Mencintai Tukang Tenung

bibirmu yang anggur merapal mantra
sementara aku tergugu diam menatap matamu yang jurang
perlahan, kau mulai rasuki aku rindu,
sepersekian detik kemudian kau buatku candu

kaureguk kewarasanku
kaurenggut akal sehatku
kausita waktuku
hanya untuk mengingatmu seharian suntuk

kedua matamu ialah hutan belantara
aku, penjelajah yang tersesat
tak bisa pergi ke manapun
lupa jalan pulang, dan kembali ke muasal

bibirmu adalah laut ganas
aku nelayan dungu yang patuh oleh badainya
tenggelam pun, aku tak apa
mati jadi santapan paus pun tak mengapa

senyummu sebercahaya matahari pagi
hangatnya selalu menenangkan relung jiwa
suaramu selembut gemerintik hujan kala subuh
sejuk, membuat gemetar di dadaku

aromamu memabukkan
mirip sebotol bir bagi tukang pemintal sedih di bar
tidak akan pernah cukup walau berkali-kali kuhidu
aromamu bagai mabuk yang candu

ciumanmu mematikan
seperti bisikan waktu di telingaku
yang berkata,
kau akan mati satu detik lagi

satu.

aku mati.

Secarik Surat Yang Ditulis Ibu

SAYA melihat ibu saya duduk di meja makan, tapi ia tidak sedang makan. Beliau sedang menulis, entah menulis apa. Saya menghampiri ibu saya yang mengenakan daster cokelat bunga-bunga, ketika saya datang sepulang sekolah, ibu saya mengusap wajahnya yang mengilap sebab air yang jatuh di pipinya–entah air apa, mungkin air wudhu, atau menangis?–saya tidak tahu.

“Eh, kamu sudah pulang, Nak.” sapanya sambil tersenyum. Saya mengangguk sambil mencium tangannya kemudian berlalu ke kamar, mengganti baju putih-merah dengan kaus bergambar tsubasa lalu pergi main bola dengan teman-teman di kampung saya.

Sebelum saya pergi ke lapangan bola di dekat jalan raya, saya mendengar gaduh dari dalam kamar ibu saya. Bunyi-bunyian yang asing di telinga saya. Bunyi-bunyian berdebum, entah apa, suara ayah saya yang sedang marah, dan ibu saya yang sedang merintih. Tetapi saya melewatinya begitu saja, seolah tak ada apa pun yang saya dengar. Entahlah, saya merasa takut dan juga bingung tak mengerti apa yang terjadi dalam ruangan itu. Ada perasaan ngeri dan juga khawatir pada suara ibu saya, tapi teman-teman yang sudah menunggu saya dengan sebelah kakinya menjejak di atas bola bulat lebih menarik perhatian saya, dan mampu membuat saya melupakan pikiran-pikiran buruk di kepala saya.

Setelah matahari tenggelam, dan di langit tidak ada lagi sinar kuning-keemasan, saya pulang ke rumah. Dari lapangan bola menuju rumah hanya sekitar lima sampai sepuluh menit bila tidak ada kereta yang lewat. Karena saya harus menyebrangi rel kereta untuk pulang ke rumah. Dari rumah menuju sekolah saya pun, saya biasa menyebrangi rel kereta. Tapi tidak perlu khawatir, menyebrangi rel di daerah sini cukup aman karena dekat dengan palang kereta, jadi bila ada kereta yang mau lewat kita bisa tahu dengan suara bising TENG NONG NENG NONG yang cukup membuat telinga saya sakit.

Sesampai di rumah, saya menjumpai ayah saya duduk di meja makan. Tapi tidak sedang makan. Sama seperti ibu, beliau sedang menulis–entah menulis apa saya tidak tahu. Adzan maghrib telah berkumandang, tetapi rumah ini malah tiada bunyi-bunyian apa pun termasuk suara ibu yang biasanya menyuruh saya dan ayah saya untuk sholat berjamaah. Tidak ada suara lantunan ayat suci dari bibir ibu. Ibu tidak ada di rumah.

“Ayah, Ibu mana?” tanya saya heran.

“Ibumu minggat!” jawab ayah kasar.

Tabiat ayah memang begitu, sering marah, sering berteriak pada ibu, pada saya, sering pulang larut malam dengan botol beling warna hijau di tangannya, dan sering nonkrong di saung Pak Ableh, ayah teman saya, bermain kartu. Namun walaupun ayah begitu, tetapi yang saya tahu ayah sangat mencintai ibu. Saya pernah melihat suatu kali ayah membawakan sekuntum mawar pada ibu saya setelah malam sebelumnya membentak ibu saya. Mungkin, itu cara ayah meminta maaf. Ayah juga pernah membelikan saya tempat pensil bergambar spiderman setelah mengunci saya di kamar mandi selama satu jam karena telah membuat ulah dengan Omar, teman sebaya saya yang tukang nangis.

