Mencintai Tukang Tenung

bibirmu yang anggur merapal mantra
sementara aku tergugu diam menatap matamu yang jurang
perlahan, kau mulai rasuki aku rindu,
sepersekian detik kemudian kau buatku candu

kaureguk kewarasanku
kaurenggut akal sehatku
kausita waktuku
hanya untuk mengingatmu seharian suntuk

kedua matamu ialah hutan belantara
aku, penjelajah yang tersesat
tak bisa pergi ke manapun
lupa jalan pulang, dan kembali ke muasal

bibirmu adalah laut ganas
aku nelayan dungu yang patuh oleh badainya
tenggelam pun, aku tak apa
mati jadi santapan paus pun tak mengapa

senyummu sebercahaya matahari pagi
hangatnya selalu menenangkan relung jiwa
suaramu selembut gemerintik hujan kala subuh
sejuk, membuat gemetar di dadaku

aromamu memabukkan
mirip sebotol bir bagi tukang pemintal sedih di bar
tidak akan pernah cukup walau berkali-kali kuhidu
aromamu bagai mabuk yang candu

ciumanmu mematikan
seperti bisikan waktu di telingaku
yang berkata,
kau akan mati satu detik lagi

satu.

aku mati.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s