TOPENG

“Bagaimana kamu sama dia? Masih?” tanyaku padanya. Dia hanya menarik seulas senyum tipis.

Entah berapa belas kali kutanyakan hal serupa padanya dan dia selalu menjawab dengan hal serupa pula seperti,”Ya, masih. Kami baik-baik saja.” setelah dia menjawab begitu, kupastikan sunggingan senyum-terpaksa-yang-terlihat-tulus terlampir di wajahku. Aku tidak mau kelihatan pura-pura di depannya.

Kini kami berada kedai kopi favoritku dan dia. Kafe Orchilac di daerah Kemang Raya. Kami sering ke mari semasa kuliah dulu. Menghabiskan sisa sore untuk minum kopi dan membaca buku. Oh iya, kami sama-sama menyukai cairan berkafein itu, dan juga buku fiksi. Buku-buku fiksi favorit yang sering ia baca di sini ialah bukunya Haruka Murakami, atau Dan Brown. Bedanya denganku, aku lebih menyukai buku-buku dari novelis lokal, kadangkala buku puisi yang juga disediakan pemilik kafe. Kalau jenis kopi favorit, kami berdua kompak; Moka ialah jenis kopi favorit aku dan dia, bedanya lagi, moka milikku biasanya pakai ice cream topping, kalau dia lebih suka moka yang hangat.

Ah, masa-masa kuliah itu sudah berlalu tiga tahun lalu. Sekarang adalah sekarang; keadaan yang tidak sama lagi. Setelah diwisuda, kami berpencar, dan berjanji suatu hari akan bersama kembali. Tapi kata-kata hanyalah kata-kata. Kita tak bersama lagi. Tidak bisa lagi. Dia sudah bersama yang lain. Aku? Ah, mungkin hanya gadis dungu yang tidak berani mengatakan apa-apa padanya. Mengatakan hal yang seharusnya. Cinta; pohon yang sudah lama tumbuh di dadaku.

Say what you need to say, they said. Tapi aku sudah terlanjur merahasiakan semuanya. Cinta. Bahkan merahasiakan itu pada logikaku sendiri. Perasaanku sudah terlanjur hina. Mana mungkin aku merebut kekasih orang? Mana mungkin aku mencintai sahabatku sendiri? Perasaan yang tidak masuk akal. Memangnya perasaan apa yang masuk di akal? Tidak ada.

Kini dia berada di depanku lagi. Aku menanyakan kalimat tanya itu berulang-ulang. Dan aku berharap dia menjawab yang lain. Bukan jawaban serupa seperti waktu-waktu lalu. Dia masih mengulas senyum yang membuatku terjerat pikat bibirnya. Aku menahan napas. Menunggu jawaban.

Dia mendesah panjang.

“Hmm..masih. Tapi sepertinya ke depannya akan berubah..” jawabnya pelan, wajahnya ditekuk.

“M..maksudmu? Kamu ada masalah?” aku memastikan. Berharap jawaban yang keluar adalah ‘ya’.

Dia terdiam. Jeda cukup lama. Hening.

“Bulan depan, aku tunangan sama dia, Na!” wajahnya tiba-tiba berubah senang. Bibirnya tersungging bahagia lebar-lebar.

Aku tercekat. Sesak. Tu-tunangan?

“Aku mencintainya, Na. Aku ingin hidup bersamanya sampai tua. It would be perfect, right?”

Aku mengangguk. Dalam hati menggeleng keras-keras. It would be worst, Dam. It would be worst.

Dia tak perlu tahu aku mencintainya. Kupikir, itu adalah pengorbanan dariku. Ternyata bukan. Itu kebodohan terbesarku. Penyesalanku yang sangat dalam. Lalu, sekarang aku bisa apa lagi? Semua hancur. Semua benar-benar terlambat.

Sangat amat terlambat.

“Wah, selamat ya, Damar. Aku turut bahagia!” Kupasang lagi senyum-terpaksa-yang-terlihat-tulus itu. Ini pengorbanan terakhirku, kupikir. Kukorbankan kebahagiaanku sendiri demi melihatmu bahagia, bersama yang lain.

If you wanna grow old with her,

I wanna die young.

 dsaaa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s