Setelah mendengar ibu saya pergi dari rumah, saya menangis. Saya bingung, siapa lagi yang besok membangunkan saya untuk sekolah, siapa lagi yang membuatkan sarapan dan bekal, siapa lagi yang mengancingkan baju seragam saya, siapa lagi yang akan mengantarkan saya menyebrang rel kereta api. Semuanya ibu yang melakukan. Bila tidak ada ibu, saya tidak bisa sekolah, tidak bisa makan, tidak bisa apa-apa. Bila tidak ada ibu, tangan siapa lagi yang akan saya cium sepulang dari sekolah? Saya menangis.

“Hssshhh diam kamu, dasar anak goblok!” maki ayah saya. Tangis saya pun makin jadi.

“HEH goblok! Bisa diam, nggak?” ayah saya menoyor kepala saya, saya pun makin enggan berhenti menangis.

PRAAANGGG!

Ayah melempar gelas yang digenggamnya ke lantai, dekat dari tempat saya duduk dan menangis. Saya pun berhenti menangis karena takut terkena sasaran amarah ayah saya.

“Makanya, diam kamu! Besok biar ayah yang antarkan kamu sekolah. Sudah sana masuk ke kamar!” beliau mulai melunakkan suaranya. Saya mematuhi perintahnya. Masuk ke dalam kamar. Besok ayah yang akan mengantarkan saya ke sekolah, besok semoga ibu pulang, doa saya sebelum tidur.

SAYA seperti baru saja tidur sebentar, tetapi pintu kamar saya sudah digedor-gedor, dan saya terbangun. Ayah saya masuk ke dalam kamar saya, dan menarik tangan saya tergesa-gesa.

“Mandi, ganti bajunya. Kita mau ketemu ibu sebelum berangkat sekolah.” kata ayah saya. Mendengar itu, dada saya menghangat, bahagia. Saya akan bertemu ibu. Saya kangen ibu.

Sebelum menggemblok tas sekolah dan beranjak dari rumah, saya melihat meja makan dipenuhi botol-botol beling warna hijau, lalu saya melihat jam dinding, jarum pendeknya masih menunjukkan angka dua, sebelum adzan subuh. Pantas saja, ketika mandi tadi tubuh saya terasa menggigil. Ayah saya membuka pintu dan melenggang keluar tanpa menguncinya terlebih dulu. Ibu selalu mengunci pintu apabila hendak berpergian jauh, tapi ayah tidak. Lalu beliau membuka pagar dan menyelotnya hanya dengan gembok. Kemudian tangan saya digandeng. Seumur hidup, dari saya kecil hingga usia saya menginjak sembilan tahun ini, tidak pernah sekalipun ayah menggandeng tangan saya. Mungkin ini karena tidak ada lagi ibu di rumah.

“Nak, ketika ayah dipenjara dulu, ayah merindukan kebebasan, ibu dan kamu yang masih berumur tiga bulan.” katanya mulai bercerita. Sebelumnya saya tidak tahu kalau ayah pernah masuk penjara; tempat orang-orang jahat dihukum, itu kata guruku. Tetapi kemarin saya melihat Nek Ismih dibawa mobil polisi, kata Ambul, tetangga Nek Ismih, Beliau mau dimasukkan penjara karena mencuri lima mangga bu RT. Kata Ambul lagi, mangga yang dicuri Nek Ismih itu buat beliau makan lima hari ke depan. Kalau dipikir, kasihan juga Nek Ismih, beliau bukan orang jahat, beliau ramah dan suka membacakan dongeng kepada anak-anak kampung waktu umur saya lima tahun. Lagi pula, Nek Ismih kan sudah tua, masak polisi tega memenjarakan orang tua seringkih itu hanya karena lima buah mangga?

“Dan sekarang, Ayah merindukan kebebasan itu lagi.” lanjutnya sambil menyusuri jalan setapak menuju rel kereta api yang memisahkan antara perkampungan dan jalan raya.

“Tapi kan ayah udah nggak dipenjara.” kata saya bingung. Kini saya dan ayah berhenti di depan rel kereta, entah mengapa ayah tidak melanjutkan langkahnya menyebrangi rel, padahal tidak akan ada kereta yang lewat, palang pintu tidak berbunyi sama sekali. Ayah bergeming. Saya memberanikan menatap Ayah yang sedang memandangi rel, seperti menunggu sesuatu.

“Kamu tau kan, Du, kalau Ayah sayang Ibu? Ayah nggak jahat kan sama kamu, sama ibu?” Ayah menoleh kepada saya, bertanya pada saya. Saya bingung menjawabnya. Ayah memang tidak jahat, tetapi ayah sering marah. Apa marah termasuk perbuatan orang jahat? Kemudian saya hanya berani mengangguk, untuk menjawab pertanyaan Ayah. Dan beliau tersenyum. Senyum yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Seperti senyum ibu setelah berbuka puasa ketika bulan romadhon. Saat berbuka, ayah tidak tersenyum seperti itu, karena ayah puasanya setengah hari, sama seperti saya.

