Senyum Yang Tenggelam Di Cangkir Kopi Pagimu

kau diam, burung-burung berhenti bercericit,
matahari muram, menyimpan durja dalam tubuhnya; api-api cemburu,
embun enggan membasahi aspal yang berlumur air mata langit sisa semalam; sisa-sisa kesedihan,
seolah waktu berhenti, membekukan segala ingatan pada udara pagi di kotamu; gigil yang enggan disembuhkan.

kautenggak cairan kental hitam itu ke dalam mulutmu,
seolah pasrah kepada keniscayaan hidup, bahwa tak ada hidup yang hanya bahagia,
bahwa tak ada kopi yang tak pahit.
katamu, “kenikmatan hidup itu berasal dari perpaduan antara pahit dan manis, seperti kopi.”
kau tersenyum, padahal aku tahu, ada kopi yang kaulindapkan di bawah lidahmu;
berpura-pura bahagia ialah cara menyimpan sedih paling rahasia, pikirku.

kopi itu sudah habis di pagi itu juga; pagi tatkala wajahmu ganjil oleh suatu yang hilang.
tetapi bekas cangkirnya tidak sekosong yang aku-dan-kaupikirkan.
cangkir itu masih penuh oleh hitam; seperti dosa yang tinggal dalam dada manusia.
cangkir itu hitam meski kosong, meski warna cangkir bukan hitam.

selang, dua-sampai-tiga hari, kau tidak minum kopi,
tapi cangkir kopi itu masih hitam seperti terakhir kau meminumnya,
seperti mata seorang buta yang matanya dicungkil oleh pendosa,
dan wajahmu masih ganjil oleh suatu yang hilang.

“hitam itu warna kesedihan, amira.” katamu, masih dengan wajah yang ganjil itu.
aku terpekur, aku kehilangan.

baru-baru ini aku tahu, hitam di cangkir kopi itu ialah kesedihanmu.
suatu yang hilang itu senyummu;
senyum yang tenggelam di cangkir kopi pagimu kala itu.

Depok, 11 April 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s