Sebuah Kota Yang Merayakan Ulang Tahun

Hari ini, matahari menyapa saya lebih ramah,
angin semilir-milir ditiup bibir langit ke dada.
Ramai-ramai manusia itu mengerubungi, meneriaki nama saya,.
Mereka bilang, mereka cinta saya.
O, benarkah?

Usia saya masih belia, belum juga lulus ujian Nasional, ujian yang katanya layak untuk belia seperti saya.
Ya, layak memang kalau ingin menumbuhkan dan memekarkan kecurangan di negeri ini.
Tetapi biarlah, itu urusan Ibu saya, Ibu Pertiwi.

Usia saya masih enam belas, sungguh belia, bukan?
Tetapi saya sudah mengidap penyakit paru-paru. Jantung saya sudah rapuh,
serapuh hati perempuan yang baru saja patah hati tiga kali.
Bau tengik di tubuh saya juga sudah mulai membusuk ke akar tubuh saya.
Ah, sunguh kasihan masa belia saya.

Mereka bilang, mereka cinta saya.
Bapak tua yang sering tersenyum, memamerkan giginya yang aduhai rapi itu, membuatkan saya sebuah pesta;
Perayaan ulang tahun.
Ya, hari ini saya ulang tahun, tepat ke enam belas tahun.

Ramai-ramai manusia itu menebar konfeti, membunyikan gong-gong,
menari, menyanyi, goyang dangdut, mengobral diskon, melemparkan tahi.
Tahi-tahi dari binatang peliharaan mereka yang diimpor dari Jepang, dan Jerman, dan lain-lain itu
menghiasi wajah saya jadi memuakkan. Jadi tidak rupawan lagi.

Mereka bilang, selamat ulang tahun,
padahal diam-diam sedang membunuh saya perlahan.

Di perayaan itu, kau akan melihat wajah saya
penuh oleh manusia-manusia yang katanya mencintai saya,
dengan menghadiahi saya kotoran-kotoran hewan peliharaan,
yang diimpor dari Jepang dan Jerman itu.
Mereka akan memenuhi ujung rambut, wajah, tubuh, tangan, kaki, telapak tangan, telapak kaki dengan hewan-hewan itu, dengan sampah yang diremat dan dibuang ke wajah saya.
O, sungguh penghormatan yang mulia.
Dari bapak tua yang sering tersenyum dan suka pamer gigi di baliho-baliho.

Belum lagi, kadangkala mereka menyoreng wajah saya,
dengan konotasi negatif, membuat nama saya buruk di mata kawan-kawan saya, yang di matanya punya taman-taman indah. Dan mereka benar-benar dicintai.

Inilah perayaan ulang tahun saya.
Yang meriah oleh tahi-tahi jalanan, membuat paru-paru saya lebih sakit dari luka patah hati,
yang setelahnya membuat tubuh saya bau tengik.
Inilah perayaan ulang tahun saya, tanpa kue, tanpa lilin-lilin,
hanya ada asap, tumpukan hewan-hewan besi, dan umpatan-umpatan sepanjang tubuh saya.

Napas saya…..sesak!
Tubuh saya….ah, bau tengik!

Selamat ulang tahun, saya; sebuah kota yang merayakan ulang tahun.

—-Depok, 25 April 2015

Selamat UlangTahun ke-16, Depok.
Saya menyemogakan kamu menjadi kota yang tidak bau tengik asap kendaraan lagi, dan
semoga cepat sembuh paru-parunya.
–Siska, wargamu, yang tidak mencintaimu amat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s