TENG-NONG-NENG-NONG- Tanda kereta mau lewat berbunyi nyaring, palang kereta api ditutup, padahal tidaka ada kendaraan sekali pun di belakang kayu penghalang itu. Pada jam-jam segini, sebelum adzan subuh, kereta masih banyak yang hilir-mudik melewati kampung saya, biasanya kereta dari Ibukota menuju Surabaya.

Ayah melangkah maju, padahal ada bunyi tanda kereta api mau melintas. Biasanya, saya berhenti, tetapi ayah malah berjalan mendekati rel kereta, menarik paksa tangan saya yang sedang ia gandeng. Ayah mencengkram tangan saya, saya tak kuasa menahannya. Suara nyaring itu masih memekakan telinga, langkah ayah berhenti di tengah perlintasan rel, padahal sebentar lagi kereta mau lewat.

“Ayah, kereta mau lewat. Ayo nyebrang!” kata saya panik. Ayah saya malah bergeming. Tangannya masih erat mencengkram pergelangan tangan saya.

Saya mulai merasakan pijakan kaki saya bergetar, suara kereta makin mendekat, disusul dengan klakson kereta api yang berbaur dengan bunyi TENGNONGNENGNONG, kemudian saya melihat cahaya kuning menyoroti tubuh saya dan ayah saya. Ayah saya menoleh, tersenyum. Senyum yang sama seperti sebelumnya. Senyum yang sekejap. Kemudian yang saya lihat hanya gelap. Tidak ada suara klakson kereta api, tidak ada suara tanda kereta mau lewat, tidak ada lampu kuning, tidak ada ayah saya, tidak ada ibu saya. Hanya ada gelap. Saya tak mampu melihat apa-apa lagi.


SOLO, KOMPAS.com — Aparat Polresta Solo menyelidiki dua jenazah yang ditemukan di jalur kereta api di Purwosari, Solo. Diduga, keduanya adalah jenazah ayah dan anak laki-lakinya.

Dua jenazah dalam kondisi mengenaskan itu ditemukan oleh warga di sekitar rel. Keduanya diduga tertabrak KA Gajayana yang melintas di kawasan itu pada pukul 02:59 WIB.

Dari hasil penyelidikan sementara, diketahui bahwa si ayah bernama Kirmin Waluyo (41) dan anak laki-lakinya itu bernama Pandu Nugroho (9). Sang ayah diduga mengajak putranya itu mengakhiri hidup karena masalah keluarga.

Kapolsek Laweyan Solo Kompol Zulkifli mengatakan, ayah dan putranya itu merupakan warga Ngabeyan, Kartasura, Jawa Tengah. Dalam surat wasiat yang ditemukan di lokasi, ada permintaan Kirmin untuk dimakamkan dalam satu liang dengan sang putra.

“Kami masih mendalami kasus tersebut, tapi dari penyelidikan sementara, korban mengajak anaknya untuk bunuh diri dengan cara menabrakkan diri ke kereta api. Sejauh ini masalah perceraian jadi sebabnya,” kata Dzulkifar, Sabtu (21/3/2015).

Selain surat wasiat, petugas juga mengamankan surat bertulis tangan, dan dompet berisi KTP. Saat ditemukan warga, Kirmin mengenakan kemeja biru kotak-kotak sedangkan Pandu mengenakan baju seragam sekolahnya. Kedua korban segera dibawa ke RSUD Muwardi untuk divisum.


Surat bertulis tangan tersebut diduga untuk istri Kirmin, Laksmi, seperti yang tertulis dalam tubuh surat  :

Kepada Laksmi,
Surat ini sebagai balasan untuk surat yang kamu selipkan di bawah bantal tidur kamu kemarin sore, sebelum kamu memutuskan pergi meninggalkan saya dan Pandu. Surat ini sebagai permintaan maaf saya yang terakhir dan juga pamitan. Maaf, saya tidak pernah menjadi suami yang baik dan ayah yang baik bagi kamu dan Pandu. Saya selalu kasar padamu, dan kepada anak kita satu-satunya, Pandu. Kita telah hidup bersama hampir sepuluh tahun, kamu sudah kenal tabiat saya, saya pun juga. Tetapi perkataanmu yang terakhir, mengatakan kalau kamu sudah tidak tahan dengan saya, dan memutuskan untuk pergi dari rumah yang kita bangun berdua, telah meruntuhkan hati saya yang kaubilang batu. Laksmi, mungkin kamu pikir saya tidak peduli dengan Pandu, dan dengan kamu, tapi percayalah, saya begini karena pusing mencari kerja sana-sini tidak diterima hanya karena alasan tato di pergelangan tangan saya. Saya marah, saya membentak, memukul kamu dan Pandu mungkin di luar kendali saya, kau tahu kalau saya kasar, saya sedang mabuk. Maaf, ini adalah kesalahan saya.
Bila kaumenemukan surat ini dari potongan tubuh saya, atau dari kemeja saya yang sudah terlepas, tolong maafkanlah saya. Hanya itu yang saya butuhkan. Dan, ya, saya mengajak Pandu bersama saya, karena kau pasti tahu, saya jarang menghabiskan waktu bersama putra semata wayang kita. Saya ingin membayarnya dengan cara ini. Kuburkan saya satu liang dengan Pandu, karena saya ingin menghabiskan waktu selamanya bersama Pandu, putra kita.

