Menyusuri Masa Lampau

kakiku menyusuri jalan-jalan,
lampu-lampu jalan berdiri sejajar dengan bulan,
lampu-lampu kendaraan seperti mata nyalang seekor kucing penanda kematian,

langit membisikkan sesuatu tentangmu ke dalam liang telinga perempuan,
ia bilang, kau bukan langit malam, kau tak berhak mencintai ribuan bintang dan satu bulan dalam satu naungan waktu yang sama,
dalam gelap yang sama.

perempuan itu bilang, langit malam itu bukan kau,
kau lebih indah dari langit malam. katanya, keindahanmu berasal dari kesedihan-kesedihan mata seorang perempuan yang sering hujan di malam hari. katanya, kau ialah lautan puisi patah hati yang perempuan itu tulis di sepanjang sunyi menyiksa kepala dan hidupnya.

kakiku menyusuri jalan-jalan bernama kenangan,
di sana ada kita,
di sana ada kau dan dia,
di sana ada perempuan yang sedih itu.

mataku menyusuri lekuk tubuh yang pernah kaubagi dikala gelap,
hitam yang selau kurindukan desis kenikmatannya,
hitam yang menagihkan, hitam yang berwarna.

kemudian tak lagi kutemukan lekuk tubuhmu itu,
entah mungkin habis ditelan cahaya; remang bulan yang cemburu.
atau mungkin hangus diberangus pelukan-pelukan singkat kita di malam itu;
malam ketika kau bilang hatimu langit malam; dan dia adalah bintangnya.

lalu aku bulan; yang menyepi sendiri di sudutmu.
yang ditatap penuh kesedihan orang-orang yang memandangnya,
bulan pucat sepasi kulit wajah orang mati.
dia bintang, dia bintang, dan banyak lagi yang dia bintang.
aku bulan;
yang akan terus mencintaimu di sepanjang gelap menyimpan lekuk-lekuk tubuhmu; keindahan yang dirahasiakan malam.

kini, kau bagai gelap yang dilahap cahaya; menghilang membawa bintang-bintang, dan aku.

lalu kakiku menyusuri jalan-jalan,
lampu-lampu jalan masih berdiri sejajar dengan bulan,
lampu-lampu kendaraan masih seperti mata nyalang seekor kucing penanda kematian,

kucari wajahmu di bawah lampu-lampu jalan,
kucari wajahmu di tengah lampu-lampu kendaraan,
tak ada kau, tak ada.

kini baru kuketahui, kau telah mencintai matahari, bukan lagi bintang, bukan lagi bintang, bukan lagi ribuan bintang lainnya, bukan lagi aku.

diam-diam kakiku, mataku, tanganku, seluruh pancainderaku, menyusuri jalan-jalan,
mencari-cari gelap dan lekuk-lekuk tubuhmu,
mencari-cari waktu yang telah hilang dicuri cahaya baru,

terseok-seok langkahku,
menjadi bulan pucat yang pasi, yang sinarnya masih menyusuri masa lampau,
menjadi perempuan yang sedih itu.

Depok, 11 April 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s