Pekuburan Hati

Sore yang basah oleh hujan itu, kau tak datang. Aku ialah satu-satuya yang sibuk memegangi payung hitam dan membetulkan letak tudungku yang berwarna senada. Angin berembus-embus mendramatisir kota yang sedang dalam suasana kabung. Tidak ada siapa-siapa lagi di sana kecuali aku. Batu abu-abu itu berdiri tegas, seolah ksatria yang berhasil melumpuhkan prajurit yang jatuh. Pada batu itu, kueja nama yang terukir di sana; Hati. R.I.P  H-a-t-i.

Aku masih terdiam di atas gundukan tanah yang di dalamnya tertanam jasad bernama Hati. Ya, Hatiku. Dia sudah lama sekali sekarat, dan kematian adalah hal yang selalu ditunggunya. Dia bosan hidup penuh luka. Dia bosan hidup untuk kembali terjatuh. Dia bosan merapuh dan menjadi dungu karena cinta. Dia bosan hidup hanya untuk jatuh cinta lalu jatuh luka. Ah, dia memang terlalu melankolis. Temannya, Otak, bukannya turut berkabung, malah kesenangan karena dengan kematian Hati, ia bisa menang dan tak perlu susah-susah berdebat dengannya. Hati memang keras kepala bila berdebat dengan otak, tapi ketololannya membuat argumen yang ia rangkai menjadi tidak masuk akal dan sulit dicerna logika. Ia begitu mempercayai keajaiban dan juga dongeng. Hal-hal yang kita tahu hanyalah bualan dunia belaka yang dibuat oleh Hati-Hati para penulis kisah yang sama melankolisnya dengannya. Apa itu keajaiban? Ya, kali ini aku lebih sepakat dengan Otak.

Senja sepeninggal matahari, aku pergi meninggalkan padang yang luas oleh rerumputan. Padang Kematian, namanya. Di sana tempat penguburan Hati, perasaan, cinta, rindu, dan bahkan ada yang menguburkan otaknya. Beberapa memilih menguburkan otaknya karena lebih mempercayai kedunguan Hati yang kupikir malah akan menyusahkan hidupnya. Bagaimana tidak? Memangnya enak hidup terus-terusan mengikuti keinginan hati? Jatuh cinta, terluka, galau, jatuh cinta lagi. Ah, menyusahkan sekali.
Tapi,  yang kudengar-dengar dari kuncen di tempat ini, orang yang sempat menguburkan otaknya adalah orang yang paling bahagia. Ah, masa iya? Memangnya enak hidup tanpa otak? Hidup dengan kedunguan asal punya hati?
Ah, masa bodoh lah. Urusan orang lain, aku tidak perlu ikut campur. Memang apa untungnya untukku? Menghasilkan ilmu saja tidak, uang apalagi. Kita tidak bisa menyambung hidup dengan kepedulian terhadap manusia lain, kan? Jadi biarkan saja. Mau mengubur hatinya kek, otaknya kek, masa bodoh.

Malam itu aku berjalan pulang menyusuri rute perjalanan sampai di rumah. Tanpa tersenyum, tanpa apa-apa. Rasanya hampa. Seperti berjalan tanpa nyawa.
Aku berjalan melewati rel kereta api yang di pinggirnya dipenuhi rumah-rumah dari seng, kayu, atau kerdus bekas. Beberapa anak kecil bermain-main, menyapaku. Ibu-ibu tersenyum padaku sambil mengangguk. Bapak-bapak di sana juga menyapa dengan ramah. Tidak ada satu pun yang kugubris. Hanya ada pemikiran, “Buat apa bikin rumah di pinggir rel? Memangnya tidak bising ketika kereta lewat? Apa itu tidak mengganggu jalur kereta?” aku hanya membalas mereka dengan tatapan sinis sekaligus muak. “Kalau begini, julukan Negeri kumuh memang layak disandang.” aku kembali mencemooh sepanjang jalan. Memaki sampai tak kulihat lagi rel-rel kereta api.
Tetapi anehnya, aku masih bisa melihat mereka tersenyum ramah di balik kesusahan mereka. Masih repot-repot mau menyapaku walaupun kubalas dengan tatapan sinis itu.