Laksmi, maafkan saya.
Saya masih mencintaimu.

Kirmin, 20 Maret 2015.

Depok, 29 Maret 2015

gambar dari weheartit.com

gambar dari weheartit.com

Kesalahan Yang Tak Seharusnya

Saya tahu ini salah, tapi bagaimana? Memang siapa yang bisa mengontrol hati manusia kecuali Tuhan? Bahkan kita pun, sejujurnya tidak dapat mengontrol hati kita sendiri. Oke, oke, saya di sini bukan untuk ceramah, apa lagi mengeluh, saya hanya heran pada diri saya sendiri. Mengapa semua ini saya lakukan, padahal saya tahu ini salah? Nah, itu adalah pertanyaan personal kepada dalam nurani saya. Ah, apakah kesederhanaan cinta bisa merumitkan hidup? Atau kesederhanaan hidup adalah kerumitan itu sendiri? Sudahlah, bila sedang kacau begini, saya sulit berpikir jernih.

“Jadi, bagaimana?” tanyanya bingung sambil memainkan lengan kemeja saya.

“Entahlah, Ra.” saya menggelengkan kepala, pening.

“Memang kamu rela?” tanyanya lagi, kali ini ia memeluk lengan saya.

“Kamu tidak perlu bertanya jawabannya. Kamu sudah tahu.” jawab saya kalem.

“Mana mungkin aku tahu kalau kamu nggak kasih tahu, memangnya aku paranormal?!” sungutnya. Saya mengusap kepalanya pelan. Perempuan ini begitu lucu bila sedang marah atau ngedumel seperti sekarang ini.

Saya diam sejenak. Menarik napas dalam-dalam. Sungguh pelik, dan juga rumit. Saya tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Saya tidak pernah mengharapkan ini. Perpisahan. Tidak ada yang mengharapkan perpisahan, kecuali mempersiapkan. Sedikit-banyak orang barangkali pernah mempersiapkan perpisahan untuk suatu hubungan yang bersifat sementara atau hubungan berisiko, tapi bodohnya, saya tidak melakukannya. Saya belum siap, padahal tahu kalau hal ini akan terjadi nanti sewaktu-waktu. Dan inilah waktunya.

“Ra, maaf.” kata saya. Dia sedang rebah di bahu saya, saya tahu berat untuk perempuan ini mengatakan hal yang sejujurnya. Tapi apa daya? Saya tahu dia kebingungan, saya tahu dia tidak bermaksud melukai saya.

“Bukan kamu mas yang harus minta maaf. Tapi aku,” dia kembali mendekap erat lengan saya, mungkin untuk kali terakhir.

Saya tersenyum. Bagaimana pun tempat saya bukan di sini. Saya tak seharusnya lancang mengetuk pintu hatinya, dan seharusnya, dia juga tidak membukakannya untuk saya.

“Semuanya sudah terlanjur, Ra. Bagaimana lagi? Kamu sudah memilih, kan?” tanya saya, kini dia yang mengangguk pasrah pada lengan saya.

“Maaf, mas.” katanya pelan.

“Maaf tidak bisa mengubah segalanya yang tlah terjadi, Ra.” saya tersenyum.

“Aku tau.”

“Aku pikir..-” katanya pelan. “Siapa pun itu yang menciptakan kata ‘maaf’ sungguh sia-sia.” guraunya pedas.

Saya kembali tersenyum mendengarnya. Saya tahu dia tidak rela, sama seperti saya, jadi saya memakluminya.

“Tidak ada yang sia-sia, Ra.” saya mengusap rambutnya yang hitam, panjang, dan bergelombang. Harum apel menguar dari sana serupa melati yang sedang mekar. Saya selalu suka mengusap rambutnya seperti seorang ayah kepada anak perempuannya. Amira begitu kekanak-kanakan, tapi terkadang kedewasaannya melampaui saya yang tiga tahun lebih tua darinya. Saya menikmati udara di depan saya; aroma apel dan harum lavender yang menguar dari tubuhnya. Mungkin, aroma yang sedang saya hirup kali ini adalah aroma surga terakhir yang saya bisa nikmati. Aroma Amira. Ah, begitu saya tidak menginginkannya pergi. Begitu saya menginginkannya tidak memilih apa-apa selain saya.

“Kamu pasti tau kenapa aku jatuh cinta padamu kan, mas?” tanyanya berdesis, mirip bisikan ular.

Saya menggeleng. Saya tidak tahu. Dia tidak pernah memberikan alasan mengapa dia jatuh cinta pada saya dan menerima saya masuk ke dalam hidupnya. Yang saya herankan, mengapa dia menanyakan hal seperti ini di saat semua sudah hampir selesai.

