Seorang Perempuan Yang Gemar Membaca

seorang perempuan duduk di depan meja kayu,
di tangan kanan, kopi tenggelam pada genggaman,
meluruh jadi kegetiran-kegetiran ke dalam tubuhnya.

matanya berbinar-binar serupa lampu,
memantulkan bayangan kesedihan tak bernama.

matanya kaki penjelajah,
menyusuri tiap inci tubuh
aksara-aksara yang rapi bersanding di kertas kuning,
satu-satu ia gumamkan pada bibir yang senyumnya sering tersungging.

pernah suatu kali matanya berjalan,
mengelilingi rak-rak buku di depan raganya,
menelusuri tiap nama-nama buku, mencoba membaca dari hanya nama dan rupanya,
tapi ia tak pernah mampu membaca seberapa dalam kesedihan suatu kisah.

ia mengambilnya satu. nanar matanya berkaca-kaca,
seolah sedang bercakap-cakap dengan buku dalam bahasa kesunyian.
lalu ia tersenyum, seolah buku yang ia genggam mengatakan “aku adalah jodohmu. lelaki yang kau tunggu itu.”
dengan lagak romantis yang ia harap-harapkan sepanjang hidupnya.

manis. ia berdecak pelan.

dibawanya buku itu, digandengnya mesra,
semesra genggam tangannya pada kekasihnya dulu;
di tengah hiruk-pikuk orang-orang berdesakan dalam kereta api;
yang relnya mengingatkan pada percakapan-percakapan tengah malam.

ia jatuh cinta di dalam kereta api. di tengah kerumunan orang, ia menjatuhkan hati pada satu orang.
dua kalimat dari dalam buku yang ia baca.
ia termenung, mengingat sesuatu yang hidup dalam dadanya.
laki-laki itu. matanya sibuk menelusuri huruf-huruf dalam buku yang ia baca.
lagi, ia termenung, mengingat sesuatu yang lincah di pikirannya.

sebuah organ dalam dadanya meleleh,
buku itu telah terbakar oleh musim-musim
yang silih berganti sepanjang tahun.
tetapi orang yang tinggal dalam petakan itu,
belum jua berganti.

manis. bisiknya dalam hati.
buku itu telah terbakar habis, sisa abu.
yang tinggal hanya serpih-serpih mungil kesedihan,
yang ditiup, lalu hilang; terbang ke langit-langit yang menyimpan doa juga duka.

manis. ia berbisik lagi, air matanya menetes seperti hujan di pipi bumi.
sayang tak bisa dibaca ulang. bisiknya lagi..

pelan…pelan…

sumber : weheartit.com

sumber : weheartit.com

—-END

Depok, 30 April 2015

Menikahi Puisi

bocah laki-laki itu memandangi aksara yang rapi berbaris di hadapannya,
serupa seorang perempuan cantik tengah berdiri di sana,
menunggunya.
tapi seperti kuda kampung yang berharap ditunggangi arjuna,
atau sang dewi-dewi dari negeri dongeng,
kesia-siaan serupa musim yang selalu lebih panjang dari perkiraan.

ah, kau cantik sekali. seperti puteri raja. bocah itu berbisik mesra.
diciumnya bibir itu hingga sekonyong-konyong ranum bibirnya bermimpi.
kau lebih molek dari janda di kampung sebelah. ia berbisik lagi.
bibirnya tersenyum, seolah serbuk kopi pagi yang sering diseduhnya
melindap di bawah lidahnya.
kelu, matanya menatap nanar lekuk-lekuk cantik di atas secarik kertas,
mengingatkannya pada seorang perempuan;
yang ditunggunya.

ah, perempuan itu sama manisnya dengan kau, cantik. dia berbisik lagi,
tapi kali ini dengan udara di depannya.
dia ingat betapa perempuan itu datang dan pergi sesuka hati,
seperti puisi yang seringkali mampir ke kepalanya,
kemudian dilupakan sebab lupa ia tulis di atas kertas.
tapi perempuan itu kadangkala seperti mantra penebus dosa,
ia rapal berkali-kali, setiap hari karena takut neraka.
hingga dalam kepalanya, berkas-berkas ingatan tentang perempuan itu
serupa meja kerjanya yang seorang editor naskah.

senja. laut. sungai. gunung. bukit. laju kereta api. bunga mawar. wajah bulan.
perempuan itu ialah keindahan dari perpaduan antara alam dan keajaiban di luar dunia.
seperti surga, katanya. ah, ia sedang dimabuk asmara yang tak berkesudahan.
puisi-puisi berserakan di kepalanya serupa naskah-naskah yang harus ia baca berkali-kali.

