Secarik Surat Yang Ditulis Ibu

SAYA melihat ibu saya duduk di meja makan, tapi ia tidak sedang makan. Beliau sedang menulis, entah menulis apa. Saya menghampiri ibu saya yang mengenakan daster cokelat bunga-bunga, ketika saya datang sepulang sekolah, ibu saya mengusap wajahnya yang mengilap sebab air yang jatuh di pipinya–entah air apa, mungkin air wudhu, atau menangis?–saya tidak tahu.

“Eh, kamu sudah pulang, Nak.” sapanya sambil tersenyum. Saya mengangguk sambil mencium tangannya kemudian berlalu ke kamar, mengganti baju putih-merah dengan kaus bergambar tsubasa lalu pergi main bola dengan teman-teman di kampung saya.

Sebelum saya pergi ke lapangan bola di dekat jalan raya, saya mendengar gaduh dari dalam kamar ibu saya. Bunyi-bunyian yang asing di telinga saya. Bunyi-bunyian berdebum, entah apa, suara ayah saya yang sedang marah, dan ibu saya yang sedang merintih. Tetapi saya melewatinya begitu saja, seolah tak ada apa pun yang saya dengar. Entahlah, saya merasa takut dan juga bingung tak mengerti apa yang terjadi dalam ruangan itu. Ada perasaan ngeri dan juga khawatir pada suara ibu saya, tapi teman-teman yang sudah menunggu saya dengan sebelah kakinya menjejak di atas bola bulat lebih menarik perhatian saya, dan mampu membuat saya melupakan pikiran-pikiran buruk di kepala saya.

Setelah matahari tenggelam, dan di langit tidak ada lagi sinar kuning-keemasan, saya pulang ke rumah. Dari lapangan bola menuju rumah hanya sekitar lima sampai sepuluh menit bila tidak ada kereta yang lewat. Karena saya harus menyebrangi rel kereta untuk pulang ke rumah. Dari rumah menuju sekolah saya pun, saya biasa menyebrangi rel kereta. Tapi tidak perlu khawatir, menyebrangi rel di daerah sini cukup aman karena dekat dengan palang kereta, jadi bila ada kereta yang mau lewat kita bisa tahu dengan suara bising TENG NONG NENG NONG yang cukup membuat telinga saya sakit.

Sesampai di rumah, saya menjumpai ayah saya duduk di meja makan. Tapi tidak sedang makan. Sama seperti ibu, beliau sedang menulis–entah menulis apa saya tidak tahu. Adzan maghrib telah berkumandang, tetapi rumah ini malah tiada bunyi-bunyian apa pun termasuk suara ibu yang biasanya menyuruh saya dan ayah saya untuk sholat berjamaah. Tidak ada suara lantunan ayat suci dari bibir ibu. Ibu tidak ada di rumah.

“Ayah, Ibu mana?” tanya saya heran.

“Ibumu minggat!” jawab ayah kasar.

Tabiat ayah memang begitu, sering marah, sering berteriak pada ibu, pada saya, sering pulang larut malam dengan botol beling warna hijau di tangannya, dan sering nonkrong di saung Pak Ableh, ayah teman saya, bermain kartu. Namun walaupun ayah begitu, tetapi yang saya tahu ayah sangat mencintai ibu. Saya pernah melihat suatu kali ayah membawakan sekuntum mawar pada ibu saya setelah malam sebelumnya membentak ibu saya. Mungkin, itu cara ayah meminta maaf. Ayah juga pernah membelikan saya tempat pensil bergambar spiderman setelah mengunci saya di kamar mandi selama satu jam karena telah membuat ulah dengan Omar, teman sebaya saya yang tukang nangis.

Setelah mendengar ibu saya pergi dari rumah, saya menangis. Saya bingung, siapa lagi yang besok membangunkan saya untuk sekolah, siapa lagi yang membuatkan sarapan dan bekal, siapa lagi yang mengancingkan baju seragam saya, siapa lagi yang akan mengantarkan saya menyebrang rel kereta api. Semuanya ibu yang melakukan. Bila tidak ada ibu, saya tidak bisa sekolah, tidak bisa makan, tidak bisa apa-apa. Bila tidak ada ibu, tangan siapa lagi yang akan saya cium sepulang dari sekolah? Saya menangis.

“Hssshhh diam kamu, dasar anak goblok!” maki ayah saya. Tangis saya pun makin jadi.

“HEH goblok! Bisa diam, nggak?” ayah saya menoyor kepala saya, saya pun makin enggan berhenti menangis.

PRAAANGGG!

Ayah melempar gelas yang digenggamnya ke lantai, dekat dari tempat saya duduk dan menangis. Saya pun berhenti menangis karena takut terkena sasaran amarah ayah saya.