“Kamu mempunyai apa yang dia tidak punya.” dia menjawabnya sendiri.

“Begitu kah? Tapi sayangnya, hal itu tidak membuat kamu memilih aku, kan?” saya menggoda. Oke, mungkin saya kelewat denial, bisa-bisanya menggoda dia lagi setelah apa yang dia katakan.

Amira terdiam. Dia tertunduk pada di lengan saya. Tangannya masih erat memelukinya. Hidungnya menempel pada lengan kemeja saya. Mungkin, dia sedang mengambil aroma saya untuk diingat kembali nanti, atau dibayangkan kembali ketika dia sedang memeluk kekasihnya yang sebenarnya. Ya, kekasih Amira yang sebenarnya. Dan bukan saya orangnya.

“Kamu nggak seharusnya datang ke hidup aku, mas.” perempuan itu terisak. Saya mendengar suara tangisnya yang selirih puisi patah hati.

“Kamu seharusnya nggak buat aku terpukau!” kini dia menghajar lengan kemeja saya dengan air matanya yang berderai.

Salah. Seharusnya kamu tidak perlu datang ke pentas malam puisi di kedai itu bersama kekasihmu. Seharusnya kamu bermalam minggu di tempat lain. Seharusnya saat itu saya tidak membawakan ‘Kepada Hawa’-nya Aan Mansyur. Seharusnya kamu tidak mendengar suara saya. Seharusnya kita tidak usah bertemu di kedai yang sama malam itu. Seharusnya saat itu kamu tidak sendiri dan terlihat sedih di kedai itu. Seharusnya saya diam saja di tempat saya dan tidak usah menghampirimu. Seharusnya saya tidak menanyakan nomormu. Seharusnya saya tidak mendengarmu bercerita tentang dia-mu. Seharusnya kamu tidak mendengar saya bercerita tentang hidup saya. Seharusnya kita tidak usah bertemu sama sekali. Di mana pun, kapan pun. Seharusnya tidak ada kita.

Banyak kata seharusnya menggerayangi isi kepala saya, tetapi saya tahu, kata seharusnya atau seandainya sama saja seperti kata maaf. Sia-sia. Oke, tidak ada yang sia-sia, tapi kalau memang tidak ada gunanya apa lagi bila bukan sia-sia namanya? Entahlah, lagi-lagi saya bilang, sulit mencerna akal sehat bila hati sedang runyam.

“Oke, begini, Amira, bila kamu sudah memilih dia, lupakan aku. Oke? Ini kan resiko dari hubungan kita. Kamu harus memilih salah satu.” kata saya mencoba tenang. Saya rasakan, kepalanya menggeleng di pelukan saya.

“Kamu nyuruh aku lupain kamu, mas?” dia bangkit. Rambutnya jatuh berantakan. Air mata membuat beberapa anak rambutnya menempel di wajahnya.

“Habis gimana? Kita nggak bisa nerusin ini, kamu yang bilang kan?” saya hampir emosi. Bukan, bukan pada Amira, tapi pada diri saya sendiri. Baru kali ini saya melihat Amira menangis karena saya.

“Kamu emang nggak pernah serius sama aku, mas. Pergi dari kamu aja belum tentu aku bisa, terus kamu suruh aku lupain kamu?!” suaranya meninggi. Saya memejamkan mata. Sulit melihat matanya manakala dia menangis.

“Begini Ra, dia sudah melamar kamu, dan kamu juga sudah menerimanya, kan? Dia kekasihmu yang sesungguhnya, Ra. Bukan aku, oke?” Damn! I hate myself for screaming at her. Saya tidak pernah berpikir untuk membentaknya, tapi kali ini saya melakukannya.

Dia tercenung. Kaget oleh kata-kata saya barusan. Oleh perkataan saya. Saya sendiri juga kaget, betapa saya tega membentaknya hanya karena saya sedang marah kepada diri saya sendiri. Saya marah karena seharusnya saya tidak memulai semuanya. Dan kini saya bertambah marah oleh sebab yang lain lagi; saya tlah melukainya.

“Harusnya aku udah tau dari awal. Kamu emang nggak pernah serius sama aku. Terima kasih, mas, ternyata perjuangan kamu hanya sampai sini. Aku pergi.” Amira beranjak dengan tas merah jambu yang tersampir di bahunya. Dia pergi setelah menghapus air matanya dengan tangannya sendiri. Dia pergi, dengan amarah.

Kini, kata seharusnya berceloteh lagi dalam kepala,

Seharusnya, saya yang menghapus air mata terakhir itu.

Seharusnya, saya tidak membiarkannya pergi dengan amarah.

Seharusnya, saya tidak membiarkannya pergi.

