Lagu Morrissey

I know you love
One person but
Why don’t you love two
Love two ~

Sebuah headset biru itu masih menyumpali telingaku dan kau, kabel biru itu memajang seperti jembatan antara telingaku dan telingamu. Aku sedang memberitahumu lagu Morrissey yang berjudul My Love Life. Sedangkan dua buku terbuka di masing-masing kedua tangan kita. Kita sibuk membaca cerita yang berbeda, tetapi mendengar sebuah lagu yang sama di sebelah telinga. Telinga kiriku, telinga kananmu.

“Lagunya bagus..” katamu pelan, tetapi aku mendengarnya.

So, do you like it?” tanyaku penuh antusias. Mungkin, bila aku jadi kau, aku pasti bisa melihat binar mataku menatapmu, dan menertawakan wajahku yang kuyakin sekarang ini sangat merah tomat.

“Ya, aku suka lagunya.” kau tersenyum sebelum kembali tenggelam dalam lautan aksara yang kaugenggam di kedua tanganmu.

Yeah, I like you too, bisikku dalam hati, tentu saja.


I know you love
One person but
Why don’t you love two
Love two ~

Lagu itu menggema di kedua telingaku dengan volume super keras. Tidak peduli apabila mbak-mbak di sebelahku ini mendengar suara yang sedikit bising dari sisi kiriku. Ini selepas maghrib, yang kita semua tahu adalah jam pulang kantor karyawan, otomatis angkot yang biasa kunaiki untuk pulang ke rumah, penuh oleh orang-orang yang pulang kantor. Dan aku termasuk satu di antaranya.

Kuingat betul kapan lagu itu pernah terputar hanya di telinga kiriku. Ya, saat itu kau mendengar lagu yang sama di telinga kananmu. Kini aku mendengarnya sendiri. Meratapi lirik lagu itu sebenar-benarnya. Bahkan, sampai kueja. I know you love one person but why don’t you love two? Tak kusangka itu bakal menjadi pertanyaanku untukmu. Bukan hanya sekadar lirik lagu Morrissey. Bukan.

I know you love her, but why don’t you love me too? gumamku dalam hati. Kau, yang kini sedang sibuk mencintai orang lain yang bukan aku, bisakah kau menjawabnya?

Ah, My Love Life-nya Morrissey adalah salah satu lagu favorit-ku di antara puluhan lainnya. Dan kini, aku hampir benci mendengarnya. Benci!

Because my love life was a tragedy now.

Ah!

The memories start to fade
And sad song that always play
You start to hate

Do you remember
The days we used to spend?

Kau, apa kau mengingat lagu itu sebaik aku mengingat sisa-sisa hari kita yang tlah usang menjadi kenangan?

I know you love
One person but
Why don’t you love two
Love two ~

Kini aku mendengar lagu itu lagi. Dengan headset biru yang menyumpal kedua telingaku. Dalam angkot 04 yang penuh sesak. Mengingat waktu itu. Mengingat kita.

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Depok, 04 Maret 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s