“Makanya, diam kamu! Besok biar ayah yang antarkan kamu sekolah. Sudah sana masuk ke kamar!” beliau mulai melunakkan suaranya. Saya mematuhi perintahnya. Masuk ke dalam kamar. Besok ayah yang akan mengantarkan saya ke sekolah, besok semoga ibu pulang, doa saya sebelum tidur.

SAYA seperti baru saja tidur sebentar, tetapi pintu kamar saya sudah digedor-gedor, dan saya terbangun. Ayah saya masuk ke dalam kamar saya, dan menarik tangan saya tergesa-gesa.

“Mandi, ganti bajunya. Kita mau ketemu ibu sebelum berangkat sekolah.” kata ayah saya. Mendengar itu, dada saya menghangat, bahagia. Saya akan bertemu ibu. Saya kangen ibu.

Sebelum menggemblok tas sekolah dan beranjak dari rumah, saya melihat meja makan dipenuhi botol-botol beling warna hijau, lalu saya melihat jam dinding, jarum pendeknya masih menunjukkan angka dua, sebelum adzan subuh. Pantas saja, ketika mandi tadi tubuh saya terasa menggigil. Ayah saya membuka pintu dan melenggang keluar tanpa menguncinya terlebih dulu. Ibu selalu mengunci pintu apabila hendak berpergian jauh, tapi ayah tidak. Lalu beliau membuka pagar dan menyelotnya hanya dengan gembok. Kemudian tangan saya digandeng. Seumur hidup, dari saya kecil hingga usia saya menginjak sembilan tahun ini, tidak pernah sekalipun ayah menggandeng tangan saya. Mungkin ini karena tidak ada lagi ibu di rumah.

“Nak, ketika ayah dipenjara dulu, ayah merindukan kebebasan, ibu dan kamu yang masih berumur tiga bulan.” katanya mulai bercerita. Sebelumnya saya tidak tahu kalau ayah pernah masuk penjara; tempat orang-orang jahat dihukum, itu kata guruku. Tetapi kemarin saya melihat Nek Ismih dibawa mobil polisi, kata Ambul, tetangga Nek Ismih, Beliau mau dimasukkan penjara karena mencuri lima mangga bu RT. Kata Ambul lagi, mangga yang dicuri Nek Ismih itu buat beliau makan lima hari ke depan. Kalau dipikir, kasihan juga Nek Ismih, beliau bukan orang jahat, beliau ramah dan suka membacakan dongeng kepada anak-anak kampung waktu umur saya lima tahun. Lagi pula, Nek Ismih kan sudah tua, masak polisi tega memenjarakan orang tua seringkih itu hanya karena lima buah mangga?

“Dan sekarang, Ayah merindukan kebebasan itu lagi.” lanjutnya sambil menyusuri jalan setapak menuju rel kereta api yang memisahkan antara perkampungan dan jalan raya.

“Tapi kan ayah udah nggak dipenjara.” kata saya bingung. Kini saya dan ayah berhenti di depan rel kereta, entah mengapa ayah tidak melanjutkan langkahnya menyebrangi rel, padahal tidak akan ada kereta yang lewat, palang pintu tidak berbunyi sama sekali. Ayah bergeming. Saya memberanikan menatap Ayah yang sedang memandangi rel, seperti menunggu sesuatu.

“Kamu tau kan, Du, kalau Ayah sayang Ibu? Ayah nggak jahat kan sama kamu, sama ibu?” Ayah menoleh kepada saya, bertanya pada saya. Saya bingung menjawabnya. Ayah memang tidak jahat, tetapi ayah sering marah. Apa marah termasuk perbuatan orang jahat? Kemudian saya hanya berani mengangguk, untuk menjawab pertanyaan Ayah. Dan beliau tersenyum. Senyum yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Seperti senyum ibu setelah berbuka puasa ketika bulan romadhon. Saat berbuka, ayah tidak tersenyum seperti itu, karena ayah puasanya setengah hari, sama seperti saya.

TENG-NONG-NENG-NONG- Tanda kereta mau lewat berbunyi nyaring, palang kereta api ditutup, padahal tidaka ada kendaraan sekali pun di belakang kayu penghalang itu. Pada jam-jam segini, sebelum adzan subuh, kereta masih banyak yang hilir-mudik melewati kampung saya, biasanya kereta dari Ibukota menuju Surabaya.

Ayah melangkah maju, padahal ada bunyi tanda kereta api mau melintas. Biasanya, saya berhenti, tetapi ayah malah berjalan mendekati rel kereta, menarik paksa tangan saya yang sedang ia gandeng. Ayah mencengkram tangan saya, saya tak kuasa menahannya. Suara nyaring itu masih memekakan telinga, langkah ayah berhenti di tengah perlintasan rel, padahal sebentar lagi kereta mau lewat.