Aku tau dia yang bisa
Menjadi seperti yang engkau pinta
Namun selama napas berembus
Aku kan mencoba
Menjadi seperti yang kau minta

Amira, aku sudah bisa menjadi apa yang kau minta;
Membiarkanmu bahagia, dengan pilihanmu yang bukan aku.

gambar ini diambil di weheartit.com

gambar ini diambil di weheartit.com

END-

Depok, 24 Maret 2015

Cinta Tak Sesederhana Menjadi Bahagia

Mungkin mereka pikir saya kelewat dungu, atau ketakutan. Mereka pikir, saya adalah pecundang paling naif yang tinggal di negeri ini. Pecundang yang mereka kenal sebagai pemuja cinta, padahal sebenarnya cinta lah yang menghabisi nyali saya. Cinta lah yang pecundangi saya selain dunia dan caci-maki mereka. Cinta. Ah, sebuah kata yang mengubah saya menjadi manusia yang bukan saya. Kata yang mengubah jiwa saya.

“Adendong, lama deh lo dandannya, yang mau kencan kan gue, masa jadi cakepan elo!” Itu suara Liana. Dia perempuan paling cantik setelah ibu saya. Dia perempuan paling gagah setelah ayah saya.

“Ey, mak! Secakep-cakepnya gue, laki lo nggak mungkin naksir sama gue!” Sahut saya sekenanya. Perempuan itu tertawa, suaranya renyah serenyah biskuit penganan teh sore.

Liana berkaca di cermin rias saya sekali lagi, merapikan sisa cokelat di bibir yang sudah dipoles gincu merah marun. Tangannya asik menyisir rambut sebahunya dengan jari-jari lentiknya. Jari-jari yang sering saya lihat mengambang di udara dengan gerakan-gerakan naik-turun seperti lenggokan pinggul penari yang paling gemulai. Ya, Liana suka menari. Dan saya suka melihatnya menari.

“Iya juga sih, lagi elo nama doang Adam, tapi kelakuan Hawa,” Liana terbahak.

“Ye, kampret lo, mak!” saya mencubit lengannya gemas, dia meringis.

*

Masih teringat di benak saya bagaimana suara Liana berteriak sekencang suara badai di telinga saya. Bagaimana suara tangisnya yang meraung-raung mencabik bahu saya. Suara-suara yang keluar mirip suara ibu saya di rumah ketika saya kecil. Suara-suara pilu perempuan terluka sebab laki-laki.

“Remon udah merkosa gue, Dam. Gue nggak tau harus gimana lagi. Gue udah kotor!” Liana terisak. Suaranya lirih seperti burung yang ingin menjemput ajalnya. Indah, tetapi menyedihkan. Suara Liana lima tahun silam. Suara yang tidak ingin saya dengar lagi.

Suara yang sama seperti masa lalu saya;

“Ampun, Yah. Ampuuunnn!” perempuan itu terisak setelah suara beling pecah di lantai. Suara tangisnya ikut pecah di muka pintu kamar saya. Saya mendengarnya.

Itu suara ibu saya. Setelah itu saya keluar kamar, dan melihat ibu saya tergolek di lantai dengan vas bunga pemberian ayah saya yang sudah pecah berhamburan. Seperti hati ibu saya. Usai malam itu, saya tidak pernah melihat vas bunga ditaruh di meja, dan juga ayah saya.

Tidak ada yang bisa saya lakukan kepada dua orang tersayang itu kecuali memberi rasa aman yang tak seberapa. Mereka membenci laki-laki, saya juga. Bedanya, saya adalah laki-laki, yang membenci raga saya sendiri.

*

Lima tahun sudah berlalu sejak tangis dan raungan Liana mendekam serupa ingatan di kepala saya. Hampir lima tahun pula saya tidak bisa mendengar suara tawa Liana yang serenyah biskuit penganan kopi pagi. Hampir lima tahun sebelum ia bertemu dengan Rajib Waguna Alanasakti, laki-laki pemabuk di bar langganan saya. Laki-laki itu senang menghabiskan lima botol chivas ketika menjelang pukul dua dini hari. Saya sempat mengobrol dengannya, sebelum ia dan Liana bertemu tak sengaja, katanya, hidup bahagia di dunia ini sebagai orang yang benar-benar sadar ialah dusta. Maka, ia habiskan tujuh tahun belakangan ini dengan mabuk-mabukan. Ketika saya bertanya alasannya, dia bilang, get drunk is my way to pleasure myself.

“Gue nggak bilang kalo bahagia itu harus dengan mabuk, but it’s my own way dan orang lain nggak berhak ngurusin gue seolah-olah ini dosa besar. Well, setiap orang punya dosanya masing-masing. Just, get a life, man.” katanya. Di depan saya dan Liana. Yang saya tahu, setelah itu senyum biskuit Liana terdengar lagi. Perempuan itu jatuh cinta. Dan saya baru sadar, letak kesalahan terbesar saya adalah ketika mengajak Liana ke bar langganan saya dan mengenalkannya pada Rajib.

*

Colony, 21:18 WIB.