“aku sudah punya tunangan, fred. aku akan menikah.”
perempuan itu menyayat dirinya dan bocah laki-laki itu lewat tuturnya;
laut yang selama ini menenggelamkan bocah laki-laki itu.
ia mengangguk. barangkali, bukan hanya kesia-siaan yang sepanjang musim,
tetapi kesedihannya, yang musim hujan pun kalah panjang.

suatu hari, ia menemukan lagi perempuannya.
dalam balutan luka dan kepedihan yang purba;
sesuatu yang takkan kembali, akan kembali dalam bentuk yang lain.
perempuan itu lagi, datang kepadanya suatu hari,
lewat aksara-aksara yang berbaris rapi di hadapannya.
dan ia meyakini dalam hati, jauh dalam palung hati;
aku akan menikahimu, cantik. bisiknya pilu.

source: weheartit.com

source: weheartit.com

—END
Depok, 28 April 2015

Sepasang Kaki Untuk Puisi

sungai itu membentang luas di matamu,
seorang nelayan melempar jala-jala di sana, menangkap kesedihan.
ladang terhampar luas di kepalamu,
lengang serupa ketenangan yang sunyi senyap tanpa sepi.
aku ialah pengembara tanpa alas kaki,
menjejakinya satu-satu, tiap jengkal, tiap incinya,
tanpa takut tergores paku atau bebatuan.

tatkala langkahku lengah oleh pencarian yang tak berujung,
jatuhlah aku di ladang luas perbukitan.
ladang itu seindah tuturmu. di pinggirnya terdapat pesisir yang memiliki laut
segemerlap binar matamu ketika bercerita.
tiba-tiba aku bukan lagi pengembara, tetapi pelaut.
menyelam tanpa satu perahu pun, tak akan membuatku mati terkapar digigit hiu, ditelan paus.
sebab aku akan tenggelam, mengunjungi dasar laut sembari tinggal dalam karang-karang.

“perayu, tukang bual.” katamu sewaktu-waktu saat kusamakan engkau dengan kilap berlian dalam lautan.
“aku bukan satu-satunya berlian.” ucapmu ketus.

duhai kanda,
dinda tak pandai merayu, dinda hanya bisa merangkai kata,
seperti kau merangkai rumus-rumus dalam tatapmu, dalam tuturmu,
untuk membuat perempuan sepertiku terpikat.

puisiku bukan lidah laki-laki, kanda.
puisiku bocah-bocah yang riang gembira bila berada di dekatmu,
serupa kembang-kembang penawar madu bagi para kupu-kupu,
kau dicintai.

maka seandainya, aku bisa
menciptakan satu tubuh puisi bersama kedua kaki,
aku akan melakukannya.
berbait-bait puisi kan kupahat pula sepasang kaki,
untuk mencarimu, untuk menemuimu,
dan menceritakan dirinya, dan diriku.

bila saja puisiku punya kaki,
berdiamlah saja dalam kamarmu sampai matahari menyapa
ombak-ombak di rambutmu,
dia akan mengetuk kamarmu pelan-pelan,
dan kau akan terkejut membukanya.

“hei, siapa kau?”
“aku puisi.”
“darimana datangnya?”
“aku di sini untuk menceritakan diriku, dan seorang perempuan,
yang telah membuatkanku sepasang kaki untuk mencintaimu.”

—-END

Depok, 28 April 2015

Nama Saya, ……

Di sini, saya duduk di muka pintu,
teras di hunian saya, memandang cakrawala merah senja
semembara letupan hasrat saya semasa muda dulu.
Angin semilir-milir menyentuh tubuh saya
yang tua merenta,
menemui ingatan-ingatan lalu,

meneteslah air mata saya,
melihat diri saya kini.

Dulu saya pejuang, orang-orang mengelu-elukan saya,
menyebut diri saya; perayaan demokrasi.
Itu dulu.
Air mata kembali menetes. Membasahi kerah kemeja saya, dari kepala yang merunduk, malu.

Semasa muda, saya hidup di jalan-jalan.
Mengerubungi rezim-rezim yang menyayat kebebasan,
mengupas wajah busuk yang disimpan rapi dalam lemari penguasa,
memangkas habis jeruji-jeruji yang memenjarakan kebebasan.

Seluruh manusia di negeri tercinta, larut dalam diri saya,
menyatu dengan bara api di dada saya; sisa semangat yang kini memadam.
Bersama-sama, bermesra-mesraan saling merayakan kebebasan;
adakah yang lebih bebas daripada burung di luar sangkar? Ada. Yaitu saya, dan orang-orang yang mencintai saya.