“Ayah, kereta mau lewat. Ayo nyebrang!” kata saya panik. Ayah saya malah bergeming. Tangannya masih erat mencengkram pergelangan tangan saya.

Saya mulai merasakan pijakan kaki saya bergetar, suara kereta makin mendekat, disusul dengan klakson kereta api yang berbaur dengan bunyi TENGNONGNENGNONG, kemudian saya melihat cahaya kuning menyoroti tubuh saya dan ayah saya. Ayah saya menoleh, tersenyum. Senyum yang sama seperti sebelumnya. Senyum yang sekejap. Kemudian yang saya lihat hanya gelap. Tidak ada suara klakson kereta api, tidak ada suara tanda kereta mau lewat, tidak ada lampu kuning, tidak ada ayah saya, tidak ada ibu saya. Hanya ada gelap. Saya tak mampu melihat apa-apa lagi.


SOLO, KOMPAS.com — Aparat Polresta Solo menyelidiki dua jenazah yang ditemukan di jalur kereta api di Purwosari, Solo. Diduga, keduanya adalah jenazah ayah dan anak laki-lakinya.

Dua jenazah dalam kondisi mengenaskan itu ditemukan oleh warga di sekitar rel. Keduanya diduga tertabrak KA Gajayana yang melintas di kawasan itu pada pukul 02:59 WIB.

Dari hasil penyelidikan sementara, diketahui bahwa si ayah bernama Kirmin Waluyo (41) dan anak laki-lakinya itu bernama Pandu Nugroho (9). Sang ayah diduga mengajak putranya itu mengakhiri hidup karena masalah keluarga.

Kapolsek Laweyan Solo Kompol Zulkifli mengatakan, ayah dan putranya itu merupakan warga Ngabeyan, Kartasura, Jawa Tengah. Dalam surat wasiat yang ditemukan di lokasi, ada permintaan Kirmin untuk dimakamkan dalam satu liang dengan sang putra.

“Kami masih mendalami kasus tersebut, tapi dari penyelidikan sementara, korban mengajak anaknya untuk bunuh diri dengan cara menabrakkan diri ke kereta api. Sejauh ini masalah perceraian jadi sebabnya,” kata Dzulkifar, Sabtu (21/3/2015).

Selain surat wasiat, petugas juga mengamankan surat bertulis tangan, dan dompet berisi KTP. Saat ditemukan warga, Kirmin mengenakan kemeja biru kotak-kotak sedangkan Pandu mengenakan baju seragam sekolahnya. Kedua korban segera dibawa ke RSUD Muwardi untuk divisum.


Surat bertulis tangan tersebut diduga untuk istri Kirmin, Laksmi, seperti yang tertulis dalam tubuh surat  :

Kepada Laksmi,
Surat ini sebagai balasan untuk surat yang kamu selipkan di bawah bantal tidur kamu kemarin sore, sebelum kamu memutuskan pergi meninggalkan saya dan Pandu. Surat ini sebagai permintaan maaf saya yang terakhir dan juga pamitan. Maaf, saya tidak pernah menjadi suami yang baik dan ayah yang baik bagi kamu dan Pandu. Saya selalu kasar padamu, dan kepada anak kita satu-satunya, Pandu. Kita telah hidup bersama hampir sepuluh tahun, kamu sudah kenal tabiat saya, saya pun juga. Tetapi perkataanmu yang terakhir, mengatakan kalau kamu sudah tidak tahan dengan saya, dan memutuskan untuk pergi dari rumah yang kita bangun berdua, telah meruntuhkan hati saya yang kaubilang batu. Laksmi, mungkin kamu pikir saya tidak peduli dengan Pandu, dan dengan kamu, tapi percayalah, saya begini karena pusing mencari kerja sana-sini tidak diterima hanya karena alasan tato di pergelangan tangan saya. Saya marah, saya membentak, memukul kamu dan Pandu mungkin di luar kendali saya, kau tahu kalau saya kasar, saya sedang mabuk. Maaf, ini adalah kesalahan saya.
Bila kaumenemukan surat ini dari potongan tubuh saya, atau dari kemeja saya yang sudah terlepas, tolong maafkanlah saya. Hanya itu yang saya butuhkan. Dan, ya, saya mengajak Pandu bersama saya, karena kau pasti tahu, saya jarang menghabiskan waktu bersama putra semata wayang kita. Saya ingin membayarnya dengan cara ini. Kuburkan saya satu liang dengan Pandu, karena saya ingin menghabiskan waktu selamanya bersama Pandu, putra kita.

Laksmi, maafkan saya.
Saya masih mencintaimu.

Kirmin, 20 Maret 2015.

Depok, 29 Maret 2015

gambar dari weheartit.com

gambar dari weheartit.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s