Pelaut Yang Tenggelam Di Bulan Oktober

Tidakkah kau dengar kabar duka,
dari seorang istri pelaut di pulau seberang, tentang suaminya
yang pernah menjanjikan berlian dan intan permata,
tapi yang kembali hanya jasad, dan sekoper luka dan kenangan
bukan intan permata dan berlian.

Kesedihan memang bisa merupa apa saja;
lirik lagu, puisi patah hati, lantunan doa, atau suara tik-tok pada jam dinding
tetapi sajak ini bukan perihal istri yang ditinggal mati suami yang dilahap samudera
pun bukan perihal kesedihan yang mempunyai banyak nama.

Ini perihal pelaut yang tenggelam di bulan oktober lalu.
pelaut perempuan yang tak gentar mengikuti arus takdir dan waktu.

begini ceritanya,

kuawali dengan, pada suatu hari, yang kucuri dari dongeng masa kecilku,
ada sebuah laut di sebuah pulau yang dihuni seorang perempuan sebatang kara.
Laut itu memiliki biru yang menggoda, seperti dosa-dosa di kelab malam, atau kemolekan tubuh perempuan.
Ia memiliki suara yang selembut gemericik angin atau sayup-sayup lantunan doa ibu.
Airnya sebening air mata yang pernah iakucurkan semasa kecil ketika ditinggal orangtua dan sanak-saudaranya pergi merantau ke langit via amukan samudera lain.

Ia begitu mencintai tanah itu, laut itu.
Baginya, tiada yang lebih dalam daripada cintanya kepada laut itu,
kadangkala, ombak-ombaknya seperti suara tawa adik-adiknya yang berubah jadi jerit tangis memerihkan batin,
kadangkala ombaknya seperti lolongan minta tolong.
Ia mencintai laut itu, karena masa lalunya terperangkap di dalam sana; beserta kesedihan-kesedihannya.

Suatu hari ia merantau ke tanah lain, saat dirinya begitu menginginkan langit,
tetapi laut itu membawanya ke daratan; daratan yang lebih luas dari kesedihannya.
Di daratan itu; banyak duka-duka yang tak pernah diceritakan ibunya, pun dosa-dosa yang dilarang kitabnya.
Ketika menjajakan kaki di sana, ia serupa menjajakan tubuhnya sendiri.

Cumbu rayu menjadi aroma yang khas di daratan barunya.
Ingar-bingar menjadi perayaan dosa yang patut dinikmati,
lalu kesepian akan terasing sendiri, menjadi desas-desus dusta.
Toko-toko menjual kesia-sia-an, kecuali toko buku.
Tetapi buku-buku itu tidak boleh dibaca, ia hanya boleh masuk ke dalam wadah plastik,
dijinjing, dijunjung, kemudian dilupakan tanpa dibaca lebih dulu.

Perlahan, waktu membawanya pada kerinduan,
pada sebuah laut yang suaranya mengingatkan pada lantunan doa
ibunya setelah sholat maghrib.
Di daratan baru, lantunan doa jarang terdengar kecuali adzan.
Ia lebih sering mendendangkan ingar dosa, daripada ayat kitab.

Saat itulah, seperti saat musafir yang kehausan, rindu air di bak mandinya;
ia menemukan laut.
Sesosok laki-laki yang mengingatkannya pada lantunan doa
ibunya setelah sholat maghrib.
Pada suara tawa adik-adiknya di pesisir pantai,
pada suara lolongan minta tolong.

Sosok laki-laki yang aduhai, matanya menggoda
serupa dosa-dosa di kelab malam, atau tubuh molek seorang perempuan.
Suaranya seindah gemericik angin pantai yang syahdu oleh cekikik-cekikik bahagia
orang berlibur yang lupa kesibukannya di perkotaan paling sibuk.
Parasnya, aduhai, sebening air matanya dahulu.

Saat ia berpapasan, pandangan matanya saling bertubrukan,
seperti badai laut di bulan Desember,
badai serupa datang lagi di bulan Oktober.
Perempuan itu berbisik, gemetar pada telinga udara;
“astaga, seluruh tubuhmu laut; di bagian mana pun itu, aku pasti tenggelam.”

Laki-laki itu tidak mendengar, ia terus berjalan, dan badai berhamburan di bulan oktober
di mata perempuan itu;
lamat-lamat, ia menjadi pelaut, yang tenggelam di bulan Oktober.

Depok, 23 April 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s