Mereka berteriak, mereka bercerita dengan suara lantang,
mirip pidato presiden pertama kita.
Yang membara, yang meletup-letup sebuah harapan
untuk Ibu tercinta.
Ah, saya rindu…

Itu dulu. Saya beri tahu kepadamu,
itu dulu, tak lebih dari kata masa lampau.

Lalu kemudian,

tahun-tahun seperti orang-orang di senin pagi,
begitu terburu-buru beranjak.
Bekeluarga dan melahirkan masa kini, yang begitu lebih buruk daripada penjara di rezim dahulu.
Ia begitu berani meremat wajah saya yang sudah keriput dan menua ini.

Angin lebih jahat daripada suara panik orang-orang ketika rumahnya dijarah,
dirampok, suaminya ditembak, istrinya diperkosa, atau anak-anaknya ditemukan mati di jalan-jalan.
Angin sekejam Ibu kota. Ia meniupkan desas-desus tentang saya.
Saya yang tak ada dosa, dibilang dosa.
Saya yang tak berduit, dibilang kayaraya.
Saya yang ingin merayakan, dibilang ingin membunuh.
Ah, sungguh aduhai masa kini dan angin yang bersekongkol, demi membuat nama saya
lebih buruk daripada tersangka korupsi.

“Jangan kau dekati dia, dia meresahkan warga!” padahal dulu warga yang mencintai saya.
“Jangan dekati dia, dia provokator!”
“Jangan-jangan dia membayar antek-antek untuk merusuh di jalan.”

Aduhai sungguh pandai masa kini dan angin itu,
membisikkan apa yang tidak saya lakukan, demi terjaganya wajah busuk
dalam lemari penguasa.
Membuat buta orang-orang yang dulu mengelukan saya dengan pemujaan yang tak berkesudahan.

“Teriakkan kebebasan!”
“Maju terus, jangan gentar!”
“Gas air mata, peluru-peluru karet tidak akan membunuhmu!”
“Senjata-senjata api tidak seapi semangatmu, Bung!”
Ah, itu kata-kata yang dulu menyerukan nama saya.
Kata-kata api yang mampu membakar tubuh saya di jalan-jalan.

Dulu. Dulu sekali.
Jauh dari hari ini.

Jauh sebelum saya dibenci.

Ah, sampai mana tadi?
Oh, ya. Saya belum memperkenalkan diri.
Nama saya, Demonstrasi.

—-Depok, 25 April 2015


gambar dari weheartit.com

gambar dari weheartit.com

Puisi ini untuk menggambarkan kondisi sekarang mengenai demonstrasi yang telah mengalami pergeseran makna. Demonstrasi bukan lagi sebagai toa untuk menggerakkan massa menjadi aktif dalam membongkar ketidak benaran dalam negeri ini, tetapi demonstrasi diartikan sebagai tindakan ricuh yang meresahkan masyarakat. Mengapa hal ini bisa terjadi? Tanyakan saja pada stasiun-stasiun Tv yang sering kau tonton itu.

Sebuah Kota Yang Merayakan Ulang Tahun

Hari ini, matahari menyapa saya lebih ramah,
angin semilir-milir ditiup bibir langit ke dada.
Ramai-ramai manusia itu mengerubungi, meneriaki nama saya,.
Mereka bilang, mereka cinta saya.
O, benarkah?

Usia saya masih belia, belum juga lulus ujian Nasional, ujian yang katanya layak untuk belia seperti saya.
Ya, layak memang kalau ingin menumbuhkan dan memekarkan kecurangan di negeri ini.
Tetapi biarlah, itu urusan Ibu saya, Ibu Pertiwi.

Usia saya masih enam belas, sungguh belia, bukan?
Tetapi saya sudah mengidap penyakit paru-paru. Jantung saya sudah rapuh,
serapuh hati perempuan yang baru saja patah hati tiga kali.
Bau tengik di tubuh saya juga sudah mulai membusuk ke akar tubuh saya.
Ah, sunguh kasihan masa belia saya.

Mereka bilang, mereka cinta saya.
Bapak tua yang sering tersenyum, memamerkan giginya yang aduhai rapi itu, membuatkan saya sebuah pesta;
Perayaan ulang tahun.
Ya, hari ini saya ulang tahun, tepat ke enam belas tahun.

Ramai-ramai manusia itu menebar konfeti, membunyikan gong-gong,
menari, menyanyi, goyang dangdut, mengobral diskon, melemparkan tahi.
Tahi-tahi dari binatang peliharaan mereka yang diimpor dari Jepang, dan Jerman, dan lain-lain itu
menghiasi wajah saya jadi memuakkan. Jadi tidak rupawan lagi.

