Negeri Penjara

ketika ego dan ambisi
dikuasai si maha tinggi negeri
kebebasan dikunci
suara rakyat dibeli murah
pena penulis dihargai rupiah

ketika suara dijeruji
kebebasan mati
bibir-bibir si pemikir dikikir
suara-suara dibungkam

“tinggal di mana kita, wahai bunda?”
seorang anak negeri bertanya
“mengapa bibirku disekap?
kata-kata hanya bisa kita dekap?”

sang bunda tersenyum
jawaban-jawaban dikulum
“anakku, negeri ini punya nama,
namanya negeri penjara.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s