Rajib sudah lebih dulu datang sebelum saya dan Liana. Mereka akan berkencan di depan saya, tapi yang saya suka dari Rajib adalah laki-laki ini tidak seperti laki-laki lainnya yang mencoba menjauhkan hubungan saya dengan Liana, dia malah sebaliknya. Dia tidak menghilangkan sebagian potongan dari hidup Liana, termasuk masa lalunya yang kelam dan juga saya. Tangan laki-laki itu seolah kuncup mawar yang mekar; terbuka untuk siapa dan apa saja tanpa pilih-pilih ras ataupun orientasi seksual.

people just people who judging each other. I may say that i’m not kind of them, but i’m only human.” dia pernah berkata begitu. Itulah yang saya tahu bahwa laki-laki bertubuh kurus dan berkulit cokelat gelap ini mempunyai hati yang lapang. Well, he’s not talking bullshit, anyway. Jadi saat dia bilang dia mencintai Liana, saya tahu laki-laki itu sungguh-sungguh. Dan saya tidak menyesali kesalahan saya; mempertemukan Liana dan Rajib. They’re such of lovely couple i’ve ever met.

Entah berapa jam kami bertiga menghabiskan waktu, dan berbotol-botol bir di sini dengan percakapan-percakapan yang tak kenal kata usai. Berkali-kali saya melihat bibir Liana dan Rajib bersentuhan seperti bibir saya dengan gelas bir di tangan saya. Berkali-kali ciuman mereka liar membangkitkan emosi saya. Berkali-kali saya berdebar melepaskan cemas di dada, berharap tatapan mata dari Rajib adalah kesungguhan pada Liana. Saya sama sekali tidak ingin mendengar tangis Liana. Tidak lagi. Namun yang saya lihat adalah kebahagiaan sekaligus kehilangan pada mata dan ciuman Rajib. Dia betul-betul mencintai Liana. Hal itu melegakan, membahagiakan, sekaligus menyakitkan bagi saya. Bila kalian ingin bertanya apa sebabnya, saya ingin mengakui beberapa hal; rahasia terbesar dalam hidup saya selama terjebak dalam tubuh ini;

Saya mencintai Liana. Setelah saya tahu dia membenci laki-laki, saya putuskan agar saya tidak menjadi laki-laki. Saya menjadi perempuan untuknya. Karena cinta.

Saya mencintai Rajib. Dia adalah laki-laki ‘straight’ satu-satunya yang saya cintai.

Pada mulanya, semua membingungkan. Apalagi ketika berhadapan dengan dua orang yang saya cintai dan tidak pernah bisa saya miliki. Dua orang yang saya cintai saling mencintai. It’s more difficult than you think. But at least, I know that, I love the way Rajib loves Liana.

Saya membiarkan dua orang yang saya cintai berbahagia dengan saling mencintai satu sama lain. Dan yang lebih membahagiakan untuk saya adalah, dua orang itu juga mencintai saya. Walau tak pernah bisa saya miliki.

Mereka boleh berpikir saya pecundang, atau bahkan sampah dunia, tetapi yang mereka tidak tahu adalah, bahwa Tuhan menciptakan manusia selalu ada gunanya, He knows what people don’ts, right?

At least, saya mungkin belum menemukan letak kebahagiaan saya yang utuh, tetapi saya tahu apa yang sedang saya lakukan; menjemput takdir. Seperti puisi yang pernah saya tulis.


Takdir Di Tangga Waktu

Saya pikir, saya pecundang
Saya pikir, dunia bukan untuk saya yang malang

Saya pikir, dunia tidak adil
Saya pikir, pemikiran saya yang kerdil

Saya pikir, manusia hanyalah manusia
Yang nanti akan menemukan takdir masing-masing

Biar saja waktu menyeret saya dari tanpa cahaya, sampai ada cahaya lagi
Terseret anak-anak tangga sambil mengaduh kesakitan
Berjalan meniti tangga naik
Menjemput takdir

Adam,
(Klender, 23 Januari 2014)

(sumber: weheartit.com)

(sumber: weheartit.com)

END-

Depok, 24 Maret 2015

TOPENG

“Bagaimana kamu sama dia? Masih?” tanyaku padanya. Dia hanya menarik seulas senyum tipis.

Entah berapa belas kali kutanyakan hal serupa padanya dan dia selalu menjawab dengan hal serupa pula seperti,”Ya, masih. Kami baik-baik saja.” setelah dia menjawab begitu, kupastikan sunggingan senyum-terpaksa-yang-terlihat-tulus terlampir di wajahku. Aku tidak mau kelihatan pura-pura di depannya.

Kini kami berada kedai kopi favoritku dan dia. Kafe Orchilac di daerah Kemang Raya. Kami sering ke mari semasa kuliah dulu. Menghabiskan sisa sore untuk minum kopi dan membaca buku. Oh iya, kami sama-sama menyukai cairan berkafein itu, dan juga buku fiksi. Buku-buku fiksi favorit yang sering ia baca di sini ialah bukunya Haruka Murakami, atau Dan Brown. Bedanya denganku, aku lebih menyukai buku-buku dari novelis lokal, kadangkala buku puisi yang juga disediakan pemilik kafe. Kalau jenis kopi favorit, kami berdua kompak; Moka ialah jenis kopi favorit aku dan dia, bedanya lagi, moka milikku biasanya pakai ice cream topping, kalau dia lebih suka moka yang hangat.