Mereka bilang, selamat ulang tahun,
padahal diam-diam sedang membunuh saya perlahan.

Di perayaan itu, kau akan melihat wajah saya
penuh oleh manusia-manusia yang katanya mencintai saya,
dengan menghadiahi saya kotoran-kotoran hewan peliharaan,
yang diimpor dari Jepang dan Jerman itu.
Mereka akan memenuhi ujung rambut, wajah, tubuh, tangan, kaki, telapak tangan, telapak kaki dengan hewan-hewan itu, dengan sampah yang diremat dan dibuang ke wajah saya.
O, sungguh penghormatan yang mulia.
Dari bapak tua yang sering tersenyum dan suka pamer gigi di baliho-baliho.

Belum lagi, kadangkala mereka menyoreng wajah saya,
dengan konotasi negatif, membuat nama saya buruk di mata kawan-kawan saya, yang di matanya punya taman-taman indah. Dan mereka benar-benar dicintai.

Inilah perayaan ulang tahun saya.
Yang meriah oleh tahi-tahi jalanan, membuat paru-paru saya lebih sakit dari luka patah hati,
yang setelahnya membuat tubuh saya bau tengik.
Inilah perayaan ulang tahun saya, tanpa kue, tanpa lilin-lilin,
hanya ada asap, tumpukan hewan-hewan besi, dan umpatan-umpatan sepanjang tubuh saya.

Napas saya…..sesak!
Tubuh saya….ah, bau tengik!

Selamat ulang tahun, saya; sebuah kota yang merayakan ulang tahun.

—-Depok, 25 April 2015

Selamat UlangTahun ke-16, Depok.
Saya menyemogakan kamu menjadi kota yang tidak bau tengik asap kendaraan lagi, dan
semoga cepat sembuh paru-parunya.
–Siska, wargamu, yang tidak mencintaimu amat.

Pelaut Yang Tenggelam Di Bulan Oktober

Tidakkah kau dengar kabar duka,
dari seorang istri pelaut di pulau seberang, tentang suaminya
yang pernah menjanjikan berlian dan intan permata,
tapi yang kembali hanya jasad, dan sekoper luka dan kenangan
bukan intan permata dan berlian.

Kesedihan memang bisa merupa apa saja;
lirik lagu, puisi patah hati, lantunan doa, atau suara tik-tok pada jam dinding
tetapi sajak ini bukan perihal istri yang ditinggal mati suami yang dilahap samudera
pun bukan perihal kesedihan yang mempunyai banyak nama.

Ini perihal pelaut yang tenggelam di bulan oktober lalu.
pelaut perempuan yang tak gentar mengikuti arus takdir dan waktu.

begini ceritanya,

kuawali dengan, pada suatu hari, yang kucuri dari dongeng masa kecilku,
ada sebuah laut di sebuah pulau yang dihuni seorang perempuan sebatang kara.
Laut itu memiliki biru yang menggoda, seperti dosa-dosa di kelab malam, atau kemolekan tubuh perempuan.
Ia memiliki suara yang selembut gemericik angin atau sayup-sayup lantunan doa ibu.
Airnya sebening air mata yang pernah iakucurkan semasa kecil ketika ditinggal orangtua dan sanak-saudaranya pergi merantau ke langit via amukan samudera lain.

Ia begitu mencintai tanah itu, laut itu.
Baginya, tiada yang lebih dalam daripada cintanya kepada laut itu,
kadangkala, ombak-ombaknya seperti suara tawa adik-adiknya yang berubah jadi jerit tangis memerihkan batin,
kadangkala ombaknya seperti lolongan minta tolong.
Ia mencintai laut itu, karena masa lalunya terperangkap di dalam sana; beserta kesedihan-kesedihannya.

Suatu hari ia merantau ke tanah lain, saat dirinya begitu menginginkan langit,
tetapi laut itu membawanya ke daratan; daratan yang lebih luas dari kesedihannya.
Di daratan itu; banyak duka-duka yang tak pernah diceritakan ibunya, pun dosa-dosa yang dilarang kitabnya.
Ketika menjajakan kaki di sana, ia serupa menjajakan tubuhnya sendiri.

Cumbu rayu menjadi aroma yang khas di daratan barunya.
Ingar-bingar menjadi perayaan dosa yang patut dinikmati,
lalu kesepian akan terasing sendiri, menjadi desas-desus dusta.
Toko-toko menjual kesia-sia-an, kecuali toko buku.
Tetapi buku-buku itu tidak boleh dibaca, ia hanya boleh masuk ke dalam wadah plastik,
dijinjing, dijunjung, kemudian dilupakan tanpa dibaca lebih dulu.

