistol apa yang dipegang tentara
Sebab aku, juga mereka, sudah tahu jawabannya
Itulah alasan mengapa kami, para perindu, tidak gentar menghadapi peluru-peluru
Tidak takut akan darah yang mengucur deras dari kening

Pistol itu bernama rindu
Peluru-pelurunya membuat candu
Ah, mana mungkin aku kabur
Dari tiap ledakan yang buat kepalaku lebur

rindu itu pistol yang siap meledakkan kepalaku.
sekarang.

– @chikopicinoo

Depok, 24 Februari 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s