Ah, masa-masa kuliah itu sudah berlalu tiga tahun lalu. Sekarang adalah sekarang; keadaan yang tidak sama lagi. Setelah diwisuda, kami berpencar, dan berjanji suatu hari akan bersama kembali. Tapi kata-kata hanyalah kata-kata. Kita tak bersama lagi. Tidak bisa lagi. Dia sudah bersama yang lain. Aku? Ah, mungkin hanya gadis dungu yang tidak berani mengatakan apa-apa padanya. Mengatakan hal yang seharusnya. Cinta; pohon yang sudah lama tumbuh di dadaku.

Say what you need to say, they said. Tapi aku sudah terlanjur merahasiakan semuanya. Cinta. Bahkan merahasiakan itu pada logikaku sendiri. Perasaanku sudah terlanjur hina. Mana mungkin aku merebut kekasih orang? Mana mungkin aku mencintai sahabatku sendiri? Perasaan yang tidak masuk akal. Memangnya perasaan apa yang masuk di akal? Tidak ada.

Kini dia berada di depanku lagi. Aku menanyakan kalimat tanya itu berulang-ulang. Dan aku berharap dia menjawab yang lain. Bukan jawaban serupa seperti waktu-waktu lalu. Dia masih mengulas senyum yang membuatku terjerat pikat bibirnya. Aku menahan napas. Menunggu jawaban.

Dia mendesah panjang.

“Hmm..masih. Tapi sepertinya ke depannya akan berubah..” jawabnya pelan, wajahnya ditekuk.

“M..maksudmu? Kamu ada masalah?” aku memastikan. Berharap jawaban yang keluar adalah ‘ya’.

Dia terdiam. Jeda cukup lama. Hening.

“Bulan depan, aku tunangan sama dia, Na!” wajahnya tiba-tiba berubah senang. Bibirnya tersungging bahagia lebar-lebar.

Aku tercekat. Sesak. Tu-tunangan?

“Aku mencintainya, Na. Aku ingin hidup bersamanya sampai tua. It would be perfect, right?”

Aku mengangguk. Dalam hati menggeleng keras-keras. It would be worst, Dam. It would be worst.

Dia tak perlu tahu aku mencintainya. Kupikir, itu adalah pengorbanan dariku. Ternyata bukan. Itu kebodohan terbesarku. Penyesalanku yang sangat dalam. Lalu, sekarang aku bisa apa lagi? Semua hancur. Semua benar-benar terlambat.

Sangat amat terlambat.

“Wah, selamat ya, Damar. Aku turut bahagia!” Kupasang lagi senyum-terpaksa-yang-terlihat-tulus itu. Ini pengorbanan terakhirku, kupikir. Kukorbankan kebahagiaanku sendiri demi melihatmu bahagia, bersama yang lain.

If you wanna grow old with her,

I wanna die young.

 dsaaa

Negeri Penjara

ketika ego dan ambisi
dikuasai si maha tinggi negeri
kebebasan dikunci
suara rakyat dibeli murah
pena penulis dihargai rupiah

ketika suara dijeruji
kebebasan mati
bibir-bibir si pemikir dikikir
suara-suara dibungkam

“tinggal di mana kita, wahai bunda?”
seorang anak negeri bertanya
“mengapa bibirku disekap?
kata-kata hanya bisa kita dekap?”

sang bunda tersenyum
jawaban-jawaban dikulum
“anakku, negeri ini punya nama,
namanya negeri penjara.”

Penjelajah

duhai pejelajah waktu, penjelajah aku
kemarilah, datang padaku
aku ialah lembah-lembah penawar sedih
tempat sejuta warna keindahan singgah

duhai penjelajah waktu, penjelajah aku
kemarilah, datang padaku
sebuah negeri yang tak pernah kaukunjungi
lintasilah segala sudutku

duhai penjelajah waktu, penjelajah aku
kemarilah, datang padaku
gurun pasir cokelat keemasan
yang siap menabur tubuhmu dengan cahaya

duhai penjelajah waktu, penjelajah aku
kemarilah, datang padaku
aku adalah gunung paling tinggi
yang menggiurkan para pendaki

duhai penjelajah waktu, penjelajah aku
kemarilah, datang padaku
si laut biru yang paling megah di belantara bumi
yang paling mampu membuat laki-laki tenggelam

duhai penjelajah waktu, penjelajah aku
jelajahilah aku
aku ialah apa saja yang ingin kau jelajahi
mulai lah dari mana saja, dan jangan pernah berhenti

duhai penjelajah waktu, penjelajah aku
jelajahilah aku
namai aku, sebut aku
aku; tujuan hidupmu

Depok, 12 Maret 2015