Perlahan, waktu membawanya pada kerinduan,
pada sebuah laut yang suaranya mengingatkan pada lantunan doa
ibunya setelah sholat maghrib.
Di daratan baru, lantunan doa jarang terdengar kecuali adzan.
Ia lebih sering mendendangkan ingar dosa, daripada ayat kitab.

Saat itulah, seperti saat musafir yang kehausan, rindu air di bak mandinya;
ia menemukan laut.
Sesosok laki-laki yang mengingatkannya pada lantunan doa
ibunya setelah sholat maghrib.
Pada suara tawa adik-adiknya di pesisir pantai,
pada suara lolongan minta tolong.

Sosok laki-laki yang aduhai, matanya menggoda
serupa dosa-dosa di kelab malam, atau tubuh molek seorang perempuan.
Suaranya seindah gemericik angin pantai yang syahdu oleh cekikik-cekikik bahagia
orang berlibur yang lupa kesibukannya di perkotaan paling sibuk.
Parasnya, aduhai, sebening air matanya dahulu.

Saat ia berpapasan, pandangan matanya saling bertubrukan,
seperti badai laut di bulan Desember,
badai serupa datang lagi di bulan Oktober.
Perempuan itu berbisik, gemetar pada telinga udara;
“astaga, seluruh tubuhmu laut; di bagian mana pun itu, aku pasti tenggelam.”

Laki-laki itu tidak mendengar, ia terus berjalan, dan badai berhamburan di bulan oktober
di mata perempuan itu;
lamat-lamat, ia menjadi pelaut, yang tenggelam di bulan Oktober.

Depok, 23 April 2015

Memuisikan Lembar-lembar Yang Tak Selesai

Berbaris-baris puisi menjemukan ingatanku
tentang menunggu, perpisahan, dan kesedihan.
Apakah puisi selalu perihal kesedihan?
Apakah puisi selalu perihal kursi-kursi yang kosong di kedai kopi favoritmu?
Apakah aku serupa salah satu kursi di kedai itu yang merindui hangat rasanya didekap?
Yang telinga-telinganya lapar akan percakapan sepasang kekasih yang mendiskusikan politik atau hal-hal remeh-temeh.

Setelah hari, dan jam itu,
Kepalaku sibuk membacakan satu-satu puisi kesedihan
Air di mataku menolak kering saat duka menawarinya senyum
Sayang, puisi bukan bedak pelipur lara. Puisi juga bukan badut-badut yang sering menari di pertigaan jalan itu.
Demi membuat mereka, yang lelah seharian suntuk mengingat tenggat waktu, tersenyum walaupun hanya sepotongan kuku.

Setelah hari, dan jam itu,
Malam menjadi isyarat kesedihan bagi siapa saja yang nasibnya sama dengan perempuan yang mencintai yang tidak,
Bulan bahkan hanya menjadi bualan malam paling memuakkan sesemesta raya.
Aih, aduhai, senyummu sebersinar bulan.
Tidakkah bulan mual mendengar kata-kata bualan itu? Ia, sambil berbisik akan berkata, “aku tidak sebercahaya seperti bualanmu. berhentilah menaruh namaku sebagai bualan!”

Seandainya kepalaku punya tubuh; mata, hidung, bibir, telinga, tangan, kaki, rambut-rambut,
ia akan menjelma sebagai penyair, atau pemabuk
yang menukar malam dengan kesedihan-kesedihannya.
Barangkali baginya, malam ialah puisi-puisi yang tak selesai,
karena tak ada hitam yang cukup panjang untuknya mengeja duka-duka.

Bulan, bintang, dan kabut-kabut tipis itu ia bayangkan sambil menguar sungai di sudut-sudut matanya;
Bulan itu matamu yang terang benderang, membuat siapa saja jatuh cinta. Padahal, ia sendiri benci cahaya.
Bintang itu mengerjap-ngerjapkan sinar genit, seolah ia tahu kecantikannya bisa melumpuhkan siapa saja.
Dan kabut-kabut tipis itu serupa pertanyaan-pertanyaan yang beranak-pinak di dusun seorang dukun kampung.
Ah, malam dan hari itu ialah puisi yang tak selesai.

Serupa lembar-lembar kisah kita,
yang dibiarkan tuhan bersarang di lemari bukunya
ketika ia sedang malas menulis cerita tentang malam, atau kursi-kursi kosong di kedai favoritmu.
lembar-lembar itu menumpuk di pojok yang luput dari ingatannya,
sebagai puisi-puisi yang tak selesai.

Entah, sampai kapan.

Depok, 23 April 2015