Aku menyusuri jalan setapak. Tak kurasakan lagi embusan angin yang menyejukkan jiwa. Tak kurasakan lagi wangi hujan mendamaikan sanubari. Tak kurasakan lagi ketenangan lewat sunyi. Tak dapat lagi kurenungi perjalanan seprti dulu kala. Seperti saat Hatiku masih hidup. Kupikir, saat-saat ini aku begitu membenci diriku sendiri yang sibuk memaki, dan mengeluh sepanjang jalan. Melogikakan hal yang tak perlu dilogikan. Dan melogikakan hal yang harusnya cukup dirasakan. Aku seperti kehilangan….nurani.
Kini, kekosongan itu begitu nyata. Begitu nganga. Betapa hampa hidup hanya dengan otak tanpa hati. Betapa hinanya ketika menjalani hidup hanya dengan otak sebagai tumpuan. Betapa mata kini hanya dipenuhi amarah, muak, dan ketidaksukaan karena suatu hal yang alasannya cukup dengan kata ‘itu merugikan, itu membuat tidak sedap dipandang, itu membuat kotor’ dan sebagainya. Tanpa pernah merasakan apa yang orang lain rasa. Bagaimana merasakan apa yang orang lain rasa, aku saja kini tak bisa merasakan apa yang seharusnya aku rasakan. Ah, rumit. Kini kepalaku pening. Otakku mulai lelah bekerja sendirian.

Dalam perjalanan itu, tak lagi kutemui rasa iba pada sekeluarga yang tinggal di dalam gerobak itu saat tak sengaja melewatinya.

“Pulang, neng.” sapa Ibu itu ramah yang sedang duduk di samping gerobak. Anak kecil di sampingnya ikut tersenyum. Aku hanya menoleh tanpa berkata apa-apa. Aku ingin tersenyum, asal kau tahu saja, tapi rasanya bibir ini kaku. Aku tidak dapat lagi tersenyum. Setelah kehilangan hati, aku kehilangan nurani, lalu empati, lalu….senyumku. Astaga..gawat!

“Nay, sudah pulang?” sesampai di rumah, Mama menyapaku. Aku hanya memberi anggukan sebagai jawaban.

“Habis dari mana?” Mama betanya lagi. Hah, kali ini aku harus menjawabnya pakai suara.

“Pemakaman.” jawabku singkat.

“Lho, siapa yang mati?” tanyanya lagi. Ugh, aku lelah, andai dia tahu!

“Hati.” aku menjawabnya singkat lagi tanpa menoleh ke arahnya.

“Biar Mama tebak, hatimu yang mati?” kini nadanya menjengkelkan. Aku mengangguk saja otakku sudah lelah mengajaknya berdebat.

“Pantas…” perempuan itu kini menghapiriku dengan langkah gemulai. Lalu tangannya mengusapi ubun-ubunku. Aku menepisnya. Aneh sekali rasanya, tak seperti biasanya. Rasanya asing. Tak ada lagi hangat yang menjalari dadaku.

“Nak, manusia tidak bisa hidup hanya dengan otak.” katanya lembut. Matanya menatapku sedih.

“Manusia butuh hati meski berkali-kali disakiti. Manusia butuh otak meski sering dikatai dungu, atau dibilang tidak punya otak.” perempuan itu kembali mencerocos. Namun cerucusannya dapat mengendap di kepalaku. Menjadi renungan.

“Mereka seperti sejoli yang terlihat saling membenci padahal mencintai. Hati dan Otak, tidak bisa dipisahkan. Hmm..jadi mengapa kamu mengubur hatimu, Nay?”

“Otakku lelah. Dan aku sepaham dengannya.” jawabku seadanya. Perempuan itu malah tersenyum. Senyum yang tak dapat kubalas.

“Sekarang, apa otakmu tidak lelah bekerja sendirian?” aku mengedikkan bahu. Tidak tahu.

“Tidak tahu. Aku lelah, Ma. Aku mau tidur.” kataku sambil memutar gagang pintu kamar.

“Baiklah.” kini perempuan itu membiarkanku tenggelam dalam kamar.

Aku sudah lelah. Otakku sudah lelah. Tak mampu diajak berpikir jernih. Tak mampu merasakan apa-apa lagi selain rasa lelah yang luarbiasa dan juga kantuk. Ah, sial! Mama benar! Manusia tidak bisa hidup tanpa salah satu di antara otak dan hati. Manusia perlu keduanya untuk menyelaraskan. Dan aku ingin Hatiku hidup kembali. Hatiku tidak mati dan mampu bereikarnasi menjadi Hati yang baru. Yang benar-benar baru dan tangguh untuk kembali menghadapi jatuh cinta yang baru dan juga luka-luka baru. Ya, bagaimanapun aku harus menghidupi hatiku lagi. Bagaimana caranya? Ah, otakku sudah tidak bisa diajak berpikir. Ia sudah kelelahan dan butuh tidur. Tidur yang mampu memulihkan.

Dan astaga….teman-teman, kau harus tahu, hidup sebagai manusia yang tanpa hati itu sangat tidak enak. Seperti zombie yang diizinkan Tuhan bertamasya ke bumi. Kosong. Hampa. Hidup tapi mati. Mati tapi hidup. Begitulah.

Ah, aku perlu tidur.
Selamat malam. Semoga besok aku bisa menemukan cara agar hatiku hidup kembali.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s