Ibu Tercinta

“Bu, aku tahu, aku percaya, kau selalu menyayangiku.” bisik anak perempuan itu lirih. Langit-langit bergaun ungu ditatapnya sendu. Malam seraya tersenyum ketika mendengar kata ‘ibu’ itu sampai pada wajahnya yang polos tanpa hiasan apa-apa; bulan maupun bintang. Malam sedang mendung serupa dengan mata anak perempuan itu.

“Bu, aku tahu kau juga rindu padaku.” bisiknya lagi. Tidak ada siapa-siapa di taman itu. Hanya ada dia. Anak perempuan yang merindukan ibunya. Ibunya yang jauh, atau dekat, dia tidak tahu. Dia asik saja duduk di ayunan taman itu sendirian. Kedua tangannya sibuk memegang erat rantai-rantai ayunan, kakinya menekan-nekan ke tanah agar ayunan itu bisa membawa angin kepada tubuhnya yang mungil, bibirnya menggumam-gumam menyebut satu kata; Ibu.

“Bu, Lana kangen Ibu…” ayunan itu sudah tinggi mengangkat tubuhnya ke angkasa. Dirasakannya angin menerpa sekujur wajahnya yang basah oleh air mata. Tanda kerinduan yang amat mendalam.

“Lana, sudah malam. Ayo masuk ke dalam, lalu tidur.” sapa seorang perempuan berkerudung putih yang sedang berdiri di belakang Lana. Perempuan itu tersenyum ramah. Lana menoleh kepada perempuan itu. Mengangguk kemudian tersenyum memaksa. Bukan dia Ibuku, Ya Tuhan.. bisiknya.

“Bu Nila, apa Lana boleh bertanya?” anak perempuan itu bertanya pada perempuan yang sedang menuntunnya ke dalam sebuah bangunan tua. Nila mengangguk.

“Apa Ibu Lana juga merindukan Lana, Bu? Lana kangen Ibu…” ungkap Lana dengan mata polos yang menyimpan kesedihan di sana. Nila tertegun. Bibirnya memaksa tersenyum pada anak perempuan malang ini. Lana yang malang, gumamnya dalam hati.

“Iya Lana. Ibu kamu pasti sangat mencintai dan merindukan kamu.” ujar perempuan itu lembut, mata Lana langsung berbinar-binar mendengar Nila berkata demikian. Aku tahu, kau juga merindukanku, Bu, bisik Lana.

Jauh dalam lubuk hati, Nila sebenarnya tahu latar belakang anak perempuan ini. Lana. Ia sudah tujuh tahun menempati bangunan bernama Panti Asuhan Kasih Ibu. Saat itu Lana masih bayi, ia diantarkan oleh segerombolan warga dan polisi. Kata mereka, bayi malang itu hendak dibunuh ibunya sendiri karena lahir tanpa tahu siapa bapaknya.

-END-

Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program #FF2in1 dari www.nulisbuku.com di Facebook dan Twitter @nulisbuku

Depok, 